Panggilan Menjadi Penulis Profesional

Bambangtrim.com | Ini terobosan pelatihan penulisan standar profesional yang digagas Institut Penulis Indonesia dengan mengadopsi pola pelatihan serupa di negara-negara maju. Nomenklatur Penulisan dan Penyuntingan telah diakui dalam pendidikan vokasional negara-negara maju untuk menghasilkan para penulis profesional yang menguasai penulisan dan penyuntingan dari dasar hingga tahap mahir.

Pelatihan dasar (basic training) cocok untuk diikuti para penulis pemula, praktisi dan profesional yang ingin menguasai keterampilan menulis, para pendidik, dan siapa pun yang menaruh perhatian terhadap keterampilan menulis. Outcomes yang diharapkan dari pelatihan tingkat dasar, yaitu

  • peserta dapat menjadi penulis konten digital;
  • peserta dapat menjadi kontributor media;
  • peserta dapat menjadi penulis lepas;
  • peserta dapat menjadi penulis bidang kehumasan.

Pada era digital kini, keterampilan menulis menjadi semakin penting untuk dikuasai mengingat banyaknya produksi konten tulisan yang disebarkan setiap waktu. Ada banyak kebutuhan untuk menyebarkan konten-konten tertulis tersebut.

Penguasaan keterampilan menulis penting bagi mereka yang hendak berprofesi sebagai penulis profesional dengan menghasilkan karya tulis mandiri atau menyediakan jasa penulisan. Selain itu, keterampilan ini juga penting bagi semua orang yang dalam aktivitas sehari-harinya diwajibkan untuk menulis, seperti menulis laporan, menulis proposal, menulis surat, dan banyak lagi.

Berikut ini informasi lengkap tentang Pelatihan Penulisan dan Penyuntingan Profesional (3P) yang diselenggarakan Inspena.

Informasi Umum

Nama Kegiatan Pelatihan Penulisan dan Penyuntingan Profesional Tingkat Dasar
Waktu & Tempat 18-19 November 2016, Hotel Balairung, Jakarta (Angkatan I)

8-9 Desember 2016, Hotel Bumi Sawunggaling, Bandung (Angkatan II)

Biaya Rp1.800.000,00 (18-19 November) belum termasuk penginapan
Rp2.5000.000,00 (8-9 Desember) sudah termasuk penginapan satu malam
Jam Pelajaran 20 jp (16 jam) Angkatan I

23 jp (18 jam) Angkatan II

Target Peserta Umum
Alokasi Peserta 12 orang untuk 18-19 November 2016

12 orang untuk 8-9 Desember 2016

Instruktur Bambang Trimansyah dan Tim
Metode Kuliah, Praktik, dan Simulasi
Peralatan Peserta wajib membawa laptop atau netbook untuk praktik.

 

Dasar Pemikiran

Penulisan dan Penyuntingan telah menjadi nomenklatur ilmu dan keterampilan yang diajarkan di negara-negara maju dan juga negara-negara yang menaruh perhatian pada kemajuan daya literasi masyarakat bangsanya. Sayangnya, di Indonesia nomenklatur ini tidak dikenal. Keterampilan menulis dan menyunting lebih banyak diajarkan secara parsial, bahkan hanya setingkat mata pelajaran pada pendidikan dasar dan menengah atau hanya setingkat mata kuliah pada pendidikan tinggi. Padahal, keterampilan menulis dan menyunting sangatlah kompleks.

Untuk itu, Institut Penulis Indonesia di bawah naungan PT Inkubator Penulis Indonesia tengah merintis diakuinya nomenklatur penulisan dan penyuntingan naskah melalui penyelenggaraan pelatihan dengan metode yang standar. Pelatihan ini akan sangat bermanfaat bagi siapa pun yang ingin membina diri dalam keterampilan menulis, baik sebagai profesi ataupun sebagai pendukung pekerjaan karena adanya tugas-tugas menulis.

Pelatihan 3P (Penulisan dan Penyuntingan Profesional) diselenggarakan selama dua hari untuk tingkat dasar dengan konsentrasi pada kemampuan menulis artikel/esai, berita, dan karangan khas (feature) serta kemampuan menyunting dasar (basic copyediting).

Objektif

  1. mendorong peserta mampu menghasilkan karya tulis berkualitas dan sekaligus mampu menyuntingnya secara mandiri;
  2. memasyarakatkan dan menanamkan proses penulisan standar, yaitu prewriting-drafting-revising-editing-publishing;
  3. menginformasikan kepada para peserta ranah dan laras penulisan dan mengenali ranah induk;
  4. memacu produktivitas para peserta untuk menghasilkan karya tulis yang berkualitas.

Metode dan Materi

Pelatihan Penulisan dan Penyuntingan Profesional menggunakan metode standar pengajaran menulis-menyunting, yaitu Prewriting-Drafting-Revising-Editing-Publishing sebagai satu kesatuan proses. Metode ini disampaikan melalui kuliah, praktik, dan simulasi. Peserta akan mendapatkan bahan ajar berupa handout, presentasi Powerpoint, dan juga bahan praktik untuk mengukur tingkat daya serap peserta terhadap materi yang disampaikan.

Adapun materi yang disampaikan dalam pelatihan, yaitu

  • Pengantar: dunia penulisan profesional, ranah dan laras tulisan;
  • Prewriting: mengembangkan gagasan dan kerangka (ragangan);
  • Drafting: menulis bebas;
  • Revising: memperbaiki struktur tulisan dan penyajian;
  • Editing: menyunting mandiri bahasa, data dan fakta, serta legalitas dan kesopanan;
  • Publishing: mekanisme penerbitan karya;
  • Studi Kasus: tulisan buruk, tulisan baik, tulisan berpengaruh.

Benefit

Lulusan program pelatihan IPI akan mendapatkan

  • pembinaan profesionalitas profesi sebagai penulis atau editor melalui Jejaring Institut Penulis Indonesia (JIPI);
  • pelibatan langsung dalam proyek-proyek penulisan-penerbitan yang ditangani IPI melalui program magang dan program kemitraan;
  • pendirian cabang IPI di berbagai daerah di Indonesia.

Profil Institut Penulis Indonesia

Institut Penulis Indonesia (Inspena atau IPI) didirikan pada Februari 2016 sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan serta kajian di bidang penulisan-penerbitan, dan juga penyedia layanan penulisan-penerbitan. IPI resmi diluncurkan pada 18 Juni 2016 di Kemendikbud RI. Lembaga ini digagas oleh praktisi penulisan-penerbitan yaitu Bambang Trim, Abi Ratno, dan Fachmy Casofa yang merupakan para praktisi di dunia penulisan-penerbitan. Visi IPI adalah menjadi menjadi penyelenggara diklat dan jasa penulisan-penerbitan terbesar di indonesia.

Pendaftaran Peserta

Pendaftaran dapat melalui:

  • Pos-el: institutpenulis.id@gmail.com
  • Telp. 021-3909237; Faks. 021-3909279 (Narahubung: Loly)
  • Mala 087881361030

Beasiswa Pelatihan

IPI memberikan beasiswa pelatihan untuk dua orang peserta pada setiap event dengan pengem­balian 100% uang pelatihan (syarat dan ketentuan berlaku).

Syarat dan Ketentuan Penerima Beasiswa:

  • Lulusan minimal D3;
  • Usia maks. 25 tahun;
  • Menguasai satu bidang ilmu atau keterampilan dengan sangat baik;
  • Mengirimkan esai berjudul “Mengapa Saya Harus Mampu Menulis” sepanjang 600 kata (A4, 1 spasi).

Kirimkan Biodata (CV) dan esai ke institutpenulis.id@gmail.com dengan Subject: Beasiswa Penulisan Jakarta (untuk pelatihan di Jakarta) dan Beasiswa Penulisan Bandung (untuk pelatihan di Bandung) sebelum tanggal 15 November 2016.

Menyelisik Relung-Relung Ilmu Editing

Bambangtrim.com | Nomenklatur editing sebagai ilmu mungkin tidak terlalu dikenal di dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hanya pernah sekali digunakan sebagai nama Program Studi D-3, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran. Akan tetapi, prodi tersebut sudah tidak ada lagi.

Prodi sejenis menggunakan nomenklatur lebih umum yaitu ‘penerbitan’ seperti yang ada di Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia). Sebelumnya jurusan penerbitan juga ada di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), namun kini lebih mengarah pada ilmu jurnalistik.

Jika merujuk pada pengembangan ilmu ini di luar negeri, khususnya negara Eropa dan Amerika, terdapat nomenkaltur ‘professional writing and editing‘ serta ‘publishing studies‘. Pada pendidikan vokasi, nomenklatur ‘professional writing and editing‘ sering dijadikan nama program studi, sedangkan ‘publishing studies‘ digunakan untuk pendidikan jenjang S-1 hingga S-3.

Posisi Editing sebagai Ilmu

Tidaklah diragukan jika ‘editing’ ditempatkan sebagai sebuah ilmu plus keterampilan mengingat banyaknya relung ilmu editing. Seseorang yang belajar editing secara autodidak tanpa mengambil pendidikan formal atau nonformal di bidang editing tentu tidak akan banyak tahu “lekuk-lekuk” ilmu editing yang begitu banyak.

Hal inilah yang terjadi pada sebagian besar editor di Indonesia. Mereka lahir sebagai editor autodidak dan umumnya hanya berbekal penguasaan terhadap suatu bidang ilmu, tetapi tidak untuk ilmu editing atau ilmu penerbitan.

Contohnya, editor buku matematika biasanya berlatar belakang pendidikan matematika, baik S-1 maupun S-2, tetapi belum tentu menguasai ilmu editing. Alhasil, mereka lebih berfokus pada konten matematika pada suatu naskah. Adapun untuk tata tulis atau penyajian bahasa naskah tidaklah terlalu diperhatikan.

Kelemahan-kelemahan ini terkadang tidak dapat ditutupi meskipun kemudian penerbit mempekerjakan proof reader (korektor). Baca pruf (proof reading) tidaklah sama dengan editing.

Kompleksitas Ilmu Editing

Ilmu editing dan ilmu penerbitan sendiri memang terkait dengan ilmu-ilmu lainnya. Sepengalaman mendalami editing di Prodi D-3 Editing Unpad dan S-1 Sastra Indonesia Unpad, ada beberapa bidang ilmu yang terkait dengan pemelajaran editing, yaitu

  1. ilmu kebahasaan;
  2. ilmu sastra;
  3. ilmu perpustakaan;
  4. ilmu grafika (pencetakan);
  5. ilmu penerbitan destop (desktop publishing);
  6. ilmu desain komunikasi visual;
  7. ilmu komunikasi; dan
  8. ilmu penerbitan.

Keterkaitan antar-ilmu ini sangat berhubungan dengan aspek-aspek penyuntingan pada sebuah naskah. Ada tujuh aspek yang populer disebutkan sebagai aspek yang diedit, yaitu

  1. keterbacaan dan kejelahan (readability dan legibility) berhubungan dengan ilmu DKV, tipografi, dan grafika;
  2. ketaatasasan/konsistensi berhubungan dengan tata tulis dan pedoman gaya selingkung;
  3. kebahasaan berhubungan dengan ejaan dan tata bahasa;
  4. kejelasan gaya bahasa (ketedasan) berhubungan dengan gaya penulisan (stilistika);
  5. ketelitian data dan fakta berhubungan dengan validitas data dan fakta;
  6. kepatuhan legalitas dan kepatutan berhubungan dengan hak cipta, etika, dan keamanan;
  7. ketepatan rincian produksi berhubungan dengan efisiensi penerbitan, kemudahan penggunaan, dan grafika.

Jadi, memang sangat kompleks sehingga seorang editor dituntut memiliki kompetensi multidisiplin ilmu. Hal ini menarik sekaligus menantang bagi orang-orang yang memiliki renjana menekuni dunia tulis-menulis sekaligus media penerbitan.

Klasifikasi Editing

Ada klasifikasi editing yang selalu dijelaskan di dalam buku-buku tentang editing. Klasifikasi ini sangat berhubungan dengan pembagian tugas editor di sebuah organisasi penerbit yang besar dan kompleks.

Berikut klasifikasi editing yang kerap disebutkan:

  1. editing mekanikal (mechanical editing);
  2. editing pengembangan (developmental editing);
  3. editing struktural (structural editing); dan
  4. editing gambar (pictorial editing).

Keseluruhan ilmu editing sering juga disebut copy editing yang terbagi atas editing ringan (light), editing sedang (medium), dan editing berat (heavy). Ada juga yang mengategorikan editing nomor 2 dan 3 sebagai substantive editing.

Dengan begitu banyaknya relung editing ini mewujudlah pemeringkatan profesi editor dengan kategori editor muda (junior), editor madya, dan editor utama (senior). Di dalam organisasi penerbit besar terdapat penyebutan editorial assistant, copy editor, acquisition editor, right editor, managing editor, chief editor, dan sebagainya. Penyebutan itu ada yang didasarkan pada level jabatan dan ada yang didasarkan pada fungsi.

Kompetensi editing bagi seorang editor meliputi 1) keterampilan menimbang atau menilai naskah; 2) keterampilan memperbaiki naskah; 3) keterampilan mengembangkan dan mengemas naskah sesuai dengan peruntukannya; dan 5) keterampilan mengelola proses editorial.

Memasyarakatkan Editing

Ilmu dan keterampilan editing jarang diajarkan di Indonesia, baik pada pendidikan formal maupun nonformal. Pelatihan-pelatihan editing juga masih sangat terbatas seperti yang dilaksanakan oleh Institut Penulis Indonesia sejak 2017 hingga saat ini.

Beruntunglah kemudian Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) berhasil mewujudkan Standar Kompetensi Kerja Khusus (SKKK) Jabatan Kerja Editor pada 2018. Inilah untuk kali pertama editor masuk wilayah sertifikasi.

Merujuk pada SKKK Editor yang digagas Penpro, ada tiga skema uji kompetensi yang telah diajukan oleh LSP Penulis dan Editor Profesional (yang didirikan Penpro), yaitu

  1. Skema Klaster Penyuntingan Akusisi;
  2. Skema Klaster Penyuntingan Naskah; dan
  3. Skema Klaster Penyuntingan Substantif.

Ketiga skema tersebut telah diverifikasi oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). Sertifikasi untuk profesi editor akan mulai diintensifkan pada 2019. Hal ini sebagai upaya memasyarakatkan profesi editor.

Untuk kepentingan pelatihan editor berbasis kompetensi, Institut Penulis Indonesia akan mengambil peran dengan menyusun silabus pelatihan kompetensi untuk tiga klaster editor, yaitu Editor Akuisisi (Pemerolehan Naskah), Editor Naskah, dan Editor Substantif. Pelatihan editor ini mulai digalakkan pada tahun 2019.

Kabar melegakan juga datang dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi). Ikapi dengan dukungan asosiasi profesi lainnya telah mewujudkan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) Bidang Penerbitan Buku atas dukungan Kemenkominfo pada 2018. Inilah SKKNI pertama di bidang penerbitan buku di Indonesia.

Dalam proses prakonvensi dan konvensi, saya ditunjuk sebagai ketua tim perumus. SKKNI tersebut memuat juga kompetensi editing bagi seseorang yang hendak disertifikasi dalam bidang penerbitan buku. Mengapa? Karena kompetensi editing atau editorial adalah kompetensi inti yang menjiwai seluruh aktivitas penerbitan.

***

Artikel ringkas ini hanya mengungkap secara umum saja relung-relung ilmu editing. Jika dibahas secara detail, akan mewujudkan menjadi satu buku. Saya pernah menuliskan secara lengkap di dalam buku 200+ Solusi Editing Naskah untuk Penerbitan yang diterbitkan oleh Penerbit Bumi Aksara. Buku setebal lebih dari 300 halaman itu pun belum cukup mampu menjelaskan seluk-beluk dunia editing.

 

 

Pendidikan Vokasi Menulis dan Penulis Bersertifikat

2

Bambangtrim.com | Apakah menulis itu sebuah keterampilan yang patut dihargai layaknya sebuah profesi mentereng lainnya? Atau pertanyaan lebih lugas apakah penulis itu profesi? Jika bukan profesi, mengapa penulis itu dicari-cari dan eksis dari zaman dahulu hingga sekarang?

Pada kenyataan tidak semua orang mampu menjadi penulis profesional meskipun yang mengaku-ngaku sebagai penulis profesional banyak sekali. Penulis profesional ada yang mengambil jalur generalis dan ada yang mengambil jalur spesialis.

Dalam hal spesialis pembedanya juga bermacam-macam. Ada spesialis ranah turunan dari ranah induk (fiksi-nonfiksi-faksi). Contohnya, penulisan jurnalistik, penulisan akademis, penulisan kreatif, dan penulisan bisnis. Ada pula spesialis berdasarkan bidang, seperti penulisan medis, penulisan teknik, dan penulisan sejarah.

Penulis berbeda dengan pengarang (author). Karena itu, penulis kemudian berkembang sebagai profesi jasa yang dapat dilakukan secara perseorangan atau kelompok. Tentu saja penulis jasa tidak bekerja layaknya penulis/pengarang secara umum yang menghasilkan karya mandiri dalam bentuk buku sehingga mereka dikenal khalayak. Penulis jasa bekerja untuk semua bidang yang memerlukan pekerjaan penulisan dan mereka cenderung makhluk ‘soliter’.

Di negara-negara maju, telah ada yang namanya sertifikasi penulis, baik itu dalam ranah tertentu atau bidang ilmu tertentu. Penulis bersertifikat dipercaya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan khusus penulisan dengan standar bayaran per jam, per halaman, atau per proyek penulisan.

Sayangnya, sekali lagi sayang, sampai kini di Indonesia tidak ada asosiasi profesi penulis sehingga standardisasi pun tidak ada. Sebelumnya memang pernah ada sebagai gagasan para sastrawan.

Dalam buku Leksikon Susastra Indonesia yang disusun Korrie Layun Rampan disebutkan pernah ada Himpunan Pengarang Indonesia Aksara (HPI Aksara) berdiri tahun 1981 yang dipelopori para pengarang perempuan, seperti Titie Said, Titiek W.S., Maria A. Sardjono, Sari Narulita, dan La Rose. Pembentukan organisasi ini juga didukung oleh Gerson Poyk, Arswendo Atmowiloto, Korrie Layun Rampan, Hamsad Rangkuti, Rahmat Ali, Matheus Elanda Yosi Ds., Leon Agusta, dan lain-lain. Tercatat ketua terakhirnya tahun 1996 adalah Titiek W.S.

Dalam makalahnya pada Kongres Perbukuan Nasional I (29–31 Mei 1995), Titie Said mencatatkan beberapa organisasi penulis/pengarang Indonesia yang pernah ada, yaitu

  1. Himpunan Pengarang Indonesia Aksara;
  2. Ikatan Pengarang Indonesia (IPINDO);
  3. Persatuan Penulis Indonesia (Peperindo);
  4. Wanita Penulis Indonesia (WPI);
  5. Forum Sastra Wanita “Tamening” di Sumatra Barat (baru berdiri kala itu).

Selain organisasi tersebut, beberapa himpunan penulis juga bertumbuh di daerah, seperti Yogya, Bandung, Bengkulu, dan daerah lainnya. Jadi, yang terbentuk sebenarnya bukanlan asosiasi profesi, melainkan hanya komunitas-komunitas penulis. Komunitas terbesar yang kini masih berdiri adalah Forum Lingkar Pena (FLP).

Jika dalam draf RUU Sisbuk, profesi Penulis disebutkan dan diuraikan secara khusus dalam bab tertentu, berarti Pemerintah juga tengah memberi peluang ‘penulis’ muncul sebagai sebuah profesi yang mapan. Artinya, asosiasinya pun harus jelas dan memiliki Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) layaknya seperti profesi lain sehingga penulis pun bersertifikat. Dalam bayangan saya ada sertifikasi untuk penulis muda, penulis madya, dan penulis mahir (senior) dalam berbagai ranah.

Namun, SKKNI penulis ini tidak ada, kecuali nomenklatur untuk ilmu dan keterampilan jurnalistik atau kehumasan yang di dalamnya juga terkandung keterampilan menulis. Di luar negeri, penulisan, penyuntingan, dan penerbitan telah menjadi nomenklatur untuk pendidikan vokasional–berbeda dengan jurnalistik dan humas. Lebih jauh untuk pendidikan S1 hingga S3 terdapat nomenklatur ilmu penerbitan (publishing study).

Karena tiadanya SKKNI, termasuk perumusan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD), wajar jika penulis “belum diakui” sebagai profesi. Padahal, pekerjaan dan keterampilannya diperlukan. Dalam standar biaya umum (SBU) Pemerintah hanya ada satu pekerjaan menulis yang dihargai yaitu penulisan konten situs web seharga Rp100.000,00 per halaman. Saya pernah diminta oleh Direktorat Sejarah Kemendikbud untuk memberikan saran harga per halaman penulisan buku, sejatinya karena mereka bingung tentang standar harga penulisan seperti ini.

Menggagas Pendidikan Vokasional

Lewat Institut Penulis Indonesia saya mencoba menggagas dan merintis pendidikan vokasional di bidang penulisan sekaligus sertifikasi untuk para penulis dan editor.

Menurut saya ini sudah mendesak karena saya iri juga melihat bidang lain sudah memiliki SKKNI seperti yang tercantum pada www.infokursus.net. Contohnya, akupunktur, jasa usaha makanan, MC, dan profesi musik punya SKKNI, sedangkan penulis yang juga dapat dipetakan kompentensinya malah tidak.

Saya kira ini satu misi dalam hidup saya yang harus dituntaskan yaitu adanya standar kompetensi profesi penulis dan nantinya juga editor serta adanya pendidikan vokasional yang menyiapkan tenaga-tenaga penulis dengan ilmu dan keterampilan yang standar di Indonesia. Mengapa? Soal keandalan literasi tidak dapat dilepaskan dari mutu para penulis di Negeri ini.[]

Adakah Dia di Dalam Tulisanmu?

BambangTrim.com | DIA dengan huruf besar yang menggerakkan pikiran dan perasaan manusia untuk menuliskan sesuatu. DIA dengan huruf kapital yang menjentikkan ide sehingga seseorang mampu menghasilkan tulisan-tulisan bermutu, mengajak pada kebaikan dan perbaikan hidup. DIA yang selalu ada selama 24 jam dan “tidak pernah tidur”.

Adakah DIA, Tuhan Semesta Alam di dalam tulisanmu? Kalau ada Dia, tentu tulisanmu penuh dengan energi cinta-Nya. Tulisanmu tidak mungkin berisikan pesimistis, tetapi dipenuhi optimistis. Tulisanmu tidak berisikan ketinggian hati, tetapi justru kerendahan hati. Tulisanmu tidak berisikan keluhan, tetapi dipenuhi harapan. Tulisanmu tidak akan berisikan fitnah dan caci maki, tetapi kebenaran dan penghormatan kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Tulisanmu tidak akan dipenuhi dendam, tetapi maaf yang tenteram.

Adakah DIA di dalam tulisanmu? Untuk itu, engkau perlu berdoa sebelum mulai menulis; berharap DIA menemanimu sampai tata kata terakhir. Dengan adanya DIA, tulisanmu adalah magnet kebaikan untuk semesta. Segala kebaikan mengundang rezeki yang tidak tertahankan.

Menulislah dengan menyebut nama-Nya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Pelatihan dan Konsultasi Penulisan untuk Lembaga Pemerintah

BambangTrim.com | Tidak ada satu bidang pun yang dapat lepas dari urusan tulis-menulis. Tidak terkecuali hal itu juga berlaku untuk lembaga pemerintah yang melakukan juga publikasi tertulis secara tercetak melalui media cetak ataupun secara digital di media daring (online).

Meskipun pekerjaan penulisan dapat dialihdayakan, tetap saja pimpinan ataupun personel lembaga pemerintah yang berkepentingan harus memiliki kemampuan untuk menilai hasil kerja para penulis lepas tersebut. Dengan demikian, publikasi tertulis yang dilakukan lembaga pemerintah akan terhindar dari kesalahan, ketidakakuratan, serta ketidakcocokan gaya penulisan yang dapat mengganggu citra lembaga.

Untuk itu, Bambang Trim sebagai penulis dan editor profesional dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, membuka peluang kerja sama penyelenggaraan pelatihan di bidang penulisan dan juga jasa penulisan-penerbitan, khususnya dalam bidang penulisan kedinasan ataupun penulisan akademis untuk lembaga pemerintah, seperti pusdiklat, balitbang/puslitbang, ataupun direktorat-direktorat lainnya.

Adapun materi tulisan yang dapat dilatihkan, yaitu

  1. korespondensi(surat menyurat);
  2. proposal;
  3. laporan;
  4. kehumasan;
  5. copyediting;
  6. teks pidato;
  7. presentasi;
  8. bahan ajar;
  9. dan sebagainya.

Bambang Trim telah berpengalaman memberikan pelatihan dan juga konsultasi di bidang penulisan, penyuntingan, serta penerbitan untuk beberapa lembaga pemerintah, yaitu

  1. Setneg Wapres RI;
  2. BPK RI;
  3. KPK;
  4. BPKP;
  5. Pusdiklat Kemenperin;
  6. Pusdiklat Kemenhut;
  7. Balitbangtan Kementan;
  8. Subdiklatnakes Kemenkes;
  9. Balitbang Kemenkes;
  10. Pusdiklat Kemenkeu;
  11. Ditjen Pajak;
  12. Dikdasmen Kemendikbud;
  13. Ditjen PAUDNI Kemendikbud;
  14. Ditjen Binapenta Kemnaker;
  15. Puslitair Kemen PUPR;
  16. LIPI Press;
  17. IAARD Press;
  18. PDII LIPI;
  19. Pusbindiklat LIPI;
  20. Ditjen PDN Kemendag;
  21. Puskurbuk Kemendikbud;
  22. dan sebagainya.

Kontak langsung untuk kebutuhan pelatihan dan penulisan via HP/WA 081519400129 atau pos-el ke InstitutPenulis.id@gmail.com.

Pelatihan Penulisan Laporan di BPK RI
Pelatihan Penulisan Laporan di BPK RI

Pelatihan dan Konsultasi Penulisan untuk BUMN/BUMD/Perusahaan

BambangTrim.com | Tidak ada satu bidang pun yang dapat lepas dari urusan tulis-menulis. Tidak terkecuali hal itu juga berlaku untuk dunia usaha/bisnis di bidang apa pun. Perusahan, baik itu BUMN, BUMD, ataupun swasta melakukan juga publikasi tertulis secara tercetak melalui media cetak ataupun secara digital di media daring (online).

Meskipun pekerjaan penulisan dapat dialihdayakan, tetap saja pimpinan ataupun personel perusahaan yang berkepentingan harus memiliki kemampuan untuk menilai hasil kerja para penulis lepas tersebut. Dengan demikian, publikasi tertulis yang dilakukan organisasi/perusahaan akan terhindar dari kesalahan, ketidakakuratan, serta ketidakcocokan gaya penulisan yang mengganggu citra organisasi/perusahaan.

Untuk itu, Bambang Trim sebagai penulis dan editor profesional dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, membuka peluang kerja sama penyelenggaraan pelatihan di bidang penulisan dan juga jasa penulisan-penerbitan, khususnya dalam bidang penulisan bisnis.

Adapun materi tulisan yang dapat dilatihkan, yaitu

  1. korespondensi(surat menyurat);
  2. proposal;
  3. laporan;
  4. copywriting (teks iklan);
  5. copyediting;
  6. teks pidato;
  7. presentasi;
  8. dan sebagainya.

Bambang Trim telah berpengalaman memberikan pelatihan dan juga konsultasi di bidang penulisan, penyuntingan, serta penerbitan untuk beberapa perusahaan, yaitu

  1. PT Badak NGL (jasa penulisan-penerbitan);
  2. PT Telkom (pelatihan dan jasa penulisan);
  3. PTPN XII (pelatihan dan jasa penulisan);
  4. PT Indosat Ooredoo (pelatihan);
  5. Samsung Electronic Indonesia (pelatihan);
  6. PT PLN Persero Sumut (pelatihan);
  7. dan sebagainya.

Kontak langsung untuk kebutuhan pelatihan dan penulisan via HP/WA 081519400129 atau pos-el ke InstitutPenulis.id@gmail.com.

Pelatihan Penulisan Kedinasan di PTPN XII, Jawa Timur
Pelatihan Penulisan Kedinasan di PTPN XII, Jawa Timur

Pelatihan dan Konsultasi Penulisan untuk Perbankan/Asuransi

BambangTrim.com | Tidak ada satu bidang pun yang dapat lepas dari urusan tulis-menulis. Tidak terkecuali dunia perbankan dan asuransi. Lembaga keuangan memerlukan juga publikasi tertulis yang dilakukan secara tercetak dengan berbagai media ataupun secara digital di media daring (online).

Meskipun pekerjaan penulisan dapat dialihdayakan, tetap saja personel perusahaan yang berkepentingan harus memiliki kemampuan untuk menilai hasil kerja para penulis lepas tersebut. Dengan demikian, publikasi tertulis organisasi/perusahaan akan terhindar dari kesalahan, ketidakakuratan, serta ketidakcocokan gaya penulisan yang dapat mengganggu citra organisasi/perusahaan.

Untuk itu, Bambang Trim sebagai penulis dan editor profesional dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, membuka peluang kerja sama penyelenggaraan pelatihan di bidang penulisan untuk kepentingan perbankan/asuransi, khususnya dalam bidang penulisan bisnis. Adapun materi tulisan yang dapat dilatihkan, yaitu

  1. korespondensi(surat menyurat);
  2. proposal;
  3. laporan;
  4. copywriting (teks iklan);
  5. copyediting;
  6. dan sebagainya.

Bambang Trim telah berpengalaman memberikan pelatihan dan juga konsultasi di bidang penulisan, penyuntingan, serta penerbitan untuk beberapa lembaga perbankan/asuransi, yaitu

  1. Bank Sumsel Babel (Pelatihan);
  2. Bank Syariah Mandiri (Pelatihan);
  3. PT Asuransi Takaful Indonesia (Jasa Penulisan-Penerbitan);
  4. PT Prudential Indonesia (Jasa Editing).

Kontak langsung untuk kebutuhan pelatihan dan penulisan via HP/WA 081519400129 atau pos-el ke InstitutPenulis.id@gmail.com.

Pelatihan Penulisan Profesional di Bank Sumsel-Babel
Pelatihan Penulisan Profesional di Bank Sumsel-Babel

Pelatihan #InsafMenulisBuku

BambangTrim.com | Menulis buku itu serius, tetapi belajar dan berlatih mewujudkannya dapat dilakukan serius-santai. Apa yang penting Anda harus insaf dulu bahwa menulis buku itu sangat penting untuk karier Anda ataupun untuk kehidupan Anda.

Saya ingin mengajak Anda insaf menulis buku sekaligus benar-benar mewujudkannya menjadi draf buku yang diinginkan penerbit atau pembaca. Saya yakin setiap orang memiliki buku di dalam dirinya sehingga patut segera dikeluarkan.

Temukan pengalaman menggagas dan menulis buku pada 10-11 Agustus 2016 di Bandung bersama dua orang praktisi penulisan buku. Anda benar-benar akan dibimbing menikmati proses penulisan buku sehingga dapat Anda praktikkan untuk buku-buku lainnya.

13645173_10205310268796658_2004908872732829896_n

 

Konsultasikan Rencana Penulisan Buku Nonfiksi Anda, Gratis

BambangTrim.com | Anda punya rencana untuk menerbitkan buku? Anda masih bingung apakah naskah Anda memiliki kekuatan pasar dan bagaimana Anda memulai penerbitannya?

Sejak berprofesi sebagai editor tahun 1995, saya sudah terbiasa untuk meninjau dan menilai naskah. Kemudian, tahun 2000, saya mulai terbiasa memberikan konsultasi untuk perseorangan ataupun organisasi/lembaga.

Antusiasme Menulis

Kini Anda dapat mengonsultasikan kepada saya tanpa biaya. Syarat-syaratnya, yaitu

  • Rencana naskah yang dikonsultasikan dapat berupa topik yang akan dikembangkan ataupun kerangka (outline) naskah khusus untuk buku nonfiksi atau faksi (biografi/autobiografi/memoar). Dengan demikian, saya tidak menerima konsultasi untuk naskah fiksi (novel, cerpen, dsb.).
  • Rencana naskah harus menyertakan biodata singkat penulis, terutama latar belakang pendidikan, pengalaman, atau kepakaran.
  • Rencana naskah harus menyertakan karakteristik pembaca sasaran yang Anda tuju untuk naskah Anda.

Kirim rencana naskah yang hendak Anda konsultasikan ke pos-el InstitutPenulis.id@gmail.com. Silakan add Pin BBM saya di 5856F6B2 untuk komunikasi ringkas.

Saya akan memberikan jawaban profesional untuk konsultasi pertama dan kedua kepada Anda. Hal-hal yang dapat Anda tanyakan adalah

  • seputar penulisan naskah;
  • seputar perjanjian naskah dan hak cipta;
  • seputar editing naskah;
  • seputar produksi naskah menjadi buku;
  • seputar pemasaran buku;
  • seputar penerbitan (self-publishing, vanity publishing, general publishing).

Saya tidak akan melayani konsultasi untuk penulis yang tidak menyertakan biodata atau menyembunyikan identitasnya. Saya menjamin kerahasiaan data dan ide penulis. Silakan kenali profil saya di sini.

Jangan Ragu Menulis, Ada Saya

Seorang ibu guru galau menghadapi sebuah tugas menulis cerita anak dari kampusnya. Ia berkonsultasi pada saya lewat WA. Saya menjawab sesuai dengan yang ditanyakan. Namun, tiba bagaimana mengawali menulis dan mengembangkannya, saya tidak dapat menjawab banyak secara terbatas via WA.

Akhirnya, saya menawarkannya untuk mengambil privat menulis. Ia setuju, lalu tiba pada hari yang dijanjikan, saya pun berangkat menuju selatan Jakarta. Hanya lebih kurang tiga jam saya membimbingnya menulis cerita anak dan memberikan juga beberapa contoh sekaligus tugas.

Konsultasi akan dilanjutkan setelah ia mengirimkan PR-nya melakukan prewriting dan drafting. Itulah salah satu contoh bagaimana saya membuat orang mau dan mampu menulis–membimbing dengan proses dan langsung praktik.

Saya memang sudah kerap melatih dan mendampingi oran menulis buku sejak tahun 2000. Sebuah buku autobiografi pertama yang saya tuliskan adalah autobiografi seorang dokter militer yang pernah memimpin RSCM. Ada kisah haru di baliknya karena begitu buku selesai, beliau mengembuskan napas terakhirnya. Namun, poin penting beliau telah meninggalkan sebuah buku yang sangat berharga sebagia warisan bagi anak-cucunya dan tentu juga masyarakat Indonesia.

Sampai kini saya telah membantu banyak sekali pribadi yang hendak menulis buku. Soal kegalauan seperti ibu guru tadi juga kerap saya temukan. Namun, pengalaman saya menghasilkan lebih dari +160 judul buku telah mengakrabkan saya dengan masalah-masalah menulis.

Anda yang masih ragu atau galau soal menulis, silakan kontak saya melalui WA di 081519400129 atau pos-el ke bambangtrim72@gmail.com. Saya siap membantu Anda di mana pun. Soal harga, hal itu dapat dinegosiasikan sepanjang bantuan yang Anda inginkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang saya anut soal menulis seperti dalam tulisan ini. []

Totalitas Menulis Sejak 1994

BambangTrim.com | Waktu itu tahun 1994 ketika kali pertama saya mendapatkan order menulis buku pelajaran untuk sebuah grup media besar di Jawa Barat. Saya belum pernah menulis buku, tetapi patut dicoba karena menantang, apalagi menulis buku pelajaran bahasa Indonesia yang perlu energi ekstra.

Foto: Achmad Sidik
Foto: Achmad Sidik

Singkat cerita order itu dapat saya kerjakan dengan baik. Sejak itu saya keranjingan menulis buku sampai kemudian saya berpindah kerja dari Penerbit Rosdakarya ke Penerbit Salam Prima Media. Di penerbit baru ini, kreativitas saya makin tertantang, terutama untuk menulis buku anak dan juga buku umum.

Saat pecah peristiwa Reformasi 1998, saya sempat juga membuat buku politik berupa kumpulan kiprah para tokoh reformasi kala itu yaitu Amien Rais dan sederetan tokoh kritis lainnya. Bukunya salah satu berjudul Merintis Jalan Kritis yang diterbitkan Zaman Wacana Mulia.

Tahun 1994 adalah tonggak bagi saya sebagai penulis buku. Tahun 2004 adalah tonggak bagi saya produktif menulis beraneka buku setelah menjadi direktur di Penerbit MQS, terutama menggenjot kreativitas menghasilkan buku-buku untuk Aa Gym. Tahun 2014, sepuluh tahun kemudian dan menandai dua tahun saya berkiprah murni sebagai writerpreneur, saya belum menemukan bentuk yang ajek dari pengembangan karier saya selanjutnya.

Jelas, saat itu saya sudah memutuskan tidak akan bekerja lagi sebagai profesional. Sejak 2012, saya sudah menggantungkan sepenuhnya penghasilan dari dunia tulis-menulis setelah tidak lagi bekerja di Penerbit Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Selayaknya, saya masih dapat berkiprah di perusahaan lain dengan segudang pengalaman mengelola media, khususnya penerbitan buku. Namun, saya memutuskan sudah selesai sebagai karyawan.

Dari buku saya telah melanglang ke banyak negara dan memperoleh pengalaman berharga. Negeri yang saya kunjungi terakhir adalah Jerman, Perancis, Belgia, dan Belanda. Tahun 2015 saya juga sempat berkunjung ke Kyoto, Jepang, demi membantu seorang pengusaha Jepang menuliskan biografi hidupnya.

Tahun 2016, saya memaklumkan berdirinya Institut Penulis Indonesia sebagai lembaga pengkajian, pelatihan, dan pengembangan kapasitas menulis. Saya masih mencoba-coba memulainya sebagai edutech start-up di bidang pemasaran pelatihan khusus penulisan-penerbitan. Namun, terus terang jiwa menulis saya masih lebih besar daripada jiwa melatih untuk menulis.

Bambang-Trim-4
Ruang kreativitas saya di rumah; menulis dan terus menulis. (Foto: Deden Sopandi)

Saya sempat berada di persimpangan antara mengembangkan pelatihan menulis atau mengembangkan jasa untuk menulis buku. Lalu, saya bertemu dua orang yang biasa disebut coach. Maksud hati mereka saya bantu menulis, tetapi kemudian giliran mereka yang memberi bantuan coaching tentang apa yang saya kehendaki dalam karier selanjutnya.

Usia saya tidaklah lagi muda. Sudah 44 tahun, namun perjalanan ikhtiar boleh dibilang masih ada beberapa tahun untuk produktif. Saya kembali pada basis awal kemampuan yang telah saya asah sejak 1991 yaitu editing naskah. Keterampilan editing ternyata membentuk diri saya sebagai penulis, penyunting, sekaligus konsultan yang dapat memberi saran bagaimana sebuah buku ditulis dan dikembangkan. Itu sudah terinstal ke dalam diri saya sejak lama.

Beberapa orang yang berinteraksi dengan saya dalam soal menulis mengakui keterampilan saya mengumpulkan pasel-pasel informasi dari seseorang menjadi sebuah kerangka buku–apa pun bidangnya. Hal itu rutin saya praktikkan ketika membimbing para peneliti di LIPI setiap tahun untuk menulis buku. Hanya dalam hitungan menit, saya mampu membantu seseorang mengembangkan gagasannya untuk menjadi sebuah buku.

Menulis memang panggilan jiwa bagi saya. Itu sebabnya setiap hari saya mampu menghasilkan 2 kadang sampai 5 artikel sembari diselingi menyelesaikan beberapa naskah buku. Saya masih bersyukur pada pertengahan Juni 2016, saya menemukan apa yang saya mau dan menemukan apa yang dapat saya kembangkan dari diri saya selanjutnya pada sisa usia kini.

Manistebu-Transform
Di sebuah resort mewah dengan Danau Biwa, Prefektur Shiga, Jepang. (Foto: Valya Hibatillah)

Totalitas menulis adalah instropeksi diri saya betapa banyak waktu tersia-sia karena tidak fokus mengembangkan diri lebih lanjut. Mungkin itu jalan Tuhan untuk melemparkan diri saya dalam pencarian hakikat untuk apa saya hidup di dunia ini. Jika saya hidup untuk menulis, apakah menulis sangat bermakna bagi diri saya?

Saya ingin total menulis, baik bagi diri saya maupun orang lain. Untuk itu, saya menempatkan orang-orang yang berinteraksi dengan saya sebagai teman, mitra, dan sahabat untuk bersama-sama menghasilkan karya.[]

Mengapa Perlu Insaf Menulis Buku

BambangTrim.com | Anda seorang praktisi atau profesional yang sama sekali belum menuliskan ilmu dan pengalaman Anda ke dalam buku? Karena itu, Anda perlu insaf!

Anda seorang praktisi atau profesional yang sudah menulis buku, tetapi masih terkesan justru amatiran? Anda juga perlu insaf!

Insaf tidak sama dengan tobat. Kalau urusan tobat, berarti Anda berbuat dosa dan harus memohon ampun kepada Tuhan serta orang yang telah Anda rugikan. Kalau urusan insaf, berarti Anda mengambil jalan keliru, tinggal memutar balik atau berbelok arah agar Anda tidak terus tersesat.

Jadi, ada dua dimensi insaf menulis buku. Pertama, jika Anda benar-benar memiliki ilmu dan pengalaman berguna, insaflah untuk segera menuliskannya. Jika Anda sudah menulis buku, tetapi buku Anda kurang bergema atau mengandung formula yang keliru, insaflah untuk merevisinya.

Seorang Stephen Covey juga pernah melakukan revisi dari bukunya 7th Habits menjadi 8th Habits. Rupanya Covey menginsafi bahwa ada yang kurang dari kebiasaan menjadi manusia efektif yaitu dimensi spiritual yang disebutnya sebagai Voice atau panggilan jiwa (nurani).

Pengalaman saya setelah menulis lebih dari 160 judul buku juga mengalami keinsafan demi keinsafan dalam menulis buku. Karena itu, saya ingin berbagi tentang hal ini kepada semua orang pada 10-11 Agustus 2016. Kita membincangkan dan membedahnya selama dua hari, termasuk sesi malam hari untuk menggagas buku.

Saya akan membawa Anda mengalami proses menulis yang standar, yaitu prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Soal proses itu juga soal keinsafan yang akan Anda rasakan manfaatnya.

13645173_10205310268796658_2004908872732829896_n

 

 

 

Belajar Editing Secara Profesional

BambangTrim.com | Editing atau copy editing menjadi ilmu dan keterampilan penting pada masa kini. Jika dahulu, para editor lebih banyak bekerja di media, kini para editor diperlukan hampir di semua organisasi yang menghasilkan publikasi dan dokumen-dokumen tertulis. Citra organisasi sangat ditentukan oleh profesionalitas menangani publikasi dan dokumen tertulis.

Ambil contoh dalam pengelolaan media daring (online) semacam situs web. Jika ditelusuri, banyak sekali situs web yang dikelola lembaga pemerintah ataupun swasta mengandung kesalahan-kesalahan elementer, bahkan juga kesalahan fatal.

Editing memang penting, namun ilmu dan keterampilan ini ternyata jarang diajarkan dan dikembangkan di Indonesia. Saya, Bambang Trim, salah seorang yang berfokus terhadap itu karena saya memang mengenyam pendidkan formal di bidang editing dan publishing science di Universitas Padjadjaran. Saya pun telah menghasilkan beberapa buku tentang ediing, yaitu Copyediting (Ikapi DKI), Taktis Menyunting Buku (Maximalis), Tak Ada Naskah yang Tak Retak (TrimKom), dan 200+ Solusi Editing (dalam proses terbit Bumi Aksara).

Lalu, adakah event pelatihan editing? Ada, dalam waktu dekat diselenggarakan di Bandung pada 3-4 Agustus 2016. Pelatihan bertajuk “Pelatihan Editing Profesional” ini akan memandu peserta memahami dasar-dasar editing dan teknik editing mekanikal (mechanical editing) secara manual dan juga secara digital.

13669186_10205310268756657_5833980276904830207_n

Tiga Generasi Menulis Buku

0

Pagi Senin kemarin (11/1), saya sudah ada janji bertemu dengan seorang ibu yang pernah mengikuti pelatihan penulisan di LIPI Press. Rumah orangtuanya ternyata hanya berdurasi lima menit ke rumah saya di Cimahi.

Rupanya yang datang tidak hanya sang ibu, tetapi juga dengan anaknya dan kakek si anak. Artinya, yang datang tiga generasi sekaligus: anak-ibu-kakek. Pertemuan dibuka dulu dengan kiprah sang anak.

Baru lulus dari jurusan HI sebuah universitas swasta terkenal di Bandung, tetapi merasa renjana (passion)-nya ada di dunia menulis. Ia telah menghasilkan satu berkas naskah novel. Padahal, saat itu ia sudah mendapat tawaran menjadi dosen.

Anak zaman sekarang memang kadang punya pendirian yang kukuh. Menurutnya apa yang ia pilih untuk dikerjakan itu harus total. Jika ia memilih menjadi dosen, ia harus total mengajar. Jika ia memilih menjadi penulis atau novelis, ia pun harus total.

Saya harus kagum dengan kekukuhan pendiriannya soal fokus itu. Kalau kebanyakan dari kita kan aji mumpung dulu, menulis dan mengajar sesuatu yang sangat berhubungan. Tidak ada salahnya mencoba dulu mengajar sambil menulis. Namun, anak muda tadi tampaknya tidak bisa digoyahkan dengan pemikirannya.

Sang kakek, ayah dari si ibu yang bekerja di sebuah kementerian itu sebagai peneliti, adalah penggiat DKM di kompleks perumahannya. Ia telah mengumpulkan pemikiran-pemikiran religiositasnya dari percikan renungan tentang hakikat Islam. Ia kali pertama menunjukkan saya tentang konsep pohon rindang Islam yang terdiri atas akidah, akhlak, dan syariat.

Rupanya sang kakek juga berniat membukukan apa yang menjadi pemikirannya tersebut. Maksudnya mulia bahwa buku tersebut bisa dijadikan panduan untuk berdakwah. Panduan yang dibuat memang untuk Muslim yang ingin mencari pengetahuan menengah ke atas, bukan untuk yang baru mengenal Islam.

Saya menyimak penjelasan sang kakek dengan saksama. Ada beberapa halaman kertas yang sudah ditik dalam bentuk matriks-matriks yang saling berhubungan.

Giliran sang ibu, ia belum siap dengan konsep naskahnya. Kedatangannya lebih untuk mengantarkan putranya dan ayahnya bersua saya. Harapannya adalah benar-benar mewujudkan ide-ide dari sang putra dan ayahnya menjadi buku. Saya mengamini untuk membantu.

Tentulah sangat langka jika ada tiga generasi disatukan oleh minat yang sama yaitu menulis buku. Saya tengarai bahwa keluarga si ibu memang sudah akrab dengan kegiatan membaca sebagai pelecut keingnan untuk menulis. Membacanya juga sudah tingkat lanjut yaitu tidak lagi membaca kata-kata, tetapi sudah membaca dunia. Seperti halnya konsep literasi yang menghunjam “read the word and the world“.

Mereka keluarga yang cendekia. Sang ibu adalah seorang pakar bidang tambang yang bekerja di Kementerian ESDM. Ia begitu antusias saat saya tunjukkan bagaimana merancang sebuah rencana penulisan buku.

Sepulangnya tiga generasi calon penulis buku itu, saya beri oleh-oleh buku karya saya. Paling tidak itu menjadi bentuk apresiasi saya terhadap minat dan hasrat mereka untuk membukukan pengetahuan serta pengalamannya ke dalam buku.

RIP Sinar Harapan

0
Logo abadi Sinar Harapan (Sumber: https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj82KaD64nKAhXEW44KHdxsCV8QjRwIBw&url=http%3A%2F%2Fgerardmosterd.org%2Fonlinenews%2FIndonesia_Luminescent_www.sinarharapan.co.id.html&psig=AFQjCNGMNUZZjUxeuXGKPTMj7FDCczpsNw&ust=1451779707946653)
Logo abadi Sinar Harapan (Sumber: http://gerardmosterd.org/onlinenews )

Menyambut tahun 2016, kata “harapan” atau yang semakna dengan itu pastilah tersuratkan atau tersiratkan dalam setiap orang. Harapan untuk hidup lebih baik tentunya pada tahun baru. Namun, jika ada kata “sinar harapan” mengawali 2016 ini, ingatan pun langsung tertuju pada “raja koran sore” yang terbit di Ibu Kota, lalu kini menyatakan tutup.

Pemimpin redaksi Sinar Harapan, Eric Somba, mengatakan bahwa  Sinar Harapan cetak maupun daring berhenti terbit per 1 Januari 2016 ini. Koran tua yang terbit perdana 27 April 1961 itu pada setiap sore hari, akhirnya masuk jajaran koran yang tidak lagi mampu bertahan melawan gempuran zaman.

Bagi saya pribadi ada pengalaman yang selalu diingat. Saya dan teman-teman dari Prodi D3 Editing Unpad pernah bertandang ke dapur Sinar Harapan awal (saat itu telah menjadi Suara Pembaruan), tepatnya dapur penerbit yang dibawahkannya yaitu Pusaka Sinar Harapan. Seingat saya waktu itu kunjungan kami dalam kaitan kerja sama bazar buku.

Ada satu buku terbitan Pustaka Sinar Harapan yang menjadi acuan saya saat kuliah hingga kini. Buku yang sangat langka tentang penerbitan buku. Judulnya Pedoman Dasar Penerbitan Buku karya Hassan Pambudi. Buku itu terbitan 1981 dan saya mengoleksi cetakan keempat tahun 1996 yang kala itu berharga Rp11.000,00.

Ingatan kedua, saya tahu salah seorang sosok yang tidak dapat dilepaskan dari Sinar Harapan yaitu Aristides Kattopo. Tokoh ini juga saya ketahui sebagai salah seorang “aktor” di balik kelahiran tablodi Mutiara. Tabloid Mutiara sering saya beli karena banyak mengandung feature yang asyik dibaca. Tulisan dosen saya, Wilson Nadeak, juga sering dimuat di sana. Pak Wilson saya ketahui memang dekat dengan Pak Tides.

Tides, begitu Aristides Kattopo biasa disapa, adalah sosok pejuang pers Indonesia. Penyuka olahraga renang, catur, dan mendaki gunung ini memang dikenal sebagai “manusia outdoor“. Ia hampir tidak pernah mengenakan dasi dan kala itu rambutnya agak gondrong. Begitu seperti ditulis dalam buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986, yang disusun majalah Tempo.

Entah perasaan apa yang tergambarkan pada Tides ketika harus merelakan nasib Sinar Harapan kini. Ia ketika memimpin koran itu pernah mengalami pembreidelan zaman Orba tahun 1986. Sinar Harapan kemudian berubah wujud menjadi Suara Pembaruan. Ketika fajar Reformasi merekah, Tides adalah orang yang mendesak Sinar Harapan dihidupkan kembali. Meski ditolak oleh pemimpin Suara Pembaruan, Tides memilih keluar dan benar-benar melahirkan kembali Sinar Harapan.

Ini ungkapan perasaan Tides yang saya kutip dari CNN Indonesia:

“Saya termasuk yang menyayangkan dan sedih karena tidak lagi terbit sebagai koran sore yang dicetak,” kata Tides.

Bagi Tides, Sinar Harapan adalah tempat dia berkarya dan belajar. Tapi dia juga mengakui bahwa perkembangan industri media dan perubahan kebutuhan informasi publik tidak bisa dicegah. Apalagi, era digital perlahan tapi pasti telah menggantikan ketergantungan masyarakat dari surat kabar menjadi media dalam jaringan (daring) yang perkembangannya kian pesat.

“Media sekarang dikuasai oleh internet dan digital. Yang penting juga pembaca. Saya kira, cucu-cucu saya sudah tidak terbiasa membaca koran, mereka membaca di smartphone,” ujarnya.

Tides dan Jajang C. Noer dalam sebuah acara peluncuran buku. (Sumber: http://www.unitedindiversity.org)
Tides dan Jajang C. Noer dalam sebuah acara peluncuran buku. (Sumber: http://www.unitedindiversity.org)

Sejarah akhirnya mencatat pada akhir Juni 2001, Sinar Harapan format baru terbit dalam edisi contoh. Tanggal 2 Juli 2001, secara resmi Sinar Harapan terbit kembali. Koran ini muncul seperti bangkit dari kubur yaitu menggunakan jenis huruf dan logo yang pernah dipakainya dulu. Dan sejarah kembali mencatat, SP harus dihentikan baik cetak maupun daring (online)-nya per 1 Januari 2016.

Sedih tentu jika mendengar ada kiprah yang memang harus berhenti atau terhenti, lalu menjadi sejarah yang hanya bisa dikenang. Sedih juga rontoknya media profesional justru di tengah lahirnya media-media tidak profesional yang kini menyebar informasi sampah di internet. Namun, kita harus tetap optimistis bahwa sejarah baru bisa saja diciptakan kembali pada masa depan oleh SH sendiri ataupun orang-orang yang telah ikut berkiprah membesarkannya kini.

Ada satu paragraf saya kutip dari sinarharapan.co yang masih bisa diakses. Tulisan Herry Prasetyo tanggal 31 Desember 2015, pukul 22.00.

Tidak ada yang bisa mengganggu kesempurnaan kita dalam berkarya, menciptakan hal yang baru, kecuali kita hanya diam saja. Tidak ada yang bisa menghentikan impian kita, kecuali kita sendiri yang tidak berani bermimpi. Hidup, tahun ini ataupun tahun yang baru, tetaplah menjadi hidup, karena kita adalah pribadi yang mau berkarya, memaknai setiap napas yang dikaruniakan kepada kita, dengan kerja, kerja, dan kerja, tapi tetap membuatnya berada dalam bingkai kerendahan hati. Sempurna! Selamat tahun baru!