Ini yang Penting Saat Hendak Menulis Buku

BambangTrim.com | Menulis sebuah buku (yang benar-benar buku) memang tidak sama dengan karya tulis lainnya. Saya mengibaratkan menulis buku memerlukan napas panjang dan track-nya juga panjang ibarat lari maraton. Persiapan pun perlu dimatangkan.

Dalam proses menulis buku, persiapan menjadi langkah pertama dan utama yang disebut prewriting atau pra-menulis. Pada langkah ini, seorang penulis harus menyiapkan bahan baku tulisan secara lengkap dan relevan.

Bagaimana mengetahui apa saja bahan-bahan yang diperlukan sekaligus relevan? Sebelum mengumpulkan bahan, penulis harus menentukan dulu topik buku dan pembaca sasaran buku yang hendak ditujunya. Penentuan topik berasal dari penemuan dan pengembangan ide yang akan ditulis.

Menurut saya, ide adalah penemuan bukan pencarian. Setiap hari sebenarnya kita dihujani begitu banyak ide, tetapi yang dapat ditemukan oleh pikiran dan perasaan kita mungkin hanya satu atau mungkin tidak ada sama sekali. Ide itu menyisip di dalam aktivitas kehidupan kita. Ada suatu stimulus yang membuat seseorang akhirnya bersua dengan ide.

Karena itu, tidak usah heran mereka yang “radar” dirinya kuat untuk menangkap sinyal ide dari kehidupan, pasti mampu menghasilkan tulisan apa pun setiap hari. Stimulus itu dapat berasal dari tiga kegiatan, yaitu banyak membaca, banyak berjalan, dan banyak bersilaturahim.

Secara khusus untuk menulis buku, seseorang harus mengalokasikan waktu yang khusus dan fokus. Tidak ada ukuran standar berapa lama seseorang mampu menulis buku karena sangat bergantung dengan ketersediaan bahan dan komitmen serta konsistensi si penulis buku itu sendiri.

Ini yang saya sebutkan sebagai napas panjang. Ada banyak kegiatan pendahuluan yang harus dilakukannya sebelum menulis, seperti membaca bahan-bahan sumber penulisan; mewancarai narasumber; meriset; mendiskusikan topik dan materi dengan orang lain; hingga membuat kerangka penulisan.

Karena itu, mereka yang hendak menulis buku, saya anjurkan untuk tidak langsung melakukan lompatan. Sebaiknya, mulailah dari tulisan-tulisan ringan dan pendek dahulu, baru kemudian masuk ke tulisan-tulisan menengah. Dengan demikian, ada proses yang kita lalui dalam mengasah kemampuan diri untuk menulis buku yang lebih kompleks.

Ingat, menulis buku itu seperti lari maraton; perlu napas panjang dan persiapan yang matang untuk sampai ke garis finish.Berlatihlah dari yang ringan-ringan hingga berangsur-angsur berat.[]

Nulis Buku Bareng Saya, Mau?

BambangTrim.com | Masih bermimpi untuk menulis buku? Ya, jangan terus mimpi, harus ada aksi yang menimbulkan reaksi …. Hehehe emangnya fisika.

Meminjam istilah Dan Poynter yang dijuluki god father untuk ribuan buku di Amerika, saya yakin “Ada buku di dalam diri Anda ….” Maka keluarkanlah “buku” itu dalam wujud nyatanya.

Tapi, memang jika Anda belum pernah sama sekali menulis buku, pastilah gamang. Begitu juga dengan saya saat mulai menulis pada tahun 1994. Namun, dengan pelatihan terus-menerus dan tentunya pantang menyerah, saya berhasil menuntaskan sebuah buku. Lalu, berlanjut hingga kini sampai lebih dari 160 buku.

Saya tahun 1994 sudah mulai menulis buku pelajaran.

Apa yang tidak boleh dilupakan, ternyata kita memerlukan guru/pendamping untuk berlatih menulis buku. Belajar secara autodidak akan lama dan banyak bertemu pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak terjawab. Saya sendiri beruntung karena tahun 1991 sudah mengenyam pendidikan ilmu penerbitan (publishing science) di Unpad sekaligus mendalami ilmu editing. Jadi, banyak sekali yang telah menjadi guru/dosen saya.

Ini beberapa deretan karya saya yang akan terbit tentang penerbitan buku.

Nah, paling tidak mari samakan dulu persepi kita tentang menulis buku. Saya siap berbagi kepada Anda di mana pun Anda berada melalui saluran Grup Facebook dan juga interaksi via Grup WA.

Institut Penulis Indonesia akan menggelar kursus menulis murmer hanya seharga Rp99 ribu untuk tiga kali pertemuan via grup FB. Mau? Mau dong, masa nggak ….

Ini dia infonya

KELAS LANGKA #NulisBuku99

Ingin mengetahui rahasia-rahasia menulis buku langsung dari orang yang berkecimpung puluhan tahun di dunia buku? Ia telah melakoni diri sebagai penulis buku, editor buku, direktur beberapa penerbit ternama, dan juga konsultan penerbitan. Bambang Trim akan memandu Anda dalam kursus daring murmer hanya seharga Rp99 ribu (sembilan puluh sembilan ribu rupiah). Anda dapat semuanya: rahasia, bahan ajar dalam PDF, kiat-kiat menggagas dan menulis buku, dan tentu saja konsultasi gratis.

KAPAN? 24 s.d. 26 Juli mulai pukul 19.30-21.00. Di Grup Tertutup FB: NULIS BUKU 99

Daftarkan diri Anda untuk dapat bergabung di Grup Facebook tertutup #NulisBuku99. Transfer biaya ke BCA Norek 2821405361 a.n. Bambang Trimansyah. SMS/WA bukti transfer ke 0815-1989-8054 (Sofa)/08151400129 (Bambang Trim).

Sampai bertemu di kelas yang akan menginspirasi anda untuk menulis buku tanpa ragu.

 

Literasi Memanjat Pohon

0

Bambangtrim.com | Sebuah video yang diagihkan berulang-ulang tentang pendidikan di Finlandia memperlihatkan rahasia keunggulan mereka. Rahasia itu terletak pada kualitas guru-guru yang mengajar karena menjadi guru di Finlandia lebih sulit daripada menjadi dokter atau insinyur. Finlandia tidak memberlakukan kurikulum sebagaimana pendidikan kita di sini, tetapi guru-guru itu menjadi kurikulum itu sendiri.

Rahasia yang selalu digadang-gadangkan tentang pendidikan di Finlandia adalah tiadanya PR dan ujian nasional serta begitu banyak waktu tersedia bagi anak-anak untuk beristirahat dan mengerjakan sesuatu di luar kegiatan belajar. Anak-anak itu bebas memilih apa pun, termasuk memanjat pohon.

Tentang memanjat pohon ini, saya jadi teringat masa kecil dahulu yang diisi dengan kegiatan memanjat aneka pohon. Kebetulan pada masa itu, ayah saya memiliki ladang yang sangat luas dengan aneka tanaman tumbuh subur di atasnya. Hampir setiap minggu saya diajak ke ladang dan bertualang dari satu pohon ke pohon lainnya.

Pohon favorit saya untuk dipanjat adalah pohon jambu air. Setiap ke ladang, saya selalu memanjat pohon itu kadang hingga pucuk yang teratas. Begitu sulitnya kali pertama mencoba memanjat pohon, tetapi saking seringnya maka saya pun terlatih. Tantangan makin menjadi-jadi ketika pohon-pohon itu berbuah.

Memanjat pohon adalah literasi dasar yang bukan saja melatih motorik kasar, melainkan juga merangsang pancaindra anak untuk melakukan apa yang disebut pengamatan (perceiving). Dari situ anak dapat mengenali “keajaiban” sebuah pohon, lengkap dengan batang, dahan, ranting, dedaunan, bunga, dan buah-buahan.

Hampir semua saudara kandung saya menikmati “literasi memanjat pohon” ini. Bahkan, saya masih ingat kakak perempuan nomor tiga saya pernah terjatuh dari pohon cherry yang tumbuh di halaman rumah hingga tak sadarkan diri. Sejak ia jatuh, pohon itu pun ditebang.

Di rumah kami sendiri waktu itu di kota Tebingtinggi Deli masih ada beberapa pohon lagi yang tumbuh seperti pohon jambu klutuk (batu) dan pohon buah nona. Kedua pohon itu juga tidak luput dari aksi memanjat saya. Herannya pohon-pohon itu selalu berbuah lebat tanpa henti.

Bayangkan sekarang, betapa anak-anak kita hampir tidak lagi memiliki kesempatan itu. Kesempatan memanjat pohon. Bahkan, jika pun ada pohon di halaman sekolah atau halaman rumah, orangtua ataupun guru cenderung melarang anak-anak itu memanjat. Boleh jadi karena dianggap berbahaya.

Namun, tentu tidak bagi guru-guru di Finlandia. Anak-anak diberi kebebasan belajar dari alam dan lingkungannya. Pembelajaran itulah yang kini terasa “mahal” di negeri kaya bernama Indonesia, terutama di kota-kota besarnya. Alam diubah menjadi objek wisata yang dibisniskan seperti wisata memetik buah yang harus membayar. Anak-anak pun makin jauh dengan alam dan tidak mengenalinya, terutama di kota-kota besar.

Jadi, betapa indah dan bahagianya masa kecil saya dulu dan mungkin Anda juga dengan kemewahan bermain yaitu memanjat pohon dan memetik buahnya tanpa membayar dan tanpa ada larangan. Pohon tumbuh di mana-mana untuk dikenali dan diakrabi. Karena itu, saya rindu dengan ladang dan ingin lagi memilikinya untuk anak-anak saya.[]

 

Ide dan Karunia Tiba-tiba

Bambangtrim.com | “Sering kali karunia Ilahi datang tiba-tiba agar para hamba tidak mengklaim bahwa itu muncul karena adanya persiapan mereka.” Tutur bijak dari ulama besar, Ibnu ‘Athaillah mengingatkan saya pada ide/gagasan sebagai karunia.

Seseorang yang ditimpa musibah, apakah itu dalam bentuk kegagalan bisnis ataupun kegagalan lainnya, semestinya ia tetap bersyukur. Mengapa? Karena Allah belum mencabut pikiran dan perasaan (akal budi) dari dirinya sehingga ia masih mampu menemukan gagasan.

Gagasan apa? Paling tidak gagasan untuk bertahan dari gempuran masalah. Gagasan untuk bangkit dari keterpurukan.

Sifat ide/gagasan memang selalu datang tiba-tiba. Boleh dikata seperti jelangkung yang datang tidak dundang, pulang tidak diantar. Ada juga memang ide yang coba kita temukan dengan merenung, atau bahkan melamun. Tiba-tiba lalu kita mendapatkannya. Eureka! Alhamdulillah!

Setiap ide berbuah rencana. Setiap rencana berbuah keputusan. Lagi-lagi sangat mungkin Allah menguji kita bahwa semua ide, rencana, dan keputusan yang kita buat ternyata tidak seperti yang diharapkan. Namun, tidak jarang juga Allah menghibur kita dan memberi pesan–menurut Ibnu ‘Athaillah–dengan nikmat tiba-tiba. Tanpa kita pikirkan dari arah yang tiada disangka-sangka.

Allah ingin menunjukkan semua ide/gagasan dan rencana itu semata-mata berjalan atas kuasa-Nya. Manusia boleh berencana, tetapi takdir Allah juga yang menentukan. Sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Sesuatu yang buruk menurut kita, belum tentu buruk menurut Allah.

Karena itu, manusia memerlukan petunjuk, termasuk dalam ikhtiar menulis. Inti menulis karena kita ingin berbagi, terutama terkait perubahan dari diri seseorang menjadi lebih baik. Ide perubahan inilah yang mestinya terbimbing agar kita tidak menuliskan sesuatu yang keliru.

Lalu, gagasan menulis untuk perubahan terkadang kita klaim sebagai kehebatan pikiran kita. Alhasil, kita lupa dengan yang Maha Melecutkan gagasan ke benak kita. Kita menjadi jemawa sebagai penulis.

Namun, kasih sayang Allah tanpa batas. Kita diingatkan-Nya. Dilecutkan-Nya ide lain entah dari mana. Ide yang benar-benar luar biasa. Kita terpengarah bahwa kita yang jemawa ini sesungguhnya tidak ada apa-apanya.

DIA yang Mahahebat memberimu ingatan untuk bermunajat.
Titipan-Nya berupa nikmat yang mungkin saja membuat hatimu terperanjat …. Kau menunggu (rezekimu) di sini, Dia memberimu di sana. Jangan berputus asa dan jangan pula jemawa.[]

Sejenak Diam dari Hiruk Pikuk Medsos

Bambangtrim.com | Jumat/7 April 2017, saya menayangkan sebuah haiku yang saya beri tagar #haikuterakhir pada linimasa FB saya. Itu adalah pertanda pembaruan status saya terakhir sebelum akhirnya saya memutuskan deactiviated dari FB. Saya masih memilih temporary yang artinya pada suatu saat saya akan kembali ke wajah FB saya.

Ada apa? Tidak ada apa-apa. Kejenuhan juga melanda, tetapi satu hal bahwa saya ingin mencoba menjauh sejenak dari medsos. Bersamaan dengan FB, saya juga merontokkan aplikasi Instagram di ponsel, yang tersisa tinggal Twitter–itu pun jarang saya buka, apalagi untuk berkicau.

FB memang lebih berkesan karena interaksi yang panjang dengan tulisan. Setiap hari kadang waktu saya juga tercuri hanya untuk melihat linimasa orang-orang yang berteman dengan saya. Beberapanya cukup mengusik untuk dikomentari dan beberapanya lagi hanya sebatas menyenangkan.

FB memang telah berjasa pula mempertemukan saya dengan banyak orang, bahkan teman-teman lama yang tidak pernah saya ingat lagi. Ada banyak kisah di FB untuk bahan introspeksi diri.

Promosi produk dan jasa, membangga-banggakan diri atau keluarga, berdebat, berkenalan, bahkan bermusuhan, itulah tabiat-tabiat yang dapat terjadi pada saya di FB. Karena itu, beberapa kali terbetik dalam diri apakah saya dapat hidup tanpa FB? Sepertinya dapat. Saya coba dulu.

Beberapa hari, minggu, bahkan mungkin beberapa bulan ke depan saya ingin berfokus menulis dan menyiapkan sesuatu untuk diri saya dan keluarga saya. Karena itu, saya pun berpamitan tanpa pamitan dari FB. Ada teman yang mengontak dan merasa ia diblokir oleh saya. Saya jelaskan saya deactivated sehingga akun saya tidak lagi ada di FB, yang ditemukan hanya jejak pertemanan.

Bagaimana dengan tulisan-tulisan saya dan banyak status penting yang telah saya torehkan? Saya tidak terlalu merisaukan itu jika memang nantinya hilang dan saya harus memulai dari awal kembali. Toh tidak ada yang abadi di dalam hidup ini, kecuali pertemanan kita yang sejati. Alhamdulillah, Allah masih memberi satu nikmat yang senantiasa saya syukuri yaitu nikmat akal budi.

Sejenak berdiam sementara waktu, itu yang saya pilih. Bersendiri lagi menjejaki makna untuk mengubah diri. Entah esok saya muncul lagi atau bulan depan …. Hanya Allah yang Mahatahu. Kita manusia hanya dapat menggurat rencana dan renjana.[]

Yang Terluka Membaca dan Menulislah

Bambangtrim.com | Biasnya memang tak mampu kita menghindari luka batin. Namun, luka belum tentu menjadi derita. Semua bergantung pada sudut pandang dan tata benak kita. Luka batin juga mengandung skala sampai pada titik mana ia dapat disembuhkan atau malah berbuah depresi.

Banyak luka batin di dalam hidup karena sejatinya Allah memberi kita peluang untuk berpikir tentang siapa diri kita dan untuk apa kita hidup di dunia ini. Kita diberi derajat seorang pemimpin sehingga dalam mengambil keputusan untuk hidup, baik untuk kita maupun orang lain, kita pun selayaknya menggunakan akal budi.

Sejatinya luka akan terobati dengan doa-doa dan menyandarkan hidup hanya kepada-Nya. Di sisi lain secara sinergis adalah adanya ikhtiar untuk bangkit atau dalam bahasa populer saat ini disebut move-on. Ikhtiar memerlukan energi dan salah satunya dapat diperoleh melalui membaca dan menulis.

Anggap saja hidup seperti perjalanan kereta api pada relnya yang mengantarkan kita ke stasiun tujuan. Ada duka atau luka pada perpisahan dan ada suka pada pertemuan. Perjalanan adalah untuk berpisah dan bertemu.

Bacalah pada setiap awal perjalanan, pada masa perjalanan, hingga pada akhir perjalanan. Bacalah sang waktu, bacalah tingkah polah manusia, bacalah pemandangan dari balik jendela kaca ….

Lalu, tuliskan semua semua yang kita alami, baik luka maupun suka, selama dalam perjalanan. Tuliskan dalam bentuk apa pun sehingga kata-kata dikeluarkan dan akan berangsur-angsur berfungsi menyembuhkan. Boleh juga tulisan itu berupah hikmah-hikmah dari pelajaran yang kita petik pada suatu peristiwa.

Maka yang terluka, membaca dan menulislah ….[]

Baper Versi 2.0 dalam Tulis-Menulis

Bambangtrim.com | ‘Perasaan’, kata guru saya, itulah yang sering terbelenggu, bukan pikiran. Pikiran kita selalu bebas. Buktinya, ketika lapar maka pikiran kita secara otomatis menuntun untuk mencari makanan dan makan. Namun, perasaan kita mulai memilih-milih mau makan apa dan di mana. Padahal, penumpas rasa lapar adalah makan (tak harus pizza).

Orang gila perasaannya yang terganggu. Kala lapar, ia tetap mencari makanan meskipun harus mengais di tempat sampah. Perasaan jijik, kotor, kena penyakit, sudah terganggu di dalam dirinya. Walau demikian, ia tetap tampak sehat fisiknya karena ia masih berpikir untuk kebutuhan dasarnya dan tidak berperasaan bakal kena penyakit.

Pada dasarnya, berpikir dan berperasaan sama-sama penting sehingga satu paket itu disebut ‘akal budi ‘. Orang yang menulis pasti berpikir, tetapi belum tentu berperasaan. Namun, ada juga yang berperasaan dulu saat menulis, tetapi tidak berpikir.

Contohnya, seorang penulis yang belum berkarya sudah nanya berapa besar royalti dan apakah naskahnya tidak akan dibajak, padahal ia belum nulis. Itu pakai perasaan namanya, sementara pikiran tidak digunakan.

Bingung, ya? Sama saya juga. Tersebab bingung, kita mestinya sama-sama belajar dan tidak diperkenankan saling mendahului.

Makanya jangan banyak perasaan (baper versi2.0) dalam menulis. Tulis saja. Jangan bawa perasaan (baper versi 1.0), oh tunggu dulu. Itu sih harus. Menulis dengan hati (kalbu) itu kan kata lain menulis dengan perasaan. Kalau cuma pakai pikiran, tulisan akan menjadi kering, bahkan tidak punya empati kepada pembaca.

Namun, lucunya, orang yang dituduh baper dalam menulis, katakanlah menulis status atau rumpi di WA, sebenarnya belum tentu ia memakai perasaannya. Dibawa ia, tetapi dipakai nggak. Mirip tukang ojek yang helmnya ditaruh di ujung joknya. Helm dibawa, tetapi tidak dipakai, kecuali ada polisi dan razia.

Alhasil, kadang tulisan yang dianggap baper, tetapi tidak paper (pakai perasaan) tadi malah merusakkan suasana karena ditulis tanpa menggunakan perasaan. Nah, loh!

Dulu saya ingat orang yang pe-de habis atau suka berkhayal (mirip mimpi kali ye …) di kota asal saya, Tebingtinggi Deli, dijuluki atau tepatnya diejek dengan kata ‘perasaan’, lalu kemudian muncul istilah turunan “prasosek”—kata lain dari ‘perasaan’.

“Ih, perasaan! Prasosek kau!” begitulah cibirannya.

Jadi, bawa perasaan dan banyak perasaan ini memang sudah aktual dari dulu, bahkan mungkin sejak manusia diciptakan. Media sosial juga ramai karena orang yang bawa perasaan dan banyak perasaan, dan lebih ramai lagi dengan orang yang bawa perasaan, tetapi tidak pakai pikiran. Karena itu, sudah hukumnya begini:

  • menulis tanpa perasaan, tetapi dengan pikiran;
  • menulis tanpa pikiran, tetapi dengan perasaan;
  • menulis dengan perasaan dan pikiran;
  • menulis tanpa perasaan dan pikiran.

Memangnya ada yang terakhir, menulis tanpa perasaan dan pikiran? Ada saja. Itu terjadi ketika seseorang menulis sesuatu, lalu diagihkan di WA. Setelah dapat protes, buru-buru ia menuliskan: “Maaf salah kirim. Hp saya dipinjam oleh ….”[]

Rezeki Saya Dipatuk Ayam

Manistebu.com | Lama saya tidak menulis lagi buku-buku motivasi religi seperti yang dulu saya lakukan di Penerbit MQS, Salamadani, dan juga Tiga Serangkai. Jika dihitung sejak 2011 maka sudah lewat 6 tahun.

Kerinduan itu saya pupuskan dengan menulis buku Rezeki Saya Dipatuk Ayam yang saya mulai sejak Desember 2016. Nah, apakah saya jadi ikut-ikutan menulis buku tentang rezeki? Ya sejujurnya boleh dibilang begitu plus geregetan.

Saya kira juga dorogan untuk menuliskannya selain karena geregetan, juga karena pengalaman dan pemahaman yang saya dapatkan pada kasus hidup saya sendiri dan pada buku-buku yang saya bantu untuk menuliskannya.

Saat membantu menuliskan buku berjudul COME: Mendatangkan Keberkahan yang Mengubah Hidup Anda karya Ustad Wahfiudin Sakam (terbitan Noura), di situ saya merasa mendapatkan mata baru soal hidup, termasuk soal sukses dan bahagia. Dulu sekali, saya juga pernah membantu menuliskan buku Saya Tidak Ingin Kaya, Tapi Harus Kaya karya Aa Gym. Buku yang terakhir saya sebut ini kekuatan teori dan rohaninya soal penjemputan rezeki memang belum sekuat COME meskipun itulah kali pertama saya mendalami soal rezeki.

Saya juga sangat terpengaruh oleh dua buku lain. Satu karya Agus Mustofa berjudul Mengubah Takdir dan satu lagi buku Mengubah Tidak Mungkin Menjadi Mungkin karya Basuki Subianto. Buku yang terakhir berkali-kali saya baca dan saya jadikan rujukan karena saya senang dengan gaya penyajian serta pemikiran penulisnya. Soal mengubah takdir itu menarik. Kata Agus Mustofa kebanyakan dari kita tidak dapat membedakan takdir dan nasib.

Btw, Pak Agus Mustofa ini pernah bersua saya di MQS sewaktu kami mengadakan bedah buku beliau. Ia pernah bekerja sebagai wartawan di grup media besar dan sempat berkuliah di Teknik Nuklir, UGM. Ini berarti sealmamater dengan kolega saya, Mas Abi Ratno, yang jadi mitra saya mendirikan Insitut Penulis Indonesia. Saya ngeri-ngeri sedap dengan jurusan kuliah mereka itu.

Nah, kata Pak AM, soal takdir ini sudah menjadi diskusi serta perdebatan panjang sejak beliau kuliah. Bahasan soal takdir termasuk yang diliputi misteri yang terkandung dalam ayat-ayat mustasyaabihat.

Saya sendiri juga mengalami diskusi soal takdir ini. Termasuk guru menulis saya, Abangnda Syamsuddin Ch. Haesy yang mengatakan takdir itu seperti white board bagi Allah, tinggal ditulis dan dihapus. Ini juga masih misteri.

Soal takdir itu bahasan konsep dan memang sangat relevan ketika membahas rezeki yang juga pasti dikaitkan dengan takdir dan nasib. Apakah sama takdir dan nasib? Pemasaran? Eh, penasaran? Nanti saja saya bahas di dalam buku dengan mengutip pandangan pakar dan olah akal saya tentunya sebagai manusia yang berikhtiar untuk berpikir.

Banyak buku soal rezeki lain yang saya baca dan pelajari, temasuk buku-buku Ippho Santosa yang kemudian melahirkan banyak “pengekor”. Soalnya tema rezeki itu memang selalu aktual dan banyak membuat orang kepo untuk tahu soal jadi kaya. Kadang secara filosofis para penulis pun menyatakan rezeki itu bukan soal uang/materi aja, melainkan banyak juga yang tidak berwujud dan bisa dirasakan. Contohnya, kesehatan dan kesempatan.

Untuk menulis buku ini, saya memerlukan bahasan yang ilmiah soal rezeki. Beruntung saya mendapatkan juga pencerahan dari salah seorang guru saya, Pak Syaiful Bachri, namanya–seorang master coach NLP. Saya terhubung dengan beliau juga syariatnya melalui kegiatan tulis-menulis meskipun saya tidaklah paham-paham amat soal NLP.

Alhasil, ada satu pandangan saya soal rezeki bahwa rezeki itu tidak ajaib atau bukan sebuah keajaiban. Namun, ada yang memang ajaib yaitu manusia yang menemukan rezeki itu. Karena itu, tidak dapat disangkal bahwa manusia dijadikan dengan sebaik-baik bentuk (ahsanu taqwim) karena ia dipersiapkan Allah Swt. menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi ini.

Jadi, soal rezeki itu adalah soal kepemimpinan. Tugas dan fungsi pemimpin itu yang utama adalah mengambil keputusan. Keputusan akan sangat bergantung pada kapasitasnya. Kapasitas akan sangat bergantung pada kesadarannya menggunakan akal dan modalitasnya sebagai manusia yaitu pancaindra.

Semua saling berhubungan sehingga keajaiban itu terletak pada manusianya, bukan pada rezekinya. Rezeki ya begitu-begitu saja dari dulu. Sifat rezeki itu ada yang ditunaikan (dibayar kontan), ada yang ditunda, ada yang dicabut/dialihkan, dan ada yang dijanjikan. Semua bergantung pada takdir yang “dipilih” manusia. Sekali lagi soal takdir, nanti saja dibahas.

Buku Rezeki Saya Dipatuk Ayam ini seperti bentuk refleksi ringan sedikit mendalam saya soal rezeki sehingga boleh disetujui dan boleh juga disangkal. Saya jadikan saja hidup saya sebagai cermin yang sedikit retak. Untungnya masih dapat becermin. Biar yang baca juga tidak terlalu baper soal rezeki ini.

Kapan terbitnya? Insya Allah sebelum Ramadan hendak saya kejar terbit. Penerbitnya siapa? Belum tahu saya. He-he-he.[]

 

Kerinduan itu adalah Menulis Buku Sendiri

0

Bambangtrim.com | Ketika saya memutuskan secara penuh melakoni pekerjaan sebagai penulis jasa maka tidak dihindarkan saya lebih banyak menulis untuk orang lain atau untuk suatu lembaga/institusi. Saya menulis berdasarkan pesanan, bahkan juga gagasan dari pihak lain.

Saya menikmatinya karena menulis adalah sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Betapa lega dan rasa puas tidak terhingga ketika tantangan menulis buku dapat diselesaikan. Namun, sangatlah berbeda kelegaan dan kepuasan andai itu adalah buku saya sendiri.

Buku sendiri yang saya tuntaskan terakhir adalah buku 200+ Solusi Editing setebal lebih dari 350 halaman. Lalu, saya mulai membuat buku digital dalam format mini yang saya sebut budimi (buku digital mini).

Sampai kemudian setelah lebaran 2016, ada momentum yang menyadarkan saya untuk kembali dan menggeser sedikit haluan hidup saya. Ada desakan bagi saya untuk kembali turun gunung menulis buku lebih serius dengan pengalaman saya lebih dari dua puluh tahun bergulat di dalamnya.

Dari sekian gagasan, buku terpilih yang akan saya garap dengan serius pertama adalah bertopik Rezeki. Mengapa rezeki? Apakah saya ingin ikut-ikutan menulis buku serupa yang kemudian best seller? Boleh iya, boleh tidak–sesuai dengan anggapan banyak orang mungkin ya.

Desain: Fachmy Casofa
Desain: Fachmy Casofa

Namun, pergulatan menjalani karier saya, berkeluarga, serta mengalami pasang surut dalam kehidupan itulah yang lebih menggumpalkan semangat saya menulis buku tentang rezeki ini, ditambah juga bersua dengan banyak guru kehidupan. Saya juga membaca banyak buku sebagian dari pekerjaan saya. Banyaknya masukan itu terus menggumpal dan memformat pikiran saya tentang rezeki yang memang selalu menjadi topik bahasan dalam hidup kita.

Alhasil, buku Rezeki Saya Dipatuk Ayam pun tercipta karena semata-mata saya ditantang dan disadarkan oleh seseorang yang juga menjadi guru saya. Tidak untuk mengharapkannya menjadi best seller atau sesuatu yang melambungkan diri saya, tetapi lebih pada aktualisasi diri yang sudah lama tidak dilakukan yaitu menulis buku sendiri.

Saya sudah menemukan apa sebenarnya yang saya tuju dalam hidup ini setelah sekian tahun dengan dinamikanya beralih dari satu tempat ke tempat lain. Saya juga menemukan apa yang menjadi visi dan misi saya sejatinya. Karena itu, saya memulainya dari buku ini.

Terbit akhir 2016.

Gen-Z yang Makin Tak Sudi Membaca

0

Bambangtrim.com | Indikasi bahwa minat membaca masyarakat Indonesia itu rendah sudah sama kita ketahui dan sering kali diungkapkan pada acara-acara literasi, terutama oleh pejabat di negeri ini. Namun, riset yang benar-benar serius memang belum pernah dilakukan untuk menguak apa sebenarnya yang terjadi dengan minat membaca itu.

Minat membaca rendah itu, apakah karena daya beli terhadap buku atau bahan bacaan memang rendah? Apakah karena akses terhadap bahan bacaan memang kurang karena tersedia dan yang ada bacaannya itu-itu saja? Apakah karena buku atau bahan bacaan yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan atau sama sekali memang tidak menarik untuk dibaca? Banyak pertanyaan patut diajukan terkait hal ini.

Lalu, bagaimana dengan masa depan buku dikaitkan dengan munculnya Generasi Z (Gen-Z) yaitu anak-anak yang lahir pada akhir tahun 1990-an dan kini menjadi digital native?

Baru-baru ini Nielsen Consumer & Media View (CMV) pada kuartal II 2016 menerbitkan hasil survei di 11 kota di Indonesia tentang minat membaca media cetak dan buku. Hasilnya mengejutkan kita tentang minat membaca mereka.

Seperti dikutip dari Detik.com, hal itu diungkapkan oleh Hellen Katherina, Executive Director, Head of Watch Business Nielsen Indonesia di Mayapada Tower, Jakarta Pusat, Rabu (19/10/2016).

Survei itu dilakukan dari tahun 2010 hingga 2016 di 11 kota yaitu Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin. Setidaknya ada 17.000 responden berusia 10 sampai 19 tahun yang mengikuti survei ini.

Nielsen membagi Gen-Z dalam dua area. Kelompok pertama berusia 10-14 tahun atau yang disebut anak-anak dan kelompok lainnya 15-19 tahun disebut remaja. Berikut ini hasilnya.

Kelompok Usia

Membaca Media Cetak

Menonton Siaran Televisi

Meramban Internet

Menonton Siaran Televisi Berbayar

Mendengar Siaran Radio

10-14 Tahun (Anak-Anak)

4%

98%

13%

10%

7%

15-19 Tahun (Remaja)

9%

97%

81%

10%

14%

 

Minat membaca media cetak tinggal 4% pada anak-ank (apa kabar majalah Bobo) dan 9% pada remaja. Televisi masih berjaya sebagai media informasi dan hiburan yang menarik bagi anak-anak maupun remaja. Kemudian, di kalangan remaja, internet mulai menarik perhatian selain televisi. Melalui internet, Gen-Z ini memang dapat mengakses informasi atau hiburan dari ketiga media, yaitu media massa atau buku, televisi, dan radio melalui konten digital dan streaming.

Dari sisi kegiatan lainnya diperoleh data berikut ini.

Membaca Buku

11%

Berolahraga

44%

Menonton Siaran Televisi

32%

Mendengarkan Musik

25%

Meramban Internet

17%

 

Tentu saja data tersebut menjadi peringatan, terutama buat para penerbit buku konvensional karena pasar masa depannya malah makin meninggalkannya. Pasarnya saat ini yang tersisa adalah dari Gen-X dan Gen-Y yang umumnya sudah menjadi orangtua ataupun kaum profesional kelas menengah.

Peringatan lain juga tertuju bagi orangtua yang masih menginginkan putra putrinya dapat mengakses informasi melalui buku–karena keunggulan buku, tidak tergantikan oleh media lainnya. Memang kita masih lega jika yang diramban di internet termasuk buku digital, tetapi jika tidak, berarti anak-anak kita telah meninggalkan kearifan membaca buku.

Agar buku atau media cetak tidak menjadi barang-barang masa lalu seperti halnya terjadi pada kaset dengan pitanya–meskipun sebagian orang tetap yakin buku cetak tidak akan tergantikan–, orangtua ataupun guru harus bersiasat untuk tetap mengadakan buku-buku dan media cetak di sudut-sudut rumah.

Berwisata ke toko buku dan perpustakaan setiap minggu atau paling tidak setiap bulan akan memberikan pengalaman kepada anak untuk mengakses informasi dan hiburan lewat buku. Anak-anak jangan dibiarkan terputus koneksinya terhadap buku.

Begitupun perlu ketegasan Pemerintah dalam bidang pendidikan untuk mewajibkan peserta didik anak-anak dan remaja membaca buku dengan kuantitas tertentu dalam setahun. Tragedi nol buku yang diungkap sastrawan Taufiq Ismail akan benar-benar menjadi mimpi buruk daya literasi bangsa ini pada masa depan karena siswa-siswa sekolahnya dibiarkan tidak membaca buku.

Berkaca pada Finlandia

Sebenarnya bukan hanya Indonesia yang menghadapi kecenderungan hal tersebut. Finlandia yang diganjar sebagai negara paling literat pun mengalaminya sedikit meskipun berdasarkan survei 44% siswa di sana masih menikmati kegiatan membaca (European Literacy Policy Network (ELINET) dalam laporan 2015 berjudul Literacy in Finland: Country Report Children and Adolescent).

Riset bertajuk Towards Future Literacy Pedagogies (2006–2009) yang diketuai oleh Professor Minna-Riitta Luukka serta didanai oleh Academy of Finland and University of Jyväskylä mencoba mencari tahu materi tertulis apa yang dibaca oleh siswa remaja Finlandia di luar pelajaran sekolah. Fakta menunjukkan bahwa remaja masih tertarik untuk membaca koran dan majalah, tetapi mereka mulai kehilangan minat membaca “buku tradisional. Adapun yang paling sering dibaca setiap hari adalah pesan teks, pos-el, dan media digital lainnya. Dari sisi gender, remaja perempuan lebih tertarik membaca daripada remaja pria.

Dalam hal peringkat PISA, skor siswa di Finlandia yang menikmati kegiatan membaca masih lebih baik daripada skor rata-rata siswa di negara Eropa lainnya. Angka-angka itu juga  menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara menikmati kegiatan membaca dan unjuk kinerja (performa) dalam prestasi belajar bahwa siswa-siswa yang menikmati kegiatan membaca dapat menjalankan strategi membaca yang efektif, terutama untuk meringkas bahan bacaan.

Terkait laporan tersebut, EU High Level Group of Experts on Literacy memberikan rekomendasi untuk menciptakan ling­kungan yang literat sebagai berikut.

Menciptakan lingkungan yang lebih literat akan mem­bantu merangsang budaya membaca, yaitu dalam hal ini membaca untuk kesenangan dipandang sebagai norma untuk semua anak-anak dan orang dewasa. Seperti halnya budaya akan membakar motivasi membaca dan prestasi membaca: orang-orang yang suka membaca, membaca lebih banyak. Karena mereka membaca lebih banyak, mereka membaca lebih baik, dan karena mereka membaca lebih baik, mereka membaca lebih jauh: lingkaran berbudi luhur yang memberi man­­faat untuk individu, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. (HLG report 2012, p. 41).

Data lain yang menguatkan Finlandia sebagai negara paling literat adalah peran orangtua di rumah. Hasil menarik disajikan oleh PIRLS 2011 tentang jumlah koleksi buku anak yang dilaporkan oleh orangtua anak di Finlandia sebagai berikut:

  • 0-10 :   6 % (EU average 11.8%)
  • 11-25 :   6 % (EU average 19.7%)
  • 26-50 :   8 % (EU average 29.4%)
  • 51-100 :   9% (EU average 23.4%)
  • >100 :   1% (EU average 15.7%).

Angka-angka itu menunjukkan bahwa sangat banyak orangtua atau keluarga yang menyediakan lebih dari 26 judul buku anak di rumahnya. Bahkan, persentase tertinggi adalah orangtua yang menyediakan 51-100 judul buku anak di rumah mereka.

Jika berdasarkan laporan anak 5% dari siswa melaporkan memiliki 10 atau lebih sedikit buku di rumah. Siswa lainnya di Finlandia (16%) dilaporkan memiliki lebih dari 200 buku (ELINET PIRLS Lampiran C, Tabel E1). Nilai rata-rata siswa di Finlandia dengan 10 atau lebih sedikit buku 67 poin lebih rendah daripada siswa yang memiliki lebih dari 200 buku.

Jadi, benar-benar ada kaitan antara kegiatan membaca buku itu dengan kemajuan individu anak-anak di dalam dunia pendidikan. Kita yang berasal dari Gen-X, Gen-Y, atau sebelumnya yang disebut Generasi Baby Boomer, telah merasakan kedahsyatan buku itu. Jadi, sekarang kita sebagai orangtua atau guru harus menjaga dan memberi contoh.

Saya jadi tersenyum getir saat berdiskusi di Puskurbuk tentang literasi beberapa hari lalu. Bu Dewi Utama Fayza dari Dikdasmen Kemdikbud menyebutkan fakta bahwa dalam kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai, banyak guru yang justru “main hp” atau kegiatan lainnya yang tidak menunjukkan mereka memberi contoh membaca, sementara siswanya disuruh membaca.

***

Laporan Nielsen di satu sisi memang menunjukkan zaman yang sudah berubah. Namun, bukan berarti kita membiarkannya dan tidak mengusahakan satu peningkatan agar anak-anak kita kembali membaca buku. Itu sebabnya masyarakat Indonesia tengah menanti lahirnya UU Sistem Perbukuan yang akan menjadi dasar untuk menerapkan strategi perbukuan.

UU itu lahir juga ditujukan untuk masa mendatang. Senyampang dengan UU Sistem Perbukuan, tentu kiprah Bekraf juga sangat dinantikan agar mendorong industri kreatif penerbitan bertransformasi menjadi industri konten yang lebih maju. Buku cetak tetap dipertahankan, tetapi buku digital juga harus dikembangkan secara lebih maju.[]

 

Menulis itu (Tidak) Sederhana

0

Bambangtrim.com | Bahagia itu sederhana. Itulah ungkapan yang banyak menjadi meme dan tersebar di medsos. Demikian pula dengan status medsos banyak orang yang dimulai dengan kalimat pendek itu: Bahagia itu sederhana ….

Saya pernah berguyon: Bahagia itu sederhana …. Ketika makan siang disuguhi menu (restoran) Sederhana. He-he-he.

Lalu, apakah benar bahagia itu sederhana. Nah, saya tertarik membuka buku tebal yang tergolong buku laris karya Arvan Pradiansyah berjudul 7 Laws of Happiness. Menarik bahwa Mas Arvan itu memperingatkan adanya kesenangan yang menyamar sebagai kebahagiaan. Sebenarnya hanya seberkas kesenangan muncul pada kehidupan kita, tetapi kita menyebutnya kebahagiaan, padahal jalur keduanya berbeda.

Penasaran?  Baca saja bukunya. Pemasaran? Ya, ini salah satu bentuk pemasaran. 😀

Lebih jauh Prof. Daniel Freeman dan Jason Freeman menyebutkan bahwa para psikolog telah memiliki konsensus yang diakui secara luas sebagai komponen bahagia, yaitu 1) kenikmatan/kesenangan (pleasure); 2) makna (meaning); 3) keterlibatan diri (engagement). Duo Freeman itu lalu menambahkan lagi ada komponen keempat yaitu 4) lebih sedikit emosi negatif.

Kesimpulannya bahwa baik Mas Arvan maupun Duo Freeman itu tidak menyederhanakan kebahagiaan seperti membalikkan taplak meja. Kebahagiaan adalah sebuah proses dan proses itu harus diperjuangkan agar menghasilkan yang namanya kebahagiaan berdurasi panjang.

Dari bahagia maka saya beralih ke menulis yang juga selayaknya (seseorang) dapat menghasilkan tulisan bermutu karena sebuah proses. Tidak ada yang mudah dan sederhana dalam hal menulis. Masih teringat ketika saya menghadiri sebuah event diskusi penulisan-penerbitan yang digelar Yayasan Adikarya Ikapi, salah satu pembicara, Pak Bondan Winarno mengkritik tema diskusi tentang buku serius.

Menurutnya menulis buku itu saja sudah serius, bagaimana mungkin ada istilah buku tidak serius. Jadi, dikotomi buku serius dan buku tidak serius itu menurutnya keliru. Namun, pada zaman edan seperti sekarang ini, menulis buku dapat dilakukan dengan cara-cara yang tidak serius–copy paste, plagiat, ngumpulin bahan-bahan dari internet, dan seterusnya.

Saya jadi teringat juga dengan buku-buku seri terbitan luar seperti For Dummies dan For Idiots. Meskipun judul buku itu nyeleneh dan terkesan main-main, ternyata isinya sangat detail dan saya yakin membuatnya tidak main-main alias sangat serius (sekali).

Sumber Foto: Wikipedia
Sumber Foto: Wikipedia

Jadi, jika diminta melatihkan menulis secara sederhana, mungkin saya tidak mampu karena proses menulis itu sendiri sudah tidak sederhana–demi menghasilkan tulisan berkualitas. Namun, jika diminta memberi pelatihan menulis dengan menu makan siang dari restoran Sederhana, itu saya suka.

Tapi, tunggu dulu. Sederhana (simplicity) itu menurut Mas Arvan adalah salah satu hukum kebahagiaan. Artinya, orang yang tidak mampu menyederhanakan menulis seperti saya ini, pastilah kurang bahagia–jangan-jangan masa kecilnya juga. Di otaknya penuh kerumitan-kerumitan sampai Mbah Konfusius berkata:

Hidup ini benar-benar sederhana, tapi kita bersikeras untuk membuatnya rumit.

Saya insaf untuk hal ini meskipun Mas Arvan menjelaskan soal kesederhanaan itu dalam 37 halaman buku–keseluruhan buku Mas Arvan lebih dari 460 halaman. Tapi, ya itu bahwa yang serius dan berproses memang tidak harus dibuat rumit dan dapat disederhanakan.

Namun, tidak harus pula menulis itu disederhanakan sebagai sebuah kesenangan belaka. Kita harus membuatnya komplet dengan yang namanya kebermaknaan, keterlibatan, dan lebih sedikit emosi negatif agar tulisan yang dihasilkan benar-benar bermanfaat dan menimbulkan rasa bahagia.

Di medsos seperti Facebook, ada orang yang memang menulis untuk kesenangan belaka; ada yang menulis untuk menyisipkan makna; ada pula yang menulis agar ia eksis dan selalu update sebagai kebutuhannya melibatkan diri. Namun, ada yang alih-alih berbahagia menulis untuk meminggirkan emosi negatif, malah ia sengaja memancing emosi negatif ke dalam pikirannya sendiri atau ke dalam pikiran banyak orang. Jadi, menulis yang sederhana dapat terjebak pada menulis yang tidak komplet yang tentu tidak menentukan kebahagiaan.

Anda pasti bingung dengan penjelasan tulisan ini …. Saya juga …. Ha-ha-ha itu tandanya Anda serius membaca. Kesimpulan saya: Menulis itu sendiri tidak sederhana, tetapi proses kreatifnya dapat disederhanakan dengan kecerdasan dan kecergasan kita. Karena itu, kapasitas kita untuk menulis (sama halnya dengan berbahagia) haruslah ditingkatkan.


Berminat mengikuti pelatihan menulis dengan proses cerdas dan cergas serta membahagiakan? Jangan lewatkan pelatihannya pada 18-19/11 di Jakarta dan 8-9/12 di Bandung.

flyer-pelatihan-nov-des

Ini Beda Mengarang dan Menulis

Bambangtrim.com | Sebenarnya istilah mengarang dan menulis dalam bahasa Indonesia digunakan sepadan dan bergantian. Namun, jika diselisik lagi maknanya, mengarang lebih dekat pada aktivitas berkhayal, sedangkan menulis lebih dekat pada aktivitas mekanis menata kata hingga membentuk sebuah karangan.

Mengarang itu gampang kata Arswendo Atmowiloto dalam bukunya, tetapi menulis itu sulit kata Budi Darma dalam salah satu artikel lawasnya di Kompas. Ya, seseorang yang terlambat masuk kantor atau sekolah mungkin mudah mengarang alasan meng­apa ia terlambat. Coba alasan itu suruh dituliskan dalam satu halaman kertas, mungkin ia akan mengalami kesulitan.

Dalam terminologi bahasa Inggris ada author dan writer. Sebuah tulisan di archangelink.com mengulas secara menarik perbedaan author dan writer. Author (pengarang) berorientasi pada diri sendiri (self-oriented), sedangkan penulis (writer) berorientasi pada layanan (service-oriented). Jika Anda seseorang yang sangat percaya diri untuk menuliskan sesuatu karena Anda menyenangi apa yang Anda tulis, Anda tipikal seorang pengarang.

J.K. Rowling adalah contoh­nya. Ia telah berhasil menciptakan dunia imajinatif dengan Harry Potter. Namun, secara mengejutkan Rowling tiba-tiba bereksperimen dengan novel dewasa, The Cuckoo’s Calling dan The Casual Vacancy dengan nama samaran Robert Galbraith. Naskah novel tersebut sempat ditolak penerbit karena mereka jelas tidak mengetahui bahwa naskah itu ditulis seorang J.K. Rowling.

Pada kasus tersebut, tampak Rowling adalah tipikal pengarang yang berkarya tanpa harus diatur siapa pun. Seorang pe­ng­a­­rang jika ia tidak ingin menulis sesuatu, ia tidak akan menulis. Sebaliknya, jika ia ingin menulis sesuatu, ia berharap dapat menyenangkan banyak pembaca.

Penulis (writer) adalah orang-orang yang mencermati tren pasar, bahkan mereka “rela” menjadi orang lain demi menghasilkan sebuah karya tulis. Merekalah yang kemudian mampu bekerja secara bebas, baik sebagai ghost writer maupun co-writer.

Penulis dapat berkompromi dengan penerbit dan pembaca yang menginginkan suatu karya. Bahkan, penulis juga bersedia membantu mereka yang tidak mampu menulis karena alasan waktu, kemampuan, dan juga alasan lainnya.Berbeda halnya dengan pengarang yang dengan idealisme­nya tidak dapat dipaksa untuk menghasilkan suatu karya tertentu.

Penulis jelas lebih generalis daripada pengarang. Seorang penulis dapat menjadi pengarang, tetapi seorang pengarang belum tentu dapat menjadi penulis.

Namun, tidaklah ada yang lebih baik dari keduanya. Menjadi pengarang (author) atau penulis (writer) adalah pilihan yang sama baiknya. Hal yang buruk adalah menjadi plagiator karya orang lain.


Disarikan dari buku Menulispedia karya Bambang Trim.

 

Mau Belajar dan Tahu Banyak tentang Menulis?

Bambangtrim.com | Mau tahu banyak, mau belajar banyak? Semuanya akan banyak diagihkan di acara Institut Penulis Indonesia ini. Saya sendiri yang akan memberikan banyak rahasia tentang penulisan. Inilah pelatihan menulis yang ada badaknya, eh plusnya ….

flyer-pelatihan-nov-des

Ketika Wacana Lembaga Perbukuan Diperdebatkan

0

Bambangtrim.com | Saat mulai aktif sebagai tim pendamping ahli untuk RUU Sistem Perbukuan (Sisbuk) di DPR dan juga Pemerintah, saya merasakan suasana batin (memang agak lebay) terkait wacana pembentukan Dewan Perbukuan. Dewan serupa pernah ada dengan nama Dewan Buku Nasional yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 110 Tahun 1999 pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie.

Namun, DBN yang diketuai Presiden dan wakilnya adalah Mendikbud itu dibubarkan pada masa pemerintahan Presiden SBY tahun 2014. DBN dianggap salah satu badan yang tidak efektif dan fungsinya tidak jelas. Menurut sumber dari Kemenpan RB, pembubaran DBN bahkan sempat dikaji oleh enam perguruan tinggi.

Lalu, kini DPR bersikukuh mengadakan kembali lembaga perbukuan dengan nama Dewan Perbukuan. Di sisi lain, pihak Pemerintah dengan alasan bahwa dewan serupa telah dibubarkan, berkeberatan dengan wacana tersebut.

Jika tidak ada lembaga yang menjalankan sistem dan strategi perbukuan, lalu siapa yang melakukannya berdasarkan UU? Membuat simulasi terhadap hal ini tidaklah mudah.

Suasana batin itu yang kemudian mendorong dilakukannya diskusi dan kajian lebih mendalam dengan melibatkan banyak pihak dari DPR maupun Pemerintah. Hal yang menggembirakan bahwa ada satu kesamaan pandangan akhirnya bahwa diperlukan satu lembaga perbukuan untuk memastikan berjalannya UU Sisbuk. Lembaga itu tidak harus bernama dewan atau berbentuk dewan, tetapi dapat merupakan penguatan dan peningkatan status lembaga yang sudah ada.

Ketua Panja RUU Sisbuk, Komisi X DPR-RI, Sutan Adil, bahkan sudah mengemukakan rencana ini seperti dikutip Antaranews.com.

“Kita usulkan Badan Perbukuan Nasional diisi oleh eselon 1, karena bagian pengawasan buku (Puskurbuk) yang ada di Kemendikbud sekarang ‘dipegang’ eselon 3 sehingga tidak bisa mengambil keputusan langsung,” kata Ketua Panja RUU Sistem Perbukuan DPR RI Sutan Adil Hendra dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu (16/10).

Wajar kemudian muncul berbagai respons. Loh, kok Puskurbuk? Memangnya lembaga ini juga mau mengurusi kurikulum yang menjadi domain Kemdikbud? Memang kita tidak dapat melihatnya sepotong-sepotong. Saya sendiri mengikuti dinamika RUU ini sejak tahun 2012 ketika dilibatkan oleh Ikapi Pusat untuk meninjau draf RUU Sisbuk. Ikapi bahkan melalui ketuanya menganggap kehadiran Dewan Perbukuan atau lembaga perbukuan sangat penting.

Ikapi yang anggotanya terdiri atas beragam penerbit memang memerlukan satu lembaga pemerintah sebagai mitra yang tepat dan pasti untuk bersama membangun industri perbukuan nasional. Hal tersebut tidak dapat dilakukan misalnya melalui Puskurbuk yang terbatas pada buku pendidikan ataupun Bekraf yang mengurusi begitu banyak industri kreatif.

Namun, dari sisi kekhawatiran dan ketakutan munculnya rezim yang kembali “mengatur-ngatur” buku atau publikasi, pembentukan lembaga ini dikritik kalau tidak mau disebut ditentang. Lembaga ini dikhawatirkan menjadi luas kewenangannya untuk menarik buku dari peredaran, menutup penerbit, ataupun menyemprit penulis dan penerbit.

Jika saya ditanya pandangan tentang hal ini, saya lebih melihat pada kondisi memprihatinkan saat ini. Semakin industri buku itu tidak diatur, semakin banyak malapraktik perbukuan yang terjadi. Saat ini, penerbit baru yang tidak memiliki jaringan pemasaran harus mengeluarkan diskon sampai 55% agar bukunya dapat masuk ke toko buku dan kanal penjualan lainnya.

Toko-toko buku juga sudah banyak yang tutup. Imbalan kepada para penulis dalam bentuk royalti dan honor semakin menurun. Dorongan orang untuk menciptakan karya buku yang berkualitas juga semakin menurun. Pembajak buku masih merajalela.

Belum lagi tidak adanya pembinaan yang serius dan strategis terhadap para pelaku perbukuan. Buku-buku banyak yang terbit asal terbit. Penghargaan terhadap pelaku perbukuan sangatlah minim kalau tidak mau disebut tidak ada. Plagiator juga merasa biasa-biasa saja.

Pelik dan banyak masalah sehingga perlu diatur oleh sebuah lembaga pengatur. Jika dibiarkan seperti saat ini, ya bersiap juga kita untuk tetap terpuruk dalam soal keliterasian. Artinya, pembangunan industri perbukuan benar-benar diserahkan pada mekanisme pasar dan seleksi alam.

Namun, saya kira Pemerintah, bahkan wakil rakyat di DPR tidak akan mau seperti itu. Contohnya, setiap ada kasus buku yang muncul ke permukaan, baru semua orang ribut, lalu kasus itu pun berlalu bersama angin. Di sisi lain, kita tetap menjadi bangsa pembaca buku dan pembuat buku yang terpuruk meski pernah diganjar sebagai tamu kehormatan pameran buku tertua dan terbesar di dunia, Frankfurt Book Fair.

Sejarah Lembaga Perbukuan

Perlu diulas sedikit tentang sejarah lembaga perbukuan yang pernah ada di Indonesia. Pemerintah Orba telah menaruh perhatian terhadap persoalan buku. Melalui Keppres No 5 Tahun 1978, Pemerintah membentuk Badan Pertimbangan dan Pengembangan Buku Nasional (BPPBN) yang bertugas melakukan berbagai kajian dan merumuskan konsep-konsep kebijakan di bidang perbukuan nasional.

Badan ini pulalah yang melakukan kajian perbukuan secara nasional dan mengidentifikasi perlunya Undang-Undang untuk mengatur perbukuan secara nasional. Tahun 1997, BPPBN menyusun draf awal UU tentang perbukuan nasional, tetapi tidak ditindaklanjuti sampai Badan ini dibubarkan. BPPBN dirasakan kurang fungsional dalam mengatasi berbagai masalah serta lebih berfokus pada kajian-kajian dan rekomendasi kebijakan serta tidak melakukan kegiatan operasional.

Jadi, pemikiran tentang UU Perbukuan sudah ada sejak akhir tahun 1970-an dan direalisasikan pada tahun 1997. Pembentukan lembaga perbukuan ini sendiri sebenarnya sangat telat dibandingkan negara ASEAN lainnya yang telah membentuk sejak tahun 1968 setelah adanya imbauan dari Unesco.

Pada tahun 1987 pemerintah melalui Keppres No. 4 Tahun 1987 membentuk Pusat Perbukuan di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Fungsi dari Pusat Perbukuan ini adalah untuk mengembangkan buku-buku pendidikan, mendorong industri perbukuan dan melanjutkan upaya membuat Rancangan Undang-Undang Sistem Perbukuan.

Namun, sebelum UU tersebut berhasil disusun, Pusat Perbukuan tersebut disatukan menjadi Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) dengan dipimpin oleh Eselon 3. Puskurbuk kemudian lebih banyak melaksanakan penilaian buku-buku pendidikan yang layak masuk ke sekolah ataupun perpustakaan sekolah sehingga lingkup kerjanya memang makin terbatas.

Sebelumnya pada tahun 1995, dilaksanakan Kongres Perbukuan Nasional I yang dipelopori oleh Pusbuk. Di dalam kongres inilah muncul rekomendasi pembentuk Dewan Buku Nasional. Rekomendasi itu diperkuat oleh Ikapi melalui Musyawarah Kerja Nasional Ikapi tahun 1998. Presiden Habibie merespons positif hal ini dengan membentuk Dewan Buku Nasional (DBN) melalui Keppres No. 110 Tahun 1999 sehingga Keppres tentang BPPBN dinyatakan tidak berlaku.

Jadi, tiga lembaga perbukuan yang pernah ada di Indonesia dibentuk dengan Keppres. Adapun yang masih hidup hingga kini hanya Pusbuk yang formatnya sudah disatukan dengan Puskur.

Sejak Indonesia ditunjuk menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015 maka dibentuk pula Komite Buku Nasional di bawah Sekretaris Kemendikbud. Sampai kini keberadaan Komite Buku Nasional dipertahankan untuk meneruskan program promosi buku-buku Indonesia di kancah internasional, termasuk mendorong para penulis Indonesia mengglobal. Program Komite Buku Nasional yang tampak tahun 2016 adalah Residensi Penulis yaitu semacam program hibah riset penulisan di luar negeri kepada para penulis.

Pemikiran DPR

Ada dasar pemikiran DPR mengapa di dalam RUU Sisbuk harus diamanatkan pembentukan lembaga perbukuan. Dalam hal ini saya coba menyimpulkan hal-hal berikut dari pemikiran di Komisi X DPR.

  • DBN yang sudah dibubarkan pemerintah memang bukan lembaga ideal untuk mengurusi persoalan perbukuan karena dipimpin Presiden langsung dan memiliki anggota para menteri sehingga efektivitas kerjanya dipertanyakan. Sementara itu, anggarannya diambil dari Kemendikbud.
  • UU Sisbuk tidak akan bermanfaat banyak jika tidak ada satu lembaga yang berkonsentrasi terhadap pelaksanaan regulasi di bidang perbukuan yaitu yang melaksanakan sistem perbukuan.
  • Negara-negara lain termasuk negara maju juga memiliki badan atau lembaga pengembangan perbukuan sebagai strategi penguatan budaya bangsanya.
  • Lembaga perbukuan yang dibentuk harus berperan lintas kementerian karena untuk mengatur bukan hanya buku pendidikan, melainkan juga buku agama, buku perguruan tinggi, dan buku umum. Lembaga ini bahkan diusulkan langsung di bawah Presiden dan para pimpinannya dipilih oleh DPR melalui fit and proper test.
  • Persoalan perbukuan harus dipandang sebagai persoalan budaya luhur sehingga perlu dikawal mengingat peringkat keliterasian Indonesia sangat terpuruk dibandingkan negara-negara lain di dunia, bahkan pada level ASEAN. Dengan demikian, Pemerintah dalam hal ini Presiden harus dibantu oleh suatu lembaga yang berfungsi memajukan dunia perbukuan Indonesia, terutama secara umum daya literasi bangsa.
  • Perkembangan teknologi telah mengubah bentuk buku dengan unsur utama adalah konten. Lahirnya Generasi Z yang ditengarai semakin menjauh dari buku harus menjadi fenomena yang diwaspadai sehingga sebuah lembaga perbukuan diperlukan untuk menghasilkan strategi-strategi penguatan minat membaca buku dan menulis buku pada generasi muda dengan memperhatikan juga aspek kemajuan teknologi informasi dan teknologi digital. Selain itu, banyak sekali buku hasil karya masyarakat Indonesia terdahulu yang perlu diselamatkan sebagai bagian strategi penguatan akar budaya untuk melawan hegemoni asing yang masuk ke Indonesia.

Pendeknya, Indonesia harus meniru apa yang dilakukan negara-negara lain terkait pembangunan perbukuan. Tidaklah ada salahnya mendirikan lembaga perbukuan dengan maksud mengatur yang sekarang tampak tidak beraturan. Pembangunan perbukuan tidak dapat dibiarkan berkembang secara lateral alias tanpa pola dengan alasan kebebasan berekspresi.

Dunia pers atau jurnalistik yang juga sudah lebih bebas sejak Reformasi tetap dikawal oleh Dewan Pers. Adapun dunia buku yang melibatkan beberapa komponen, seperti penulis, penerbit, pekerja perbukuan, toko buku, distributor, dan pencetak jelas harus dikawal polanya sehingga tidak merugikan salah satu pihak dalam konteks industri perbukuan.

Mengkritik Dewan Perbukuan

Saat menulis artikel ini, saya baru membaca informasi di Detik.com berjudul “Rencana Pembentukan Dewan Buku Nasional Dikritik”. Disebutkan bahwa dalam sarasehan literasi (pada acara Festival Literasi Indonesia) bersama pegiat-pegiat lainnya, Kang Maman memprotes rezim narasi tunggal dan rencana pembentukan Dewan Perbukuan Nasional oleh Komisi X DPR. Menurutnya, para pemegang kekuasaan lupa membaca tentang kearifan kebudayaan yang ada di masyarakat.

“Dewan Perbukuan itu bukan mengatur buku mana yang layak dan buku mana yang tidak layak. Yang katanya ada eksekutor, tapi justru menurut saya gerakan yang harus dilawan adalah bukan gerakan proyek yang seperti tahun lalu ratusan buku berbondong-bondong diterjemahin karena jadi tamu kehormatan. Tapi tahun ini ada berapa buku yang dialihbahasakan,” kritik Maman (seperti dikutip Detik.com).

Kritik tersebut sah-sah saja terkait kekhawatiran akan “narasi tunggal” yaitu munculnya semangat untuk mengatur dan menjadikan Dewan Perbukuan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Untuk hal ini saya menyampaikan catatan terbaru bahwa Panja RUU Sisbuk, Komisi X DPR-RI, dalam proses penyamaan persepsi dengan Pemerintah bersepakat bahwa diperlukan satu lembaga perbukuan yang menjalankan sistem perbukuan.

Kedua, salah satu langkah yang memungkinkan adalah menaikkan status Pusat Perbukuan yang dibentuk berdasarkan Keppres menjadi setingkat eselon 1 dengan kewenangan yang lebih luas dan lintas kementerian seperti disampaikan Ketua Panja RUU Sisbuk, Bapak Sutan Adil. Bentuk lembaganya kira-kira seperti Perpusnas RI, LAN, ataupun badan lainnya yang saat ini sedang dikaji oleh tim ahli. Adapun Puskur tetap berada di Kemdikbud, di bawah Balitbang.

Artinya, kedua belah pihak (DPR dan Pemerintah) memiliki pandangan bahwa diperlukan suatu lembaga yang memastikan sistem perbukuan berjalan sebagaimana diamanatkan UU. Lembaga akan menghadirkan Negara dalam persoalan perbukuan yang pelik saat ini, terutama dalam hal buku pendidikan.

Kekhawatiran “narasi tunggal” memang tidak perlu ada jika saja lembaga ini justru mendorong penciptaan karya buku secara besar-besaran dengan asas kualitas dan asas tanggung jawab–salah satunya dengan tujuan penguatan akar budaya melalui literasi. Soal pelanggaran hukum terkait penyebaran paham atau konten berbahaya dan tidak patut, sudah ada UU lain yang mengaturnya jika dihubungkan dengan pengawasan seperti UU Hak Cipta dan UU ITE.

Walaupun demikian, kritik seorang Kang Maman patut pula menjadi masukan karena draf RUU Sisbuk sendiri masih dalam pembahasan DIM per DIM (daftar isian masalah). Industri buku memang perlu diatur, tetapi proses kreatif penciptaan sebuah buku juga perlu dilindungi dan disikapi dengan bijak. Kita tunggu saja apa jadinya format lembaga perbukuan tersebut dan juga konten RUU yang ditargetkan selesai tahun ini.[]

Asosiasi Profesi Penulis: Sumbang Saran untuk Bekraf

0

Bambangtrim.com | Terbetik kabar awal Oktober 2016 lalu bahwa pada ajang Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2016  digelar musyawarah berdirinya asosiasi penulis profesional dari berbagai latar belakang, seperti fashion, olahraga, budaya, sastra, dan lain lain. Acara tersebut disponsori oleh Bekraf yang menargetkan bahwa musyawarah tersebut dapat menghasilkan peta permasalahan penulis di Indonesia (seperti diungkap di tirto.id).

Harapan berdirinya sebuah organisasi profesi penulis atau pengarang memang sudah lama dibunyikan. Walaupun begitu, sejarah mencatat bahwa organisasi penulis-pengarang pernah ada dan umumnya dipelopori oleh para sastrawan. Namun, kemudian redup dan lenyap tanpa kabar.

Apa yang ada saat ini hanya komunitas-komunitas penulis dan jika pun ada yang menyebut asosiasi, belum jelas benar bentuk dan keberadaannya.

Soal ini pernah saya tulis juga di Kompasiana.

Meskipun tidak berpartisipasi secara langsung dalam musyawarah tersebut, saya coba mengikuti perkembangan musyawarah tersebut. Tampak bahwa masalah yang diangkat salah satunya terkait hubungan penulis dan penerbit terkait dengan perlindungan-perlindungan terhadap profesi.

Dari situs tirto.id saya mendapatkan informasi bahwa yang mewakili penulis saat deklarasi dalam musyawarah tersebut adalah Langit Kresna Hariadi (yang dikenal sebagai novelis sejarah) dan Imelda Akmal.

Seperti dikutip tirto.id, Langit membuat pernyataan berikut:

Langit mengatakan dunia penerbitan Indonesia dan toko buku itu sebenarnya tidak pernah ada tanpa penulis. “Namun ketika karya penulis diterbitkan dan dijual di toko buku, dipotong sampai 65 persen, royaltinya berapa? Penulis tidak punya daya tawar, itu sebabnya kami berpikir alangkah bagusnya kalau penulis itu bisa dihimpun, sehingga punya daya tawar supaya penerbit tidak seenaknya membikin nominal royalti,” jelas Langit.

Itu baru satu permasalahan soal dunia penulis yang disampaikan oleh Pak Langit. Jika dibedah lebih jauh data dan fakta soal rabat di toko-toko buku atau distributor, masalah penulis yang juga menukik pada masalah penerbitan buku, tidaklah sesederhana itu.

Royalti maksimum yang dapat dialokasikan penerbit adalah 10% dan di dunia juga umum berlaku seperti itu–biasanya mulai 5%-10% dan kadang ada yang memberlakukan royalti progresif hingga 12%. Tidak ada royalti buku cetak sampai pada angka 15% atau 20%, kecuali ada komponen biaya yang harus dikorbankan atau penulis menerbitkan bukunya sendiri (self-publishing).

Peta Permasalahan Penulis

Saya coba menyajikan peta permasalahan penulis berikut ini sebagai sumbang saran terhadap pembentukan asosiasi profesi penulis yang diinisiasi Bekraf.

peta-permasalahan-penulis-indonesia

Secara ringkas dapat saya sampaikan penjelasan berikut.

  1. Masalah terkait Kode Etik telah menjadi syarat terbentuknya sebuah asosiasi profesi. Kode etik penulis digambarkan dalam ranah penerbitan atau publikasi sebagai legalitas dan kesopanan. Legalitas menyangkut soal penghormatan terhadap hak cipta orang lain dan kesopanan menyangkut masalah-masalah kepatutan yang berhubungan dengan norma hukum dan norma masyarakat.
  2. Masalah terkait Pendidikan bahwa ilmu kepenulisan dan kompetensi kepenulisan belum menjadi nomenklatur pendidikan vokasional di Indonesia. Hal ini berbeda dengan jurnalistik dan kehumasan yang di dalamnya kepenulisan masuk sebagai unit kompetensi yang harus dikuasai. Di negara-negara maju, penulisan yang biasanya disatukan dengan penyuntingan (editing) telah menjadi nomenklatur pendidikan vokasional, baik nondegree maupun setingkat diploma. Di Indonesia tidak ada sekolah penulis ataupun jika ada lembaga pendidikan penulis profesional, jumlahnya dapat dihitung dengan jari seperti Tempo Institute.
  3. Masalah terkait Sertifikasi bahwa tuntutan profesional adalah adanya sertifikasi penulis profesional. Sertifikasi akan melahirkan pemeringkatan penulis berdasarkan kompetensinya, seperti penulis muda, penulis madya, dan penulis mahir, terutama untuk penulis-penulis dari ranah nonfiksi dan faksi.
  4. Masalah terkait Spesialisasi bahwa asosiasi harus mengadakan pembinaan untuk para penulis di tiga ranah induk, yaitu fiksi, nonfiksi, dan faksi. Penulis yang paling banyak spesialisasinya adalah pada ranah nonfiksi yang menurunkan spesialisasi atau laras penulisan akademis, penulisan bisnis, penulisan kehumasan, dan penulisan jurnalistik. Di ranah faksi ada penulisan biografi, autobiografi, dan memoar. Dalam sejarahnya, asosiasi penulis di Indonesia lebih banyak menaungi penulis dari kalangan sastrawan yang kadang kepentingannya akan berbeda. Kasus ini sama seperti yang terjadi pada Ikapi yang menaungi semua jenis penerbit. Namun, Ikapi pada masa-masa tertentu sempat lebih memperhatikan penerbit buku pelajaran daripada penerbit buku lainnya. Dalam perjalanan, kemudian terbentuk Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) yang lebih spesifik menaungi penerbit perguruan tinggi. Jadi, dalam pandangan saya tidak mudah menyatukan seluruh kepentingan penulis dalam satu wadah yang diinginkan Bekraf. Di negara-negara maju, asosiasi penulis yang memang terspesialisasi sehingga tidak ada satu asosiasi penulis yang menaungi seluruh jenis penulis dari berbagai ranah dan laras.
  5. Masalah terkait Standardisasi dalam hal ini terkait disusunnya standar di bidang konten sehingga para penulis memiliki acuan dalam berkarya dan mengembangkan karyanya. Standardisasi diperlukan terutama pada penulisan ranah nonfiksi. Standardisasi sebagai turunan sertifikasi juga berimbas pada standar tarif, honor, atau royalti para penulis di Indonesia.
  6. Masalah terkait Hak Cipta memang selalu menjadi masalah yang “hot” bagi banyak penulis di Indonesia. Kalau boleh saya analogikan, kita yang sudah menikah mungkin 99% tidak pernah membaca UU Perkawinan. Begitu pula para penulis yang kadang mengeluhkan soal imbalan terhadap eksploitasi hak ciptanya, mungkin 99% tidak pernah membaca UU Hak Cipta No. 28/2014 sebagai revisi dari UU Hak Cipta No. 19/2002. Penerbit pun setali tiga uang. Soal ini gamblang terlihat pada halaman prelims buku ketika penerbit mencantumkan kutipan UU Hak Cipta tentang pembajakan, sampai sekarang masih ada yang menggunakan UU lama. Jadi, di sini sosialisasi konten UU Hak Cipta terkait penulisan perlu disampaikan asosiasi, termasuk tentang hak cipta turunan (derivatif) ‘subsidiary right’ yang sering kali tidak dipahami.

Hal yang harus disadari kini bahwa penulis tidak hanya hidup dari industri perbukuan, tetapi dapat hidup di semua industri dan bidang sehingga dikenal penulis spesalis berikut ini:

  • penulis medis di bidang kedokteran dan kesehatan;
  • penulis arsitektur;
  • penulis fashion;
  • penulis kuliner;
  • penulis pariwisata;
  • penulis teknik;
  • penulis musik; dan
  • bermacam penulis spesialis lainnya.

Para penulis ada yang bekerja untuk perusahaan media, perusahaan telekomunikasi, perusahaan makanan, lembaga pendidikan, lembaga pemerintah, LSM, dan ada di semua bidang. Jadi, urusan soal royalti buku itu masih urusan sempit dunia penulisan dalam konteks industri buku. Urusan lainnya masih banyak.

Contoh kasus bahwa di dalam standar biaya umum (SBU) pemerintah hanya ada satu nomenklatur penulisan yaitu penulisan konten web/situs yang dihargai Rp100.000,00 per halaman. Untuk konten lainnya, termasuk penulisan buku, pemerintah tidak memiliki acuan yang jelas karena juga tidak ada nomenklaturnya. Padahal, pekerjaan bidang ini ada sepanjang tahun.

Menyambut UU Sistem Perbukuan

Saya salah seorang yang diminta Panja RUU Sistem Perbukuan (Sisbuk), Komisi X DPR-RI untuk menjadi tim pendamping ahli pembahasan RUU Sisbuk. Tugas ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menyelami banyak permasalahan dalam dunia perbukuan, termasuk tentang penulis dan penulisan. DPR dan Pemerintah tampaknya bersepakat untuk dibentuknya lembaga perbukuan yang akan menjadi regulator di bidang perbukuan.

Cek pemberitaannya di Antara News.

Profesi penulis tentu tidak luput dari perhatian lembaga ini kelak, termasuk amanat di dalam RUU yang mendorong dibentuknya asosiasi profesi penulis. Di dalam konten RUU juga terdapat pasal tentang penulis menyangkut hak dan kewajibannya.

RUU Sisbuk ditargetkan DPR dapat dituntaskan pada akhir 2016 dan segera diberlakukan. Artinya, pembentukan asosiasi profesi penulis juga akan menemukan momentumnya ketika profesi ini di dalam konteks industri perbukuan juga akan dilindungi UU. Apa yang dikhawatirkan oleh Pak Langit setidaknya juga sudah diakomodasi oleh UU. Namun, jelas penulis akan lebih kukuh lagi jika memiliki asosiasi profesi dengan segala perangkatnya.

***

Penulis semakin hari semakin banyak yang lahir dan muncul. Namun, dari sekian banyak yang lahir dan muncul, boleh dikatakan sebagian besar tidak dapat disebut sebagai literator atau penulis profesional. Pembinaan dan pendampingan dalam satu wadah diperlukan untuk mencetak para literator tadi.

Kuantitas dan kualitas penulis dapat menjadi indikator tingginya daya literasi pada bangsa Indonesia dan penguatan akar budaya. Masih banyak kekayaan bangsa Indonesia yang belum dituliskan oleh orang Indonesia sendiri. Jadi, mengkhawatirkan jika makin banyak orang asing belajar bahasa Indonesia dan menulis dengan baik dalam bahasa Indonesia, merekalah yang akan menjadi literator dari kekayaan bangsa kita. Kita menjadi merasa asing di negeri sendiri.[]