Seni Menanti Judul

0

Bambangtrim.com | Sering saya diminta secara tiba-tiba untuk memberi judul sebuah buku. Ibarat tetua dari sebuah suku yang dipercaya memberi berkat untuk sebuah nama, begitu pula saya mendapat kehormatan itu dari para penulis.

Ada judul seperti wangsit (bukan pangsit) yang datang dengan kecepatan supersonik. Sepersekian detik ia sudah menghampiri benak. Namun, ada juga yang dinanti-nanti tak kunjung datang dengan diksi penuh energi.

Malam ini saya pun bermain-main menanti judul. Membaca sebuah naskah pemantik yang dikirimkan calon klien. Selanjutnya, menantikan kata-kata yang menghampiri, mengeceknya di KBBI, dan mematut-matutkan gabungan kata.

Judul memang ibarat misteri, apalagi judul yang bernas (penuh berisi). Ia sejatinya tidak dapat sekali jadi, tetapi berkali-kali diseleksi sampai datang betul yang dinanti.

Keisengan menanti itu kini dipermudah oleh Canva Pro. Langsung saja saya gunakan templat sebagai gagasan awal, lalu diutak-atik sendiri dengan rasa seni amatiran. Jadilah yang seperti ini.

Apakah judul dan kover ini sudah bagus? Tentu saja relatif penilaian setiap orang dari sudut pandang masing-masing. Namun, hanya desain kover yang sering dimintai pendapat, tidak untuk judul. Mengapa?

Judul itu terkadang menjadi hak istimewa penulis. Namun, ia dapat juga berpindah menjadi hak istimewa editor atau penerbit. Tapi, alasan paling logis kalau judul ditanyakan ke publik, bakal ada yang minta bagian royalti.

Saya yang mengaku-aku sebagai “tetua dunia perbukuan” kerap juga mendapatkan hak istimewa itu; memberi judul seperti memberi nama sang jabang bayi meski tak ada yang membagi royalti.

Hush … semoga laku, semoga laku. Hush … semoga dibaca, semoga dibaca. Hush … semoga tidak dibajak, semoga tidak dibajak.

Buku dibaca bukan dibajak. Namun, kalau tak ada yang membaca, pasti tak ada yang membajak.[]

Memang Seru Menyunting Bahasa

Bambangtrim.com | Dulu memang tidak pernah terpikirkan oleh saya apa serunya menyunting bahasa. Beberapa mata kuliah kebahasaan harus saya ikuti ketika kuliah di Prodi D-3 Editing, Unpad. Bahkan, ada satu mata kuliah saya diganjar nilai D oleh dosen saya. Mata kuliah itu adalah Tata Bentuk.

Apa itu tata bentuk? Tata bentuk bahasa ilmiah linguistiknya morfologi; ilmu tentang perihal pembentukan kata, salah satunya kata berimbuhan. Saya sempat pening dengan pembentukan kata dengan awalan me– atau gabungan awalan-akhiran seperti me-kan dan me-i. Berikut ini contoh kalimat favorit yang masih teringat semasa kuliah.

  1. Paman menghadiahi Tati sebentuk cincin.
  2. Paman menghadiahkan sebentuk cincin kepada Tati.

Pemelajaran bahasa bertubi-tubi ini mau tidak mau harus saya nikmati hingga kemudian membentuk sebuah intuisi kebahasaan. Ada respons tiba-tiba jika seseorang mengucapkan atau menulisan sesuatu secara kurang tepat.

Mari kita merubah Indonesia.

Kata ‘merubah’ adalah bentuk kurang tepat dari kata ‘mengubah’ karena kata dasarnya adalah ubah bukan rubah. Demikian respons kebahasaan itu selalu muncul pada saya akibat dari terlalu banyaknya memamah kuliah kebahasaan.

Di D-3 Editing, saya belajar bahasa secara praktis, tidak teoretis sebagaimana jurusan linguistik. Namanya saya pendidikan vokasional, tentu yang dipelajari yang praktis-praktis saja. Saya banyak terbantu buku-buku kebahasaan yang ditulis oleh Jus Badudu, Gorys Keraf, Anton Moeliono, Syofyan Zakaria, dan banyak lagi.

Alhasil, saya merasakan sendiri keseruan menyunting bahasa dari sebuah teks dan kenyataannya memang “tidak ada naskah yang tak retak”. Kesalahan berbahasa adalah kesalahan yang paling umum atau paling dominan terdapat pada sebuah naskah.

Saya mengelompokkan penyuntingan bahasa pada lima hal, yaitu

  1. penyuntingan diksi (pilihan kata);
  2. penyuntingan ejaan (tata tulis);
  3. penyuntingan kata bentukan (tata bentuk);
  4. penyuntingan kalimat efektif (tata kalimat); dan
  5. penyuntingan paragraf bernas (tata paragraf).

Sebuah kelas daring via Zoom saya selenggarakan khusus untuk penyuntingan bahasa. Tentu pelatihan ini sangat diperlukan oleh penulis, editor, sekretaris, praktisi bisnis, akademisi, dan siapa pun yang ingin mengikuti keseruan menyunting bahasa.

Para peserta akan mendapatkan materi lengkap berupa ringkasan materi (handout), salindia presentasi yang menarik, dan tentu saja buku elektronik tentang mengedit menggunakan markah yang menjadi penghias tulisan ini.[]

 

Sebuah Memoar Tukang Buku Keliling

Bambangtrim.com | Tentu saja pernah terlintas di benak saya untuk menulis sebuah memoar. Jenis memoar tampaknya paling pas buat saya pilih daripada autobiografi. Saya hanya ingin mengisahkan awal kehidupan saya tertambat ke jalan buku yaitu jalan para editor yang akhirnya juga menarik saya ke jalan para penulis.
Sungguh pada tahun 1991 saat lulus dari SMA tidak pernah terpikir saya kuliah di jurusan bahasa dan sastra, apalagi bahasa dan sastra Indonesia. Namun, itulah takdir yang ternyata membalikkan jalan hidup saya. Semula berharap kuliah di jurusan teknik, tetapi hati saya pun tertambat pada editing dan dunia tulis-menulis.
Karier saya di dunia buku terbilang cepat. Tamat dari pendidikan D-3 tahun 1994, tahun 1995 saya sudah diterima bekerja sebagai copy editor di sebuah penerbit nasional, Remaja Rosdakarya. Tahun 1997, saya pindah ke penerbit baru Salam Prima Media yang menerbitkan buku anak Islam. Tak lama saya diangkat menjadi kepala bagian, lalu asisten manajer.
Tahun 2000 saya keluar dari perusahaan, lalu mendirikan penerbit sendiri bernama CV Bunaya Kreas Multidimensi. Tahun 200o ini adalah salah satu tonggak penting saya sebagai tukang buku keliling. Saya mulai menjadi dosen luar biasa di almamater saya, lalu juga mulai mengisi berbagai kegiatan pelatihan.
Penerbit Bunaya tidak dapat saya pertahankan. Tahun 2001, saya kembali ke perusahaan lama yaitu PT Grafindo Media Pratama menjabat sebagai Division Head (setara GM). Tahun 2003, saya kembali keluar dan bergabung di perusahaan milik Aa Gym dengan mendirikan MQ Publishing.
MQ Publishing kemudian dimerger dengan PT Mutiara Qolbun Saliim (MQS). Saya pun menjabat sebagai direktur utama dan pernah merangkap jabatan sebagai Pemred Tabloid MQ. Di MQ ini saya berkiprah lebih dari lima tahun, lalu keluar pada tahun 2008. Banyak kisah saya di MQ ini, termasuk keterlibatan mengukuhkan jenama MQ dan Aa Gym melalui buku.
Ada kisah setelah saya keluar dari MQS, sempat saya bertemu Mas Hernowo (alm.). Beliau mengajak saya bergabung dengan Mizan. Namun, saya sudah kadung janji dengan Pak H. Syaifullah Sirin (alm.), pemilik PT Karya Kita dan PT Grafindo Media Pratama untuk bergabung kembali mendirikan PT Salamadani Pustaka Semesta. Jadilah kemudian saya Vice President di PT Salamadani dan akhirnya menjadi direktur. Namun, itu pun tidak lama.
Saya hanya bertahan lebih kurang dua tahun, setelah kemudian menjabat sebagai Direktur PT Grafindo Media Pratama. Pertengahan tahun 2010, saya mengundurkan diri. Saat mengundurkan diri ini muncul tiga tawaran bergabung mengelola penerbitan. Pertama, dari PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri di Solo; kedua dari Ustad Yusuf Mansur di DQ; dan ketiga dari Pak Ary Ginanjar di ESQ.
Saya memilih yang pertama sehingga hijrah ke Solo. Namun, hanya satu setengah tahun saya di TS, lalu akhir 2011 saya memilih mengundurkan diri, kembali ke Bandung. Di Bandung saya meneruskan usaha sendiri, lalu mendirikan Penerbit Trim Komunikata. Pada masa inilah saya mengalami kesulitan karena juga harus membiayai operasional kantor serta karyawan, sementara penerbit bertahan dari usaha jasa.
Walaupun begitu, Trimkom mengerjakan banyak jasa dari lembaga ternama dan perusahaan besar. Saya sempat menggabungkan usaha dengan mitra di Cimahi. Namun, ini juga tidak berlangsung lama. Saya bertahan di Bandung 2012–2015.
Saya memutuskan hijrah ke Jakarta mendirikan Institut Penulis Indonesia di bawah naungan PT Inkubator Penulis Indonesia. Tanpa diduga, Agustus 2016, saya diminta bergabung menjadi Tim Pendamping Ahli di Komisi X DPR-RI untuk Panja RUU Sistem Perbukuan. Inilah awal saya kemudian terlibat di lembaga pemerintah untuk menyiapkan regulasi perbukuan, termasuk RPP dan rancangan permen.
Satu impian yang saya wujudkan pada tahun 2019 adalah sertifikasi penulis buku dan editor sehingga berdirilah LSP Penulis dan Editor Profesional (PEP). Saya juga terlibat sebagai Ketua dalam Prakonvensi dan Konvensi penyusunan SKKNI Penerbitan Buku yang digagas Ikapi. Hingga masuk pertengahan 2020, LSP PEP telah menyertifikasi lebih dari 3.000 orang.
***
Tiga puluh tahun, ada banyak hal yang ingin saya tuliskan. Betapa tidak mudahnya bagi saya meniti karier dari bawah: sebagai karyawan sekaligus sebagai writerpreneur. Jika diukur dari kesuksesan dalam bentuk harta benda, tentu saya masih belum ada apa-apanya dibandingkan teman-teman lain yang lebih senior atau seangkatan di dunia perbukuan.
Saya hanya memiliki jejak rekam karya-karya, baik dalam bentuk buku maupun dalam bentuk konsep dan pemikiran tentang perbukuan Indonesia. Saya juga orang yang sangat gemar berada di kelas-kelas, baik itu dalam kuliah di kampus maupun di pelatihan-pelatihan. Perjalanan selama tiga puluh tahun sungguh memberikan warna bagi diri saya pribadi bertemu dengan begitu banyak orang dari berbagai kalangan.
Insyaallah saya mulai menulis memoar ini menjelang usia saya yang ke-48. Semoga saya dapat mewujudkan buku ini terbit pada tahun depan.[]

Praktik Baik Literasi ala Bu Asri

0

Bambangtrim.com | Perjumpaan di Institut Penulis Indonesia tanggal 2 Februari 2019 menjadi awal diundangnya saya untuk membedah buku. Buku karya L. Asri Indah Nursanti berjudul Panggilan Literasi: Dampingi Anak Didik Berprestasi.

Bu Asri adalah kepala sekolah SMA Don Bosco 2 Pulomas, Jakarta. Ia menggerakkan semangat berliterasi sejak 2003—beberapa tahun sebelum Kemdikbud mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah. Jika melihat latar belakang Bu Asri yang pernah menjadi seorang editor penerbit dan juga lulusan Jurusan Bahasa dan Sastra di IKIP Sanata Dharma, tidaklah mengherankan ia memiliki ketertarikan yang lebih pada penguatan daya literasi.

Buku yang ditulisnya mengungkap prakti baik keliterasian yang dirintisnya di jejaring sekolah Don Bosco, terutama sekolah yang ia pimpin. Ia mulai merancang program, melibatkan para literator, di antaranya Naning Pranoto dan dr. Handrawan Nadesul. Bahkan, ia memutuskan mengusung topik alam dan lingkungan sebagai tema keliterasian sehingga program ini diberi jenama Green Pen.

Ini yang khas dari upaya Bu Asri menginstal literasi kepada anak didiknya. Beliau juga atas bimbingan penulis senior, Naning Pranoto, melibatkan anak-anak dengan berbagai potensi sebagai sebuah tim. Ada yang menulis, ada yang membuat ilustrasi, ada yang memotret, dan berbagai keterampilan hingga membentuk sebuah karya.

Acara Book Signing Buku Panggilan Literasi

Pada tanggal 9 Februari 2019, seturut kebanggaan civitas academica Don Bosco, buku Bu Asri dan dua buku lainnya karya siswa SMP dan SMA Don Bosco diluncurkan di Gedung Perpusnas RI, Jakarta. Saya mendapat kehormatan menjadi pembedah buku Bu Asri meskipun waktu yang diberikan tidaklah banyak, hanya sekira 10 menit berbicara.

Satu buku lain merupakan kumpulan esai para siswa SMP Don Bosco 2 yang mewawancarai Prof. Dr. Emil Salim. Hasil wawancara itu mereka tulis, lalu bukukan dengan judul Satu Bumi Bersama Prof. Dr. Emil Salim.

Acara semakin meriah dengan kehadiran Prof. Emil. Tokoh lingkungan yang juga merupakan sosok guru bangsa ini memberi sambutan dengan kisah-kisah menarik berbasis alam.

Prof. Emil Salim memberi sambutan saat peluncuran buku Satu Bumi.

Buku lain berjudul Mozaik Asian Games 2018 yang ditulis oleh siswa/siswa SMA Don Bosco 2. Buku ini juga merupakan kumpulan esai tentang perhelatan akbar yang baru saja diselenggarakan Indonesia.

Saya kagum dan memberi apresiasi bagaimana Bu Asri serta guru-guru lainnya menggerakkan potensi literasi siswa/siswinya. Mereka mungkin sudah menemukan apa yang disebut membaca (secara) menyenangkan, lalu menulis (secara) menyenangkan pula. Daya literasi adalah warisan budaya yang tidak boleh dinafikan begitu saja dan untuk itu harus disemai sejak dini.

Saya menjadi teringat pengantar Mbak Naning Pranoto dalam buku Bu Asri tentang pohon literasi. Saya setuju dengan istilah indah ini. Bagi saya, akar pohon literasi adalah akal budi. Pohon literasi yang berasal dari bibit yang baik dan dirawat dengan baik pula akan memberikan oksigen literasi yaitu informasi yang baik.

Jika sekarang kita sesak napas, mungkin karena informasi yang keluar dari pohon-pohon literasi sudah mengandung racun—seperti yang banyak disebarkan melalui media sosial. Menangkalnya juga harus dengan kekuatan akal budi sebagai literasi. Itulah yang sekarang sedang dilakukan oleh SMP/SMA Don Bosco 2.

Sebenarnya saya menunggu satu karya lagi. Karya yang mungkin tidak kalah hebatnya dari buatan anak SMP atau SMA. Karya yang ditulis oleh tunas-tunas lebih kecil yaitu anak-anak SD. Jika sejak SD mereka terpapar literasi baik, mereka lebih siap menghadapi terjangan badai informasi yang semakin deras dan kukuh memenuhi kehidupan kita.[]

Sehari Bersama Prof. Zaitunah Subhan

Bambangtrim.com | Perjumpaan saya tidak sengaja dengan Prof. Zaitunah terjadi saat saya diundang sebagai narasumber di LSF (Lembaga Sensor Film) untuk program penyusunan buku. Prof. Zaitunah sebagai salah  seorang Ketua LSF pun hadir.

Beliau mengenali saya pernah berada di MQ dan mengetahui perihal saya saat berkunjung ke Daarut Tauhiid beberapa tahun silam. Adalah Aa Gym yang menyebut saya sebagai orang yang berada di balik buku-buku MQ. Nama saya kemudian melekat dalam benak Prof. Zaitunah.

Saya langsung akrab dengan beliau dan berjanji untuk dapat bertemu membahas soal buku-buku dengan beliau. Jadilah perjumpaan itu pada tanggal 27 Desember 2018 di Gedung Film, kantor LSF.

Siapakah Prof. Dr. Zaitunah Subhan? Bagi mereka yang bergiat dalam bidang kesetaraan gender atau yang mengenyam pendidikan di UIN, terutama UIN Sunan Ampel (Surabaya) dan UIN Syarif Hidayatullah (Jakarta), tentu tidak asing dengan sosok beliau sebagai akademisi yang mendalami perkara perbandingan agama, studi hadits, dan kesetaraan gender, terutama dalam perspektif Islam.

Tidak mengherankan jika perempuan kelahiran 1950 ini diminta langsung oleh Gus Dur untuk terlibat aktif membantu Khofifah yang saat itu ditunjuk menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Sejak itu, kiprah Prof. Zaitunah tidak pernah lepas dari kementerian itu hingga pensiun pada masa pemerintahan SBY.

Namun, beliau masih bergiat di kampus hingga kini dan juga menjadi salah seorang ketua LSF. Beliau mendalami studi perbandingan agama pada level sarjana. Lalu, beliau melanjutkan pendidikan S-2 di al-Azhar Mesir dan pendidikan S-3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Banyak hal yang saya obrolkan bersama beliau mulai soal kesetaraan gender, poligami, Ahmadiyah, Syiah, dan juga soal wacana-wacana keagamaan yang kini berkembang. Beliau juga mengungkapkan perbedaan pemikirannya dengan Musdah Mulia ketika saya menyinggung sosok tersebut dalam isu kesetaraan gender.

Soal Ahmadiyah beliau berkisah bagaimana selalu hadir dalam event tahunan yang digelar Ahmadiyah.  Prof. Zaitunah mewakili kementerian untuk berbicara soal peran perempuan dalam perspektif Islam. Sampai-sampai beliau kemudian diundang ke “markas” Ahmadiyah di London dan bertemu dengan pemuka-pemuka agamanya, baik dalam konteks berdiskusi maupun berdebat.

Demikian pula dengan Syiah, beliau pernah diundang ke Iran dan berdialog langsung dengan tokoh-tokoh Syiah di sana. Kehadiran Prof. Zaitunah selalu mendapatkan sambutan hangat dan diselingi dengan diskusi-diskusi yang tajam perihal kedudukan perempuan.

Saya menyimak dengan antusias kisah-kisah beliau, termasuk penolakan beliau untuk terlibat dalam politik praktis meskipun tawaran datang dari sana sini. Nama beliau menjadi penting bagi kalangan politikus ketika memaparkan kajian bahwa dalam batas-batas tertentu, pemimpin perempuan itu sah saja.

Dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim, wacana kesetaraan gender dalam perspektif Islam menjadi isu yang penting ketika pemerintah juga bergiat memberikan akses yang lebih besar untuk keterlibatan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik. Sebagai salah satu pakar kesetaraan gender, kiprah Prof. Zaitunah menjadi sangat strategis.

Karena itu, saya menangkap juga “kegelisahan” beliau untuk membukukan pemikiran-pemikirannya yang masih terserak. Saya melihat juga beberapa buku yang sudah beliau hasilkan, bahkan telah menjadi rujukan penting. Sebut saja buku Al-Quran dan Perempuan dan Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Tafsir Quran yang menjadi rujukan studi-studi kesetaraan gender.

Buku-buku karya Prof. Zaitunah (Foto: Bambang Trim)

Diskusi pun berlanjut soal buku-buku. Beliau menginginkan saya membidani kelahiran buku-bukunya selanjutnya, terutama dalam bentuk memoar dan buku pemikiran. Tentu saja ini sebuah kehormatan bagi saya untuk menangani karya seorang ustazah yang memiliki keluasan ilmu luar biasa. Selama ini, saya menangani karya beberapa orang ustaz.

Bagi saya pribadi, Prof. Zaitunah Subhan, adalah sosok istimewa dan langka di tengah minimnya para ulama kita yang mau dan mampu membukukan pemikiran-pemikirannya. Penerbitan buku adalah sebuah ikhtiar yang harus ditempuh demi mengabadikan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga bagi generasi masa mendatang.

Saya tertantang untuk membukukan karya-karya beliau dan ngebut pada tahun 2019. Di benak saya sudah terbayang penggalian gagasan untuk buku-buku beliau, termasuk beliau saya dorong membuat buku anak. Seorang profesor menulis buku anak, ini tentu menarik. Bismillah, 2019 semoga Allah memudahkan jalan saya.[]

Menulis Sepenuh Jiwa: Pengalaman Setelah Mengikuti Kelas Soul of Speaking

BambangTrim.com | Jejaring di dunia penulisan mempertemukan saya dengan Rani Badri Kaliandra; seorang guru yang memperkenalkan konsep Soul of Speaking. Hari Senin, 27 Agustus 2018 saya bertemu Bang Rani (begitu beliau ingin dipanggil) di Cilandak Town Square, Jakarta.

Perbincangan tidak jauh soal buku dan konsep yang hendak beliau tuliskan. Sampai kemudian akhirnya saya ditawari mengikuti training Soul of Speaking for Star pada tanggal 29-30 Agustus 2018. Saya kira ini kesempatan yang langka meskipun tanggal 30 saya sudah ada kelas menulis juga di Jakarta.

Saya putuskan untuk ikut kelas kecil keterampilan berbicara ini. Di kelas saya mengenal lima orang lainnya sebagai peserta. Ada calon anggota DPD, psikolog, dan arsitek. Jadi, ini memang bukan kelas khusus untuk pembicara publik, tetapi kelas yang menanamkan keterampilan berkomunikasi secara verbal maupun nonverbal kepada seseorang.

Jujur bahwa saya mengikuti kelas ini awalnya semata untuk dapat dengan mudah mengembangkan gagasan Soul of Speaking ke dalam buku. Namun, saya ternyata menikmatinya meskipun jam terbang saya sebagai pembicara publik sudah intens dilakukan sejak tahun 2000. Saya sendiri belum pernah mengikuti kelas public speaking-–saya menjadi pembicara publik secara autodidak atau alamiah saja.

Di kelas Bang Rani, saya benar-benar mendapatkan pencerahan pentingnya berkata-kata dari olah jiwa. Bukan hanya soal kepercayaan diri, melainkan juga soal makna. Boleh dibilang pelatihan ini juga kental dengan nilai-nilai spritual. Tidak heran jika pelatihan ini ternyata sudah diikuti oleh tokoh-tokoh penting, bahkan sudah menghasilkan lebih dari 40.000 alumni.

Selama dua hari, dari pukul 8.00 s.d. 17.00, saya mendapatkan begitu banyak makna dari penggunaan pikiran, perasaan, indra, dan naluri ketika berkata-kata. Saya pikir ilmu ini juga selaras dapat diterapkan dalam menulis.

Perbedaannya jika berbicara sangat dipengaruhi oleh intonasi, nada, dan tempo, menulis akan sangat dipengaruhi oleh diksi (pilihan kata) dan tanda baca. Di dalam tulisan juga terkandung nada dan nilai rasa.

Maka dari itu, konsep menulis sepenuh jiwa sebenarnya juga berdasarkan dari olah pikir dan rasa yang direspons dari panca indra serta naluri (intuisi). Jika ingin tulisan terbimbing, koneksi kepada Sang Maha Pencipta menjadi penting. Jika tidak ada koneksi kepada Yang Menciptakan kita, koneksi itu akan disabotase unsur lain—boleh jadi itu adalah setan yang selalu berusaha menyesatkan kita.

Dalam Soul of Speaking, masa lalu kerap disinggung demi menunjukkan jati diri kita hari ini. Karena itu, ada pertanyaan yang menggugat kepada diri ini: Apakah Anda sudah mengenal diri Anda? Sebelum sampai pada pertanyaan hakiki: Apakah Anda mengenal Tuhan Anda?

Masa lalu yang buruk, menyisakan memori pada alam bawah sadar. Memori yang terus menghantui ketika seseorang merendahkan dirinya sendiri, merendahkan orang lain, menyalahkan dirinya sendiri, dan mudah menyalahkan orang lain. Faktor-faktor pembuat memori itu boleh siapa saja: orangtua, saudara, atau teman.

Karena itu, tahap awal yang dilakukan adalah menyatakan cinta kepada diri sendiri, meminta maaf, menyesali apa yang terjadi, dan berterima kasih. Konsep itu merupakan modifikasi dari metode yang dikenal nama Ho’oponopono. Metode pengampunan ala masyarakat Hawaii kuno ini termuat dalam buku Zero Limits karya Dr Ihaleakala Hew Len.

Ringkasnya Metode Ho’oponopono ini proses pelepasan energi negatif dalam diri seseorang demi mengizinkan munculnya dampak gagasan, kata, perbuatan, dan tindakan dari Ilahi. Menurut masyarakat Hawaii kuno, kekeliruan timbul dari pikiran-pikiran yang dicemari kenangan yang menyakitkan dari masa lalu. Ho’oponopono menawarkan sebuah cara untuk melepaskan energi pikiran yang menyakitkan atau kekeliruan ini, yang mengakibatkan ketidakseimbangan dan penyakit.

Jadi, sebelum berkata-kata maka lepaskanlah dulu kenangan, pikiran, dan perasaan yang buruk atau menjadi racun di dalam kehidupan kita. Hal itu sama saja dengan menulis karena pada dasarnya menulis juga mengeluarkan kata-kata dari pikiran dan perasaan. Apabila pikiran dan perasaan kita terus terganggu dengan kenangan buruk masa silam, selamanya yang kita keluarkan juga akan mengundang ketidakseimbangan serta penyakit.

Sebagai seorang Muslim, saya ingat tentang pembersihan jiwa semacam ini yang disebut tazkiyatun nafs. Proses pembersihan jiwa dilakukan melalui berbagai ritual ibadah, amalan kebajikan, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dalam bahasa modern saat ini, tazkiyatun nafs adalah upaya penjernihan sinyal (gelombang) keterhubungan kita dengan Sang Maha Pencipta sehingga hidup kita terbimbing.

Energi apa yang meniscayakan keterhubungan itu menjadi jernih dan kukuh? Itulah energi cinta seperti yang menjadi spirit dari Soul of Speaking. Ia bukan sekadar berbicara, melainkan lebih dari itu adalah menggunakan energi cinta sehingga mereka yang berbicara akan menggunakan kata-kata yang benar-benar menggerakkan, memengaruhi, dan membawa perubahan baik.

Foto: Simon Migaj on Unsplash

Kalau dibahas lebih mendalam, tulisan ini akan panjang sekali. Intinya saya ingin mengungkapkan kata-kata ‘sepenuh jiwa’ bukanlah sekadar ungkapan, melainkan sebuah ikhtiar untuk memunculkan potensi insani sebagai khalifah di muka bumi ini.[]

Harga Sebuah Impian, Christopher Robin

Bambangtrim.com | Boleh jadi publik Indonesia lebih  mengenal Winnie-the-Pooh daripada Christopher Robin. Namun, bagi pembaca sejati kisah karya Alan Alexander Milne ini, sosok Christopher Robin tidak  dapat dipisahkan dari Winnie-the-Pooh–si beruang imut beserta teman-temannya: Piglet, Tigger, Eeyore, Rabbit, Owl, dan Kanga.

Christopher Robin sendiri adalah putra dari A.A. Milne yang mengilhaminya menulis kisah Winnie-the-Pooh. Christopher sempat mengoleksi boneka-boneka yang kemudian “dihidupkan” oleh A.A. Milne sebagai karakter dalam kisah Winnie-the-Pooh.

Mainan asli Christopher Robin (Sumber: New York Public Library/Wikipedia)
Mainan asli Christopher Robin yang mengilhami A.A. Milne (Sumber: New York Public Library/Wikipedia)

Adalah Disney yang kembali membuat film tentang Winnie-the-Pooh yang  menempatkan Christopher Robin sebagai tokoh sentral dalam format Live-Action movie. Judulnya pun Christopher Robin.

Awal kisah, penonton akan disuguhi dengan pengenalan atau pengingat karakter Christopher Robin, Winnie-the-Pooh, dkk. Christopher harus berpisah dengan teman-teman ajaibnya itu yang tinggal di The Hundred Acre Wood.

Christopher harus masuk sekolah asrama dan tinggal di sana. Sampai kemudian cerita meloncat pada kehidupan Christopher yang bekerja, menikah, menjadi tentara, lalu menjadi pegawai di sebuah perusahaan koper kulit.

Mengikuti film ini sejak awal meskipun ditingkahi karakter-karakter lucu yang hidup, sebenarnya agak berat untuk anak-anak. Kisahnya sangat bermuatan filosofis. Berbeda halnya dengan Peter Rabit yang juga menghadirkan tokoh binatang dan manusia. Peter Rabit lebih banyak aksi yang membuat anak dapat terpingkal-pingkal. Namun, sebagai tontonan keluarga, Christopher Robin cukup menghibur  dan membuat merenung.

Selama ini kita sering mendengar ungkapan  “bermimpilah sepuasmu karena bermimpi itu gratis”. Namun, Christopher  memberi antitesis bahwa “impian itu tidak gratis”—ada harga yang harus ia bayar, termasuk harus mengabaikan keluarganya.

Dari sinilah konflik dalam film bermula ketika Christopher memutuskan tidak jadi ikut berlibur ke kampung halaman mereka di Sussex. Christopher harus tetap di London bekerja siang-malam selama 7 hari dalam seminggu demi mengatasi krisis di perusahaannya.

Itulah maksud Christopher bahwa meraih impian itu tidaklah gratis; harus  dengan kerja sangat keras demi satu tujuan yaitu kebahagiaan. Ia mengungkapkan itu sebagai alasan tidak ikut berlibur bersama putrinya, Madaline.

Tiba-tiba Pooh muncul dari balik pohon dekat tempat tinggal Christopher di London. Pooh ingin Christopher mencari teman-temannya di The Hundred Acre Wood. Pooh khawatir teman-temannya ditangkap oleh Heffalump (karakter gajah yang menjadi antagonis dalam kisah Winnie-the-Pooh). Dengan sebuah alur yang bergegas, akhirnya Christopher terpaksa menuju Sussex demi mengantarkan Pooh.

Christopher tetap mementingkan pekerjaannya meskipun ia sudah sampai di Sussex, di rumah masa kecilnya. Sampai kemudian Christopher harus menjawab pertanyaan  polos Pooh: “Apakah kertas-kertas kerja di dalam tasnya lebih penting  daripada putrinya, Madaline?”

Meskipun sempat tepergok oleh Madaline dan istrinya, Christopher bergeming tetap kembali ke London untuk menghadiri rapat penting. Saat diminta presentasi, kertas-kertas kerjanya ternyata tertinggal di The Hundred Acre Wood karena ulah Tigger.

***

Akhir kisah Christopher Robin seperti dapat ditebak adalah happy ending. Ia membalikkan pola pikirnya, seperti juga ia menemukan gagasan bagaimana meningkatkan penjualan koper kulit di perusahaannya. Christopher memilih bahwa harga termahal impiannya adalah keluarga.

Filmnya sekali lagi, memang kurang menarik bagi anak-anak, tetapi dapat menyentuh bagi orangtua. Utamanya bagi bapak-bapak dan emak-emak yang sibuk dengan pekerjaannya dan rela menukar waktunya bersama keluarga dengan alasan impian.

Salam madu, Winnie-the-Pooh.[]

Buku tentang Para Difabel Pejuang

Bambangtrim.com | Para penyandang disabilitas atau sering disebut juga difabel kerap menyimpan kisah-kisah heroik bagaimana mereka dapat bangkit dan sukses. Perasaan rendah diri, minder, bahkan yang terparah adalah depresi sudah jamak menghantam para difabel. Karena itu, salut untuk mereka yang mampu bangkit menyamakan dirinya dengan orang-orang normal.

Salah seorang difabel pejuang itu bernama Nicholas James “Nick” Vujicic, pria berdarah Serbia yang berkebangsaan Australia. Ia menderita sindrom tetra-amelia sehingga terlahir tanpa tangan dan tungkai. Nick mengalami kepahitan hidup pada masa kecil dan remajanya sampai kemudian ia mampu lulus dari universitas sebagai akuntan dan perencana keuangan.

Foto: Gramedia

Namun, Nick lebih memilih jalan hidup sebagai penginjil dan motivator hingga ia dapat berkeliling dunia. Buku pertama dari serangakai serial motivasi yang diterbitkannya berjudul Life Without Limits: Inspiration for a Ridiculously Good Life (Random House, 2010). Hampir mirip dengan organisasi nirlaba yang didirikannya bernama Life Without Limbs.

Difabel lain yang kisahnya juga sempat dibukukan adalah Lee Hee-ah yang menderita down syndrome dan juga hanya memiliki empat jari tangan–diistilahkan lobster claw syndrome. Dia juga terlahir dengan kaki hanya sebatas lutut. Namun, Hee-ah mampu menjadi pianis dan piawai memainkan Piano Concerto No. 21 karya Mozart. Lee Hee-ah menyebut dirinya sebagai anugerah terindah dari Tuhan.

Foto: VOA

Dari dalam negeri, tidak banyak saya lihat buku tentang kisah hidup seorang difabel. Namun, ada satu buku berjudul Sekarang atau Keburu Mati karya Habibie Afsyah. Habibie lahir seperti anak normal lainnya. Namun, sebuah kelainan yang disebut mengidap kelainan muscular dytrophy dirinya yang menyebabkan fungsi-fungsi motorik pada tubuhnya mengalami kelumpuhan.

Foto: Grasindo

Ibunya berperan besar menjadikan sosok Habibie hidup mandiri. Habibie kemudian menekuni internet marketing atas dorongan ibunya. Habibie kemudian sukses menjadi seorang internet marketer yang diperhitungkan di Indonesia. Ia diundang menjadi pembicara di mana-mana.

***

Tentang buku para difabel pejuang ini, saya baru saja tuntas menyelesaikan satu naskah seseorang yang mengalami cedera saraf tulang belakang atau dalam bahasa medis disebut spinal cord injury sehingga menyebabkan kelumpuhan.

Klien saya ini awalnya merupakan pria yang sehat mulai lahir hingga dewasa dan bekerja. Bahkan, ia cenderung menjalani hidup yang tanpa riak. Lulus dari perguruan tinggi ternama, lalu langsung bekerja di sebuah BUMN besar di Indonesia.

Tanpa sebab yang lazim terjadi pada penderita SCI, seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh, atau kekerasan, ia justru mengalaminya. Seketika hidupnya berubah drastis dalam semalam karena mengalami kelumpuhan dari ujung kaki hingga ke dada.

Klien saya berada pada titik nadir kehidupannya hampir empat bulan lamanya, bahkan telah sempat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, ia mampu bangkit kembali secara rohani dan menemukan pencerahan untuk apa ia melanjutkan hidup.

Naskah yang saya garap ini direncanakan dapat terbit antara Juli atau Agustus 2018. Ia saya kira juga sosok yang dapat menjadi inspirasi bagi para penyandang disabilitas lainnya dan juga mereka yang berputus asa dalam hidupnya. Klien saya ini menemukan formula bagaimana ia dapat bertahan, lalu tetap bekerja dan berkarya tanpa harus berputus asa, minder, malu, dan takut.[]

Lemang Tebing

Bambangtrim.com | Bulan Ramadan di jantung Jakarta ini hampir setiap hari saya disuguhi pemandangan para penjual lemang dan kudapan khas Minang. Pasalnya, saya beraktivitas di dekat kumpulan kedai penjual nasi kapau dan kudapan khas Minang. Tepatnya di Jalan Kramat Raya, di depan Kompleks Ruko Maya Indah dan LP3I (seberang Plaza Atrium).

Menjelang berbuka saum pukul 17.00 maka kawasan ini sudah dipadati pengunjung. Ibu-ibu yang membuka lapak lemang dan berbagai kudapan lain pun bersahutan menawarkan dagangannya.

“Lamang tapai, Pak. Masih hangat ….”

Ingat lemang maka saya pun ingat pada kota kelahiran, Tebingtinggi Deli. Kota ini berjarak sekira 80 km dari Kota Medan dan sering menjadi kota persinggahan apabila orang-orang dari Medan hendak ke Siantar atau Prapat dan sebaliknya. Jika mereka singgah, umumnya mereka tidak melewatkan kesempatan untuk membeli lemang yang memang masyhur dari kota ini.

Maka dari itu, kota ini pun berjuluk Kota Lemang. Kudapan dari beras ketan dan santan kelapa sejatinya kudapan khas Minang. Adalah para perantau dan keturunan orang Minang di Tebingtinggi yang mengembangkannya kemudian.

Lemang Tebing memang diakui istimewa karena gurih, lezat, tidak lengket, dan rasa asinnya pas. Penjual lemang di Tebing menyediakan juga selai sarikaya sebagai “kawan” makan lemang yang tidak ditemukan di tempat lain. Bahkan, tidak jarang masyarakat Tebingtinggi menikmati lemang bersama dengan buah durian.

Saya termasuk penyuka makan lemang dengan buah durian ini dan ketika teman saya dari Jawa mengetahuinya, ia pun terheran-heran.

Awalnya para penjual lemang di Tebingtinggi berderet di kawasan niaga yang dulunya disebut Jln. Tjong Afie—sekarang Jln. K.H. Ahmad Dahlan tepat berada di seberang Mesjid Raya. Lemang yang paling populer adalah berjenama Lemang Batok—sebutan ini juga khas karena lemang yang dibungkus daun pisang muda dan dimasukkan ke dalam ruas bambu ini dibakar dengan arang batok kelapa.

Kini penjual lemang juga dapat ditemukan di pintu masuk batas kota yang memisahkan Tebingtinggi dan Kabupaten Deli Serdang. Wajar karena saya sudah meninggalkan kota ini sejak 1987. Artinya, selama lebih dari 30 tahun, kota ini pasti berubah banyak, termasuk para penjual lemangnya yang sudah beranak pinak dan berekspansi.

Lemang biasanya ditawarkan seruas bambu kira-kira panjangnya 30-40 cm dan lebih nikmat dimakan hangat-hangat. Konon harganya kini berkisar Rp20.000-Rp25.000, bergantung juga pada besar kecilnya.

Jadi, lemang di Tebing bukan hanya dapat ditemukan pada bulan Ramadan, melainkanada pada setiap hari biasa. Orang Tebing sendiri suka membeli lemang yang dijadikan santapan teman minum kopi. Namun, khusus bulan Ramadan tentu sajian lemang menjadi istimewa, apalagi kudapan ini mengenyangkan. Mereka yang terbiasa makan berat selepas tawarih, eloklah memakan lemang terlebih dahulu.

Lemang di Tebing dimasak dengan resep bumbu tertentu yang diwariskan secara turun-temurun. Kemungkinan penjual lemang di Tebing sudah masuk generasi ketiga atau keempat. Hal yang menarik saat memasak lemang, para ahli waris bumbu rahasia lemang itu tetap mempertahankan tradisi. Mereka dilarang untuk berkata-kata kotor (memaki atau mengumpat). Jika dilakukan, hal ini akan menyebabkan lemang menjadi rusak alias tidak enak.

Satu hal lagi, sebenarnya lemang juga enak dimakan dengan rendang. Namun, kalau sudah memakan lemang dan rendang, ya jangan memakan nasi lagi. Karbohidrat kompleks namanya itu.[]

Menikmati Rabbit Town dengan Secuil Ekspresi

Bambangtrim.com | Ahad, 29 April 2018 sebenarnya tidak ada rencana ke kawasan Ciumbuleuit, Bandung. Namun, “nyonya” saya bilang coba ke Rabbit Town. Itu destinasi wisata yang katanya sedang happening.

Karena dekat, saya mengiyakan wisata tidak direncanakan itu. Lalu, saya pun mulai googling tentang tempat wisata yang dibangun oleh Kagum Group ini. Dari Jalan Padjadjaran ke atas Ciumbuleuit sekira 30 menit lebih.

Di Google, informasi tentang tempat wisata ini dari berbagai situs memang memberi kesan menarik dan wajib dikunjungi meskipun ada embel-embel plagiat. Salah satunya nomor 1 di Google informasi dari IDNTimes.com berjudul “7 Fakta Unik tentang Rabbit Town Bandung yang Dianggap Plagiat”. Judul ini ambigu, tetapi isinya memang puja-puji terhadap tempat wisata ini.

Benar saja saat sampai di Jalan Ranca Bentang, mobil-mobil sudah mengantre parkir. Maklum hari itu juga hari libur. Ada juga orang dan mobil yang sudah keluar. Saya lihat wajah-wajah mereka tanpa ekspresi yang berlebihan layaknya orang yang habis berwisata.

Saya dan “nyonya” ya penasaran saja karena katanya tempat ini–yang diresmikan Gubernur Jabar–instagramable dan murah pula tiket masuknya. Benarlah tiket masuknya per orang Rp25.000,00, bahkan kita dipersilakan pula memiliki kartu yang dapat diisi ulang untuk pembelian makanan dan lain-lain.

Pertama masuk, “nyonya” meminta saya untuk berfoto di depan ucapan selamat datang berbahasa Inggris. Entah mengapa menggunakan bahasa Inggris, padahal sebagian besar pengunjung adalah turis lokal. Mungkin biar terkesan internasional.

Oh ya, saya lupa parkir mobil sebenarnya tersedia di area basement di bawah bangunan yang belum jadi, tetapi banyak orang juga memilih parkir di luar area. Saat hendak naik lewat tangga, ada ABG-ABG berfoto di bangunan yang belum jadi itu. Mungkin mereka kira ini lebih instagramable daripada foto-foto di kawasan Rabbit Town.

Jadi, di dalam baru saya sadari bahwa ini adalah sebuah rumah yang disulap menjadi tempat wisata. Pengunjung diarahkan ke berbagai tempat. Ada yang naik tangga ke atas dan ada pula yang ke bawah. Pengunjung harus melewati gang-gang yang menurut saya agak sempit, apalagi tiap “tempat” selalu ada gerai jualan.

Ternyata oh ternyata, kita tidak dapat “sembarangan” masuk ke berbagai ruangan, seperti LA Store, Museum of Ice Cream, Love Lock, atau Hollywood Land tanpa membayar lagi. Jadi, untuk masuk memang murah Rp25.000, sedangkan untuk menikmati tempat lain dan “futu-futu” ya harus membayar lagi mulai Rp10.000 per orang.

Ada sih tempat yang tidak berbayar seperti akuarium besar yang ada ikan-ikan arwananya dan Love Light yang merupakan area berdirinya tiang-tiang lampu (konon ini dicap plagiat dari Urban Light di Los Angeles). Di area ini berfoto ya gratis.

Area Love Light, jadi tempat berfoto yang menarik dan gratis (dok. pribadi)

Ada lagi area yang seharusnya menjadi ikon yaitu Rabbit Villa–tempat para kelinci berada di kandangnya dan ada juga yang dilepas. Namun, tempatnya sempit sekali bagi anak-anak dan orangtua memberi makan kelinci karena juga disesaki kandang kelinci.

Rabbit Villa, tempat para kelinci aneka jenis. Namun, sempit bagi anak-anak dan orangtua. (dok. pribadi)

Masuk juga harus bayar lagi bagi anak-anak (Rp20.000) dan mendapat dua buah wortel. Kelinci-kelincinya pada stres dikejar anak-anak dan dipaksa makan. Mereka dijadikan ikon nama tempat wisata ini, tetapi ya sekadar ikon.

Kesan saya, tempat wisata ini terlalu banyak diselipi dengan tempat jualan makanan maupun pernak-pernik dengan area yang terbatas. Bahkan, pengunjung memang jalannya diarahkan melewati beberapa toko pernak-pernik dan makanan. Artinya, antara luas area dan “penjejalan” tempat jualan ini tidak sebanding sehingga membuat kurang nyaman.

Saya membandingkan dengan tempat wisata lain seperti D’Ranch. Tiket masuk sangat murah dan di dalam pengunjung memang harus membayar lagi beberapa wahana permainan. Namun, luasnya area dan kepuasan yang diperoleh dari permainan cukup sebanding.

Semestinya manajemen menyediakan saja tiket terusan agar pengunjung tidak merasa kaget ternyata untuk menikmati banyak fasilitas di dalam harus membayar–apalagi hanya dapat berfoto, bukan sebuah permainan atau pertunjukan. Soalnya sudah turun-naik tangga ternyata harus bayar lagi meskipun ada fasilitas untuk top-up rupiah di dalam kartu.

Saya dan keluarga memang sudah tidak berniat mencicipi makanan dan minuman di situ–takut harganya mengagetkan. Jadi, memang tidak dapat berkomentar soal rasa dan harga. Sejam lebih kami menikmati suasana di Rabbit Town, lalu pulang dengan hanya secuil ekspresi. Anak-anak saya rasa juga tidak terlalu menikmati.

Apakah saya akan berkunjung kembali ke sana seperti saya lakukan pada beberapa tempat wisata lain di Bandung? Sepertinya tidak sebelum ada perubahan yang berarti dan ada rasa rindu untuk kembali.[]

 

Tip Menulis Mudah untuk Semua Orang

0

Bambangtrim.com | Selama seseorang itu pernah hidup di dunia maka pada dasarnya ia memiliki “bahan” untuk dituliskan. Orang yang hidup pun pasti pernah berkomunikasi menggunakan bahasa dengan sesamanya. Bahasa pula yang menjadi pengantar baginya untuk menuliskan sesuatu.

Karena itu, tip menulis yang paling mudah adalah melakukannya seperti mengobrol atau menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Namun, di sini ada rambu-rambu seperti juga ketika kita berbicara kepada orang lain yaitu dengan memperhatikan siapa yang diajak berbicara itu.

Usia dan kedudukan seseorang akan memaksa kita untuk memilih kata-kata yang tepat dan mudah dipahami. Itu mengapa kemudian ada keterampilan diksi yaitu memilih kata-kata secara tepat.

Nah, contoh tulisan paling mudah untuk mengekspresikan pikiran kita terhadap orang lain adalah surat. Surat merupakan bentuk komunikasi tertulis yang menggunakan bahasa terpilih bergantung kepada siapa surat ditujukan dan materi yang akan disampaikan.

Surat ada yang bersifat formal dan nonformal. Namun, untuk latihan menulis, Anda dapat memilih surat nonformal alias tidak resmi. Anda bebas memilih kepada siapa surat ditujukan termasuk kepada Tuhan.

Emha Ainun Nadjib pernah menulis buku berjudul Surat kepada Kanjeng Nabi. Dalam buku itu Emha seolah-olah menulis surat untuk Nabi Muhammad Saw. mencurahkan segala isi benak dan hatinya yang kadang berupa kritikan terhadap pemerintah dan fenomena sosial-politik saat itu (masa Orde Baru).

Jika Anda hendak memilih yang lebih mudah, coba menulis surat yang ditujukan untuk orangtua, kekasih, anak, atau bahkan pasangan hidup. Seorang penulis kawakan bernama Syamsuddin Ch. Haesy (saya memanggilnya Bang Semch) juga kerap menulis surat untuk anak dan cucunya.

Suatu ketika anak saya Valya yang saat itu masih duduk di kelas 5 SD menuliskan surat untuk mamanya saat peringatan Hari Ibu. Isinya sederhana, tetapi cukup mengharukan bagi saya orangtuanya.

Surat Valya anak saya untuk mamanya.

Berikut tip untuk Anda yang baru memulis menulis dengan menggunakan media surat.

  1. Tentukan kepada siapa Anda hendak menuliskan surat itu. Anda bebas menentukan tokoh siapa pun, bahkan yang belum pernah bertemu dengan Anda. Penerima surat adalah pembaca sasaran tunggal untuk karya Anda.
  2. Tentukan topik yang hendak Anda sampaikan lewat surat. Satu surat satu topik saja, jangan membahas lebih dari satu topik agar Anda fokus menuliskannya.
  3. Bebaskan pikiran dan perasaan Anda untuk menuliskan apa yang ada di benak dan di dalam kalbu. Contohnya: “Wahai Bunda, sungguh tersadar dirinya ini betapa lelahnya engkau menghadapi hari-hari. Engkau berjuang sendiri ….”
  4. Jangan menulis sambil mengedit tulisan. Tuliskan sampai selesai paling tidak sampai dua halaman. Baru berhenti, lalu biarkan dulu. Setelah pikiran tenang, baru baca kembali surat tersebut.
  5. Perhatikan kata-kata yang digunakan. Pertama, apakah maksud kalimat-kalimat yang digunakan dapat dipahami dengan baik? Kedua, apakah ada penggunaan kata-kata yang kurang tepat? Ketiga, apakah ada kata-kata yang lebih kuat mewakili pikiran dan perasaan? Keempat, adakah susunan kalimat yang kurang tepat? Terakhir, kelima, adakah pesan yang belum dimasukkan atau adakah pesan yang seharusnya tidak perlu dimasukkan?

Anda boleh menjadikan surat hanya sebagai sarana berlatih yang tidak pernah Anda kirimkan. Namun, untuk melatih keberanian, sebaiknya surat itu disampaikan kepada orang yang dituju. Itulah langkah awal Anda memulai publikasi walaupun hanya kepada satu orang.

Banyak lho orang menulis surat cinta, tetapi sampai beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, surat itu tidak pernah dikirimkan. Soalnya yang menulis surat tidak pe-de atau ketakutan sendiri pada hal yang belum tentu terjadi yaitu ditolak. Itu juga sering terjadi pada penulis pemula.

Terus? Ya menulis saja.[]

Salut untuk Penulis Seperti Jee

Bambangtrim.com | Nama aslinya Sri Jayanti. Ia berasal dari Palembang, namun takdir membawanya turut sang suami menetap di Kota Banjar (daerah antara Jawa Barat dan Jawa Tengah).

Jauh-jauh ia datang dari Banjar menaiki bus hanya untuk mengikuti privat menulis buku nonfiksi yang saya selenggarakan di Institut Penulis Indonesia. Saya terkejut juga karena Jee–begitu nama penanya–sedang hamil 7 bulan. Demi menuntut ilmu penulisan, ia memaksakan diri datang ke Jakarta.

Semoga calon bayinya turut menyimak materi literasi yang saya sampaikan sehingga kelak menjadi cerdas literasi. Semangat Jee juga semoga terinstal oleh si jabang bayi.

Menjelaskan kepada Jee tentang teras tulisan. (Dok. IPI)

Jee Luvina adalah nama penanya yang ia gunakan pada buku perdananya yang diterbitkan di penerbit konvensional (penerbit mayor) Mizan. Ia menyebut jenama dirinya sebagai founder @nulisyuk.

Buku karyanya itu berjudul Diary Jiwa, sebuah buku pengembangan diri yang menjadi konsentrasi Jee. Ia adalah lulusan psikologi jadi tentu sangat nyambung untuk menulis buku-buku motivasi dan pengembangan diri.

Jee sangat antusias mengikuti sesi demi sesi terdiri atas prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Ia tengah mempersiapkan satu buku tentang pernikahan yang berbasis pengalamannya pribadi. Kebetulan sang suami yang bergerak di bidang IT juga seorang penulis. Pasangan muda ini juga dipertemukan sebagai jodoh sedikit banyak karena menulis.

“Kisahnya unik dan seru,” ujar Jee.

Mengembangkan ide secara tepat, termasuk kekuatan seorang penulis buku nonfiksi. (Dok. IPI)

Saya membantunya untuk mengembangkan kerangka bakal bukunya tersebut. Kelas selama dua hari ini memang serba terbatas untuk membahas banyak materi tentang penulisan buku nonfiksi. Namun, saya persilakan Jee untuk terus berkonsultasi sampai bukunya jadi.

Jee representasi generasi yang tidak hendak enak sendiri dalam menuntut ilmu. Ia datangi di mana ilmu itu berada, bahkan mengeluarkan biaya untuk itu. Kelas privat saya memang terbilang tidak murah (tapi tidak pula mahal); Rp2,5 juta untuk dua hari pertemuan.

Namun, sebagai apresiasi pada Jee, saya banyak memberi materi dalam bentuk softfile yang tidak pernah saya berikan kepada orang lain. Saya juga mendorongnya untuk mulai menulis buku anak yang sungguh menantang.

Kota Banjar tempat Jee tinggal hampir tidak terdengar denyut literasi di sana. Karena itu, Jee saya minta untuk membentuk cabang Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia) di sana dan saya siap datang untuk memberi motivasi dan keterampilan literasi.

Salut saya menjura untuk penulis seperti Jee. Antusias, persisten, dan semoga ia konsisten menapaki dunia literasi Indonesia yang bakal bertumbuh kembang pesat tahun-tahun mendatang. Ia telah menyerap ilmu standar yang saya berikan. Ia bersiap untuk menjadi penulis besar dengan berbekal ketenangan jiwa dan kekuatan belajar. Insyaallah.[]

 

Yuk Ikut Privat Menulis 2 Hari di Jakarta

Bambangtrim.com | Asah kemampuan menulis Anda dalam program Privat Menulis Intensif selama 2 hari bersama Institut Penulis Indonesia dengan instruktur berpengalaman, Bambang Trim. Program ini terbuka untuk umum, baik penulis pemula maupun penulis yang telah menghasilkan beberapa karya tulis. Waktu privat fleksibel.

Waktu Pukul 9.00 s.d. 16.00 (6 jam sehari)
Jumlah Peserta 1 s.d. 4 orang
Materi
  • penulisan bisnis konsentrasi surat-menyurat (korespondensi);
  • penulisan bisnis konsentrasi penulisan laporan;
  • penulisan konten media digital (artikel opini, esai, feature, berita);
  • penulisan akademis konsentrasi esai/artikel ilmiah;
  • penulisan buku panduan (how to);
  • penulisan buku anak;
  • penulisan biografi/autobiografi.
  • penyuntingan mekanis konsentrasi bahasa (PUEBI dan tata bahasa baku bahasa Indonesia);
  • penyuntingan mekanis digital menggunakan aplikasi Word;
  • penyuntingan naskah konsentrasi legalitas, kepatutan, ketelitian data dan fakta;
  • dan program penulisan-penerbitan lainnya yang dapat dikonsultasikan kepada kami.

Peserta wajib membawa laptop dan akan dibimbing sampai mampu menghasilkan karya tulis atau menyunting tulisan.

Biaya Rp2.500.000,00 per orang
Fasilitas
  • Buku 200+ Solusi Editing Naskah dan Penerbitan;
  • Materi privat dalam flashdisk;
  • kudapan dan makan siang;
  •  sertifikat

Ruangan representatif dan jaringan wi-fi.

 

Tempat privat berada di jantung Jakarta yaitu di Institut Penulis Indonesia, Lantai II, Jalan Kramat Raya No. 5-H, Komp. Ruko Maya Indah, Jakarta Pusat. Untuk informasi pendaftaran dan pengaturan waktu privat silakan hubungi Sofa via WA 081519898054. Transfer biaya privat ke Rekening BCA No. 2821405361 a.n. Bambang Trimanyah.

Kelas privat penyuntingan untuk pemred KRJogja.com

Metode pelatihan menggunakan metode baku internasional untuk penulisan dan penyuntingan melalui kuliah teori dan praktik. Pemegang sertifikat privat dapat mengikuti program sertifikasi profesi penulis dan editor berlisensi BNSP yang sedang disiapkan oleh CLSP Penulis dan Editor Profesional.

Bambang Trim dikenal sebagai praktisi dalam dunia penulisan dan penerbitan Indonesia dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia kini menjadi Direktur Institut Penulis Indonesia, Ketua Umum Persatuan Penulis Indonesia (Penpro), dan juga dosen Prodi Penerbitan di Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia). Bambang Trim pernah memimpin beberapa perusahaan penerbit nasional dan telah menulis 160 judul buku serta ratusan artikel yang tersebar di berbagai media massa.

 

Buku adalah Kubu

Bambangtrim.com | Ucapan pelukis Jeihan tentang buku masih selalu saya ingat yaitu “Buku adalah Kubu”. Kubu di sini berkonotasi positif, bukan seperti kubu-kubuan di arena politik dan sejenisnya. Kubu adalah sebuah benteng, baik untuk bertahan maupun menyerang.

Di dalam kubu maka terdapat pasukan, logistik, dan alutsista yang mencerminkan sebuah kekuatan. Demikian pula buku yang ditulis oleh siapa pun mencerminkan kekuatan pikiran sekaligus perasaan penulisnya. Kita dapat menerka kedalaman diri seseorang dari apa yang ditulisnya.

Jadi, buku bukan sekadar kartu nama yang hanya menunjukkan identitas, domisili, dan jabatan atau profesi kita. Buku juga bukan sekadar CV yang menunjukkan reputasi kita. Namun, buku lebih dari itu dan kubu adalah representasi buku yang sungguh tepat.

Tidak bosan pula saya mengulang ungkapan Mochtar Lubis tentang buku: “Senjata kukuh yang berdaya debat hebat untuk melakukan serangan maupun pertahanan terhadap perubahan sosial, termasuk perubahan nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan, adalah buku.”

Setiap orang yang berpendidikan dan berpengalaman harus memperjuangkan penulisan buku bagi dirinya. Paling tidak sekali dalam hidupnya ia menulis buku, buku apa pun itu yang merepresentasikan pemikiran dan pengalamannya–bukan buku ecek-ecek. Buku yang ditulisnya sendiri atau berdua bersama koleganya dengan serius, bukan buku yang ditulis beramai-ramai, lalu dilabeli antologi.

Mengapa saya menolak antologi disebut buku? Antologi yang ditulis beramai-ramai hanya memberi ruang sempit bagi pemikiran dan perasaan kita. Itu sama saja dengan menulis sebuah artikel atau esai–tidak memberikan ruang kontemplasi bagi pembaca yang cukup luas. Jadi, mengapa Anda harus berkutat menulis begitu banyak antologi, padahal Anda mampu menulis buku Anda sendiri?

Setelah 7 Tahun, Saya Kembali ke Kampus

0

KALI pertama saya bersentuhan dengan kampus sebagai dosen adalah menjadi asisten dosen Bapak Dadi Pakar (alm.). Beliau adalah salah seorang dosen yang sangat berpengaruh dalam karier saya, baik sebagai penulis maupun editor. Pak Dadi Pakar yang pernah menjabat sebagai ketua Ikapi Jabar mengajak saya kembali mengajar di almamater saya, Prodi D-3 Editing, Universitas Padjadjaran.

Itu terjadi sekira tahun 2000-an. Sejak itu, saya rutin mengajar di D-3 Editing Unpad hingga akhirnya menjadi dosen luar biasa. Lalu, saya juga diminta mengajar di Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Penerbitan serta di Politeknik Negeri Media Kreatif, Jurusan Penerbitan. Namun, kadang saya merasa bersalah karena tidak cukup optimal mengajar di tengah pekerjaan saya sebagai profesional di perusahaan.

Tahun 2010 saya harus hijrah ke Solo sehingga saya menghentikan sama sekali aktivitas mengajar di kampus. Sejak itu sering terbetik kerinduan kembali ke kampus dan berinteraksi dengan kaum muda bernama mahasiswa.

Mengajar (bagi saya) bukan untuk mengejar asupan finansial, melainkan asupan pengetahuan-pengetahuan baru karena lewat mengajarlah saya dipaksa untuk menemukan jawaban dari berbagai persoalan yang saya temukan secara akademis–tentu saja di dunia penulisan dan penerbitan. Saya harus terus memperbarui pengetahuan saya, berkejaran dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat.

Kini, setelah tujuh tahun meninggalkan dunia kampus, saya kembali mengajar di Politeknik Negeri Media Kreatif, Jurusan Penerbitan, Prodi Penerbitan, pada September 2017 ini. Mata kuliah penyuntingan menjadi amanah pertama yang menandai kembalinya saya ke kampus. Mata kuliah itu juga jelas menjadi trade mark diri saya.

Panggilan jiwa yang saya temukan pada tahun-tahun terakhir ini memang mengajar. Karena itu, lewat Penpro dan Institut Penulis Indonesia, saya memelopori disusunnya Standar Kompetensi Kerja Khusus (SK3) Penulis Buku Nonfiksi sehingga menjadi dasar dibentuknya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Penulis dan Editor Profesional. Lembaga ini masih erat kaitannya dengan pendidikan.

Perjuangan memang belum selesai, apalagi perjuangan melahirkan SDM-SDM industri penerbitan yang andal. Saya ingin punya andil meskipun hanya seujung kuku.[]