WRITERPRENEURSHIP

Memang tak letih kita membincangkan soal keterampilan menulis. Keterampilan yang dulu pernah sangat mentereng sehingga para penguasa (raja-raja) merasa perlu merekrut seorang penulis di dalam kerajaannya. Namun, sampai sekarang pun yang namanya keterampilan menulis itu memang keahlian tak sembarangan. Para penguasa, pejabat, dan pemimpin bisnis pun memahami betapa pentingnya tulisan untuk mengeksiskan mereka. Para penulis pun tetap dicari.

Profesi penulis adalah profesi paling fleksibel. Profesi ini bisa dilakoni siapa pun, apakah itu sebagai sambilan/sampingan, paruh waktu, maupun penuh waktu. Memang ada keraguan untuk menceburi profesi ini secara penuh karena tentu terkait dengan bayaran profesional yang belum memadai di satu sisi. Saya boleh mengatakan itu pilihan dan bagaimana passion menulis itu dapat ditingkatkan menjadi serangkaian myelin yang membuat menulis begitu punya harga.

Writerpreneur adalah jawaban untuk soal keraguan ini. Adakah writerpreneurship di dalam dirimu? Writerpreneurship adalah sekumpulan hasrat (passion), ide, dan juga kecakapan melihat peluang dunia tulis-menulis. Lagi-lagi saya mengutip ujaran Dan Poynter: writing is not a job; it’s business. Tulisan adalah komoditas jasa sekaligus produk yang memang bisa dibisniskan atau dijual.

Laras ataupun ranah penulisan itu banyak sekali. Ada yang disebut journalistic writing, academic writing, business writing, entertainment writing, book writing, dan juga literature writing. Anda dapat memilih satu ranah ataupun bermain di banyak ranah, bergantung pada bagaimana Anda mengembangkan keterampilan menulis itu.

Generalis atau spesialis juga adalah pilihan. Anda dapat memilih menjadi penulis khusus buku anak ataupun cerita anak. Anda juga dapat memilih menjadi penulis spesialis biografi tokoh. Sebaliknya, Anda juga dapat memilih menjadi generalis dengan mengembangkan kemampuan dapat menulis berbagai macam produk tulisan. Di sinilah jiwa writerpreneur Anda diuji–dengan kecepatan, kualitas, dan tentu keakuratan.

Writerpreneurship memang sebuah proses panjang atau Anda kelak dapat menemukan short-cut untuk memulainya. Jalan panjang itu termasuk melatihkan kemampuan menulis sendiri sehingga tulisan-tulisan kita mampu memiliki tiga daya: daya pikat, daya ubah, dan daya hibur paling tidak. Writerpreneurship harus didukung kemampuan mengomunikasikan ide-ide penggarapan tulisan dan untuk hal ini Anda memang harus belajar bisnis lebih jauh.

Dalam bisnis penulisan, Anda memang paling tidak harus menguasai juga area yang dekat dengan dunia ini yaitu penerbitan dan percetakan karena klien kemungkinan menanyakan banyak perihal bidang ini. Apa pun yang dimintakan kepada Anda pasti berhubungan dengan penerbitan karya, kecuali tentu tulisan yang bersifat pribadi ataupun internal. Selain itu, tarif tulisan juga benar-benar Anda harus pertimbangkan, terutama juga jenis-jenis kontrak yang berkaitan dengan hak kekayaan intelektual (HAKI). Banyak hal yang memang kadang merepotkan seorang writerpreneur karena tidak adanya panduan untuk profesi ini secara detail.

Ada hal yang juga sangat penting dalam menjalani profesi writerpreneur yaitu kemampuan untuk melakukan supervisi (penyeliaan) dan juga konsultasi terkait dengan tulisan. Kadang-kadang dalam sepengalaman saya, ada saja klien yang meminta di luar yang kita kira. Ada klien yang pernah meminta saya melatihkannya membuat novel karena ia sendiri ingin melakoni diri sebagai penulis novel maka jadilah saya instruktur novel. Ada klien yang meminta kita menjadi co-writer dan ada pula menjadi ghost writer. Ada klien yang mengajak kita diskusi dan larut dalam konsep sehingga kita perlu membongkar semua kemampuan menulis untuk menerjemahkan keinginannya. Paling tidak pancaindra kita bekerja dan dituntut fleksibel untuk menangkap semua ide yang bertebaran.

Writerpreneur adalah tipikal penguasaha kreatif di bidang tulis-menulis atau boleh disebut perajin tulisan. Mereka mampu membaca peluang bagaimana tulisan bisa dijadikan komoditas untuk berbagai keperluan. Jadi, dalam konteksnya, seorang writerpreneur tidak akan lagi berkutat dengan tanda tanya: bisakah saya hidup dari menulis/tulisan? Itu pertanyaan masa lalu. Sekarang tentunya tantangan adalah bagaimana saya memasarkan ide-ide saya yang bisa berupa tulisan ataupun kita menyebutnya secara luas menjadi konten.

Konten itu tertulis, tetapi tidak sebatas sebagai karya tulis karena konten dapat menjadi embrio bagi produk derivatif, seperti buku elektronik, buku multimedia, games, film, musik, dan banyak lagi. Contoh sebuah tulisan yang kemudian menjadi konten adalah Laskar Pelangi yang berubah menjadi film, sinetron serial, pertunjukan musikalisasi. Boleh jadi kemudian akan ada game Laskar Pelangi dan bentuk derivatif lainnya.

Nah, saya melihat seorang writerpreneur juga harus memandang hasi karyanya bukan hanya tulisan, melainkan sebuah konten yang dapat diperas intisarinya menjadi banyak produk. Writerprenurship pun akhirnya juga merupakan cara pandang kita dalam melihat masa depan bisnis tulis-menulis menjadi bisnis konten memasuki era digital.[]

©2012 oleh Bambang Trim, Komporis Buku Indonesia

Pemilik usaha kreatif jasa penerbitan dan perajin buku (book packager) DIXIGRAF dan lembaga training-konsultasi penulisan-penerbitan TrimKom

Mengerek Citra Perusahaan dengan Buku Korporasi*)

Di dunia bisnis, apalagi bagi korporasi besar, buku bukanlah sekadar penghias perpustakaan kantor yang dapat dijadikan sumber pembanding, sumber ide pengembangan, ataupun bahan pengambilan keputusan, melainkan lebih berdaya dari itu. Sebuah buku dapat menghantarkan citra sebuah korporasi menjadi tampak bergengsi ataupun penuh dedikasi. Karena itu, buku telah menjadi sarana komunikasi korporasi yang mencitrakan intelektualitas sebuah perusahaan. Jarang ada perusahaan kelas dunia yang tidak membukukan korporasinya. Indonesia pun telah dibanjiri buku-buku korporasi, seperti Toyota, Sony, Starbuck, Yahoo, Google, Apple, dan Microsoft.

Kabar terbaru dari sebuah buku yang mencitrakan korporasi adalah peluncuran buku pemilik CT Corp, Chairul Tanjung, yang berjudul Chairul Tanjung: Si Anak Singkong. Buku ini memotret biografi seorang CT yang merupakan pengusaha dengan jejak rekam memulai dari bawah. Rentetan perjuangan CT hingga akhirnya membesarkan grup perusahaan Para yang kemudian berganti nama menjadi CT Corp memang pantas dibukukan—paling tidak untuk mengomunikasikan pesan dan nilai-nilai yang dianut CT kepada para karyawannya yang terbesar di banyak perusahaan, termasuk Trans Media. Namun, belakangan setelah peluncuran ada kekisruhan soal ghost writer buku ini yang disebabkan mungkin salah satunya perjanjian kurang jelas atau detail antara pemberi order penulisan dan ghost writer yang namanya tidak disebutkan. Soal ini tidak kita bahas di sini.

Kecenderungan penulisan buku yang dilakukan korporasi akan terus meningkat seiring dengan kesadaran para penggiat perusahaan sendiri, terutama corporate secretary atau corporate communication untuk mencitrakan perusahaan kepada publik lebih luas. Buku tetap dianggap sebagai produk yang berkesan intelek, mudah diakses siapa pun, dan akan menjadi dokumentasi sejarah yang sangat baik.

Saya melihat beberapa kecenderungan penerbitan buku korporasi itu dapat berbuah menjadi buku dalam bentuk:

  1. biografi atau autobiografi pendiri perusahaan maupun CEO perusahaan;
  2. sejarah perusahaan ataupun kisah sukses perusahaan;
  3. metode, kiat, ataupun rumusan sukses CEO;
  4. metode, kiat, ataupun rumusan sukses perusahaan seperti The Toyota Way;
  5. refleksi, peristiwa revolusioner, momentum, ataupun perubahan radikal yang terjadi pada perusahaan seperti Mutasi DNA Power House.

Kelima topik ini memang paling sering menjadi dorongan untuk membuat buku korporasi. Walaupun demikian, di luar hal itu sebenarnya banyak yang dapat dibukukan dari sebuah korporasi, termasuk bagaimana korporasi mendorong para karyawannya dapat menulis buku. Korporasi juga dapat menghimpun tulisan yang berorientasi pada stakeholders-nya. Namun, tentu diperlukan persiapan dalam menyiapkan buku-buku korporasi yang layak baca.

Kelemahan utama kebanyakan korporasi adalah dokumentasi tertulis, termasuk juga foto-foto bernilai berita. Hal inilah yang kadang menjadikan penulisan buku korporasi mengandung tingkat kesulitan tinggi karena tidak ada dokumentasi sejarah yang apik, apalagi pada perusahaan-perusahaan besar yang sudah berdiri 20-30 tahun lebih. Diperlukan energi lebih untuk mengumpulkan mosaik-mosaik informasi, misalnya dari para pendiri atau pionir perusahaan yang masih hidup.

Karena itu, penting bagi sebuah korporasi, terutama yang masih berusia muda untuk menugaskan bagian humas ataupun corporate communication perusahaan memulai usaha pendokumentasian data dalam bentuk tertulis. Data-data dapat dibuat dalam format berita, feature, dan wawancara tokoh. Presentasi-presentasi penting perusahaan juga harus ditulis ulang sebagai rekam jejak kemajuan perusahaan. Peristiwa-peristiwa penting, baik itu peristiwa yang membahagiakan maupun peristiwa buruk juga harus terdokumentasi dengan baik.

Pertanyaannya sekarang, berapa banyak korporasi di Indonesia yang membukukan kisah sukses korporasinya? Tidak banyak dan masihlah minim, termasuk juga di kalangan BUMN. Rhenald Kasali pernah menuliskan untuk Pertamina buku berjudul Mutasi DNA Power House yang diterbitkan Gramedia. Selain itu, Rhenald Kasali juga pernah dengan cantik memaparkan kisah sukses perubahan revolusioner di PT XL Axiata yang dilakukan CEO-nya Hasnul Suhaimi dalam buku Cracking Zone yang juga diterbitkan Gramedia. Rhenald Kasali memang menggunakan hasil penelitiannya tentang perubahaan, DNA perusahaan, myelin, serta terakhir cracking zone untuk mencuatkan studi kasus pada korporasi Indonesia. Hasilnya memang sebuah buku korporasi yang menarik.

Buku korporasi yang terbanyak umumnya adalah buku biografi pendiri atau pionir perusahaan yang hendak digadang-gadangkan sebagai pencitraan ataupun juga sebagai upaya berbagi pengalaman. Tentulah sangat penting di Indonesia juga terbit buku-buku yang mengulas sepak terjang CEO korporasi besar di Indonesia. Namun, kadang ada kesulitan juga karena beberapa CEO memang enggan membukukan kisahnya—entah karena merasa belum layak, atau karena menanti momentum tertentu.

Berikut contoh beberapa buku korporasi yang pernah terbit.

No.

Judul Buku

Korporasi

Jenis

Penulis

1.

Bisnis Rental Menjadi Korporasi Nasional

Cipaganti

Success Story

Pitoyo

2.

Sang Burung Biru

Bluebird

Success Stroy

Alberthiene Endah

3.

Mutasi DNA Power House

Pertamina

Sejarah dan Kiat

Rhenald Kasali

4.

Solusi Berasuransi: Lebih Indah dengan Syariah

Takaful Indonesia

Kiat

Bambang Trim

5.

Dari Monopoli Menuju Kompetisi

Telkom

Refleksi 50 Tahun PT Telkom

Ramadhan KH, dkk.

6.

Asa pun Datang di Saat Bimbang

Jamsostek

Kumpulan Kisah (Momentum 30 Tahun Jamsostek)

Gantyo Koespradono, dkk.

7.

Wirausaha Mandiri

Bank Mandiri

Kumpulan Kisah Inspiratif

Rhenald Kasali

Pengembangan Ide Buku Korporasi

Tentulah buku korporasi tidak terbatas pada menyiapkan buku biografi sang pendiri atau sejarah dan kisah sukses perusahaan. Buku korporasi juga dapat dikembangkan dengan berorientasi pada stakeholders perusahaan, seperti kumpulan kisah-kisah para pengguna produk ataupun jasa, kumpulan kisah-kisah para karyawan, ataupun kisah sejarah meluncurnya sebuah produk. Bayangkan, mungkin kita tidak tahu bagaimana sejarah mie instan Indomie sehingga begitu berjaya di dunia sampai kini. Mungkin jejaknya ada dalam biografi Liem Sio Long yang juga pernah terbit sebagai pendiri Indofood.

Korporasi yang ingin menerbitkan buku tentu juga dapat menggunakan tenaga-tenaga profesional yang menguasai teknik penulisan buku korporasi, termasuk menguasai drafting, editing, dan publishing-nya. Drafting adalah upaya awal membuat outline dan mempertimbangkan seberapa banyak bahan/data yang diperlukan untuk penyusunan buku, termasuk membuat jadwal wawancara tokoh. Dalam hal publishing, seorang penulis yang merangkap menjadi konsultan dapat menawarkan kepada korporasi beberapa pilihan:

  • self-publishing yaitu menerbitkan buku sendiri atas nama perusahaan, termasuk mencetaknya sendiri;
  • co-publishing yaitu bekerja sama dengan lembaga penerbitan yang ada dengan beberapa sistem kerja sama.

Sebuah perencanaan buku korporasi hendaknya dijadwalkan jauh-jauh hari karena paling tidak seorang penulis merampungkan pekerjaannya dalam rentang 2-3 bulan apabila bahan sudah siap. Sebuah korporasi dapat menentukan momentum-momentum yang tepat untuk peluncuran sebuah buku, apakah itu HUT korporasi, HUT pendiri atau CEO perusahaan, hari besar keagamaan, hari besar nasional, peringatan sebuah momentum penting, ataupun peluncuran produk/layanan baru.

Tujuan penerbitan buku korporasi pun nanti sangat bergantung pada kepentingan korporasi. Apakah disebarkan kepada publik dengan cara dijual melalui jejaring toko buku yang biasa ada? Apakah dijual dengan harga yang murah sehingga semua orang dapat membaca meskipun tampilannya wah? Apakah hendak dibagi-bagikan sebagai souvenir perusahaan kepada para mitra dan pelanggan perusahaan? Intinya, buku korporasi harus tepat sasaran dibaca orang dan mampu mengerek citra perusahaan karena orang pun akan paham bagaimana sepak terjang perusahaan sebenarnya. []

*) Bahan mentah Alinea Writer Incubator | Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia

©2012 oleh Bambang Trim (Book Specialist/Writerpreneur)

Owner of Dixigraf and TrimKom

“Sastra Serius” Dipelihara oleh Negara

Membincangkan literasi dan buku dengan para penggiat penerbitan di Malaysia bolehlah membuat sedikit iri soal perhatian negaranya yang begitu besar. Bukan hendak membanding-bandingkan, melainkan faktanya memang demikian hingga dua orang tamu berkunjung ke Ikapi Pusat, 29 Juni 2012 kemarin. Adalah Encik Mohd. Khair Ngadiron (beliau keturunan Jawa) yang kini memimpin Institut Terjemahan dan Buku Malaysia (ITBM) berkunjung bersama Encik Sakri Abdullah sebagai ketua jabatan terjemahan dan penerbitan.

ITBM bukanlah lembaga pendidikan. Seperti makna yang tersurat di dalam KBBI, institut juga adalah badan atau lembaga yang didirikan untuk melakukan suatu penyelidikan ilmiah. ITBM yang awal ditubuhkan (didirikan) bernama Institut Terjemahan Nasional Malaysia 18 tahun lalu, kemudian berubah pada 16 Desember 2011 menjadi Institut Terjemahan dan Buku Malaysia. Perubahan ini didasari oleh perluasan peran dari awalnya sebagai lead agency penerjemahan karya-karya terpilih, kemudian ditingkatkan juga menjadi penerbitan buku-buku hasil terjemahan karya-karya terpilih. ITBM pun menjadi semacam badan usaha milik negara dengan key performance indicator tersendiri yaitu harus menghasilkan profit dari usaha-usahanya. Walaupun demikian, pihak Kerajaan Malaysia menggelontorkan RM5 juta (lebih kurang Rp145.000.000.000) yang disalurkan secara bertahap selama dua tahun untuk membantu penerbitan buku, terutama karya penulis muda dalam semua genre. Jumlah yang tidak sedikit untuk sebuah dukungan terhadap literasi serta penerbitan.

Apa maknanya? Malaysia sudah bergerak untuk sadar literasi jauh-jauh hari. Salah satu upaya adalah penerjemahan karya-karya bermutu dari penulis asing. Sebaliknya, Malaysia juga dengan kepercayaan diri mulai mengusahakan promosi karya para sastrawan yang diterbitkan dalam berbagai bahasa. Pola kerja sama yang dibangun adalah co-publishing dengan penerbit asing sehingga muncullah karya para penulis Malaysia dalam bahasa Prancis, Spanyol, Rusia, Korea, dan Inggris tentunya. Tetap iri, ya tentu saja. Malaysia sudah mampu mengenalkan pantun lewat penerbitan buku sehingga dialihbahasakan ke dalam bahasa Prancis. Dato’ Sri Mohd. Najib, Perdana Menteri Malaysia kini, rupa-rupanya sadar betul soal kepentingan literasi dan peran para sastrawan memajukan negaranya. Karena itu, sastrawan yang dianggap menghasilkan karya-karya “sastra serius” dalam versi mereka seolah-olah dipelihara oleh negara dan diberi ruang untuk berkarya. Ruang gerak itu dimaknakan dengan pendirian ITBM. Bahkan, ITBM kemudian juga menjadi satu mata rantai penggerak community development untuk membina para penulis, penerjemah, juga penyunting. ITBM menjadi strategic partner bagi Persatuan Nasional Penulis Malaysia (PENA) yang sudah berdiri 50 tahun lamanya.

ITBM juga menyelenggarakan workshop-workshop untuk mengasah keterampilan menerjemahkan dan menyunting naskah terjemahan. Alhasil, kegiatan ini juga secara tidak langsung mendorong kualitas penerjemahan buku-buku yang mereka terbitkan dalam berbagai genre. Namun, khidmat utama mereka tetaplah mengangkat para sastrawan muda Malaysia menjadi sastrawan berkelas dunia. Seperti kita di sini juga memimpikan munculnya kembali sastrawan sekelas HB Jassin, Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, Pramoedya, Chairil Anwar, Kuntowidjoyo, Umar Kayam, Romo Mangun, Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, dan banyak lagi—yang lahir dari kalangan generasi muda dengan semangat literasi tinggi.

Duh, apakah negara kita tak serius mengurusi literasi dan buku di negeri ini? Tak kurang ada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan program-programnya—seperti penilaian buku-buku bacaan setiap tahun. Tak kurang ada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang seharusnya juga mengambil perhatian soal penerbitan buku. Tak kurang ada beberapa writer festival event kini seperti di Ubud dan Makassar yang mampu menggelorakan semangat sastrawan muda. Namun, tetap saja tidak ada yang namanya lembaga seperti ITBM dengan misi begitu terarah dan jelas sebagai industri literasi.

ITBM telah memesan booth untuk ikut dalam ajang Indonesia Book Fair (IBF) 2012 November mendatang. Mereka pun hendak membawa beberapa penulis (sastrawan) muda menggelar acara di IBF 2012. Satu misi yang akan disorongkan Encik Khair adalah membawa para penulis muda Malaysia melanglang buana ke beberapa event, terutama book fair, seperti Frankfurt Book Fair dan Bologna Book Fair. Misi yang sekali lagi membuat iri karena para penulisnya pun didukung untuk melek internasional dan merasakan kejayaan di dunia buku.

Iri saja tidak cukup. Maaf, “sastra serius” tidak dipelihara oleh negara, apalagi “sastra tidak serius” alias populer—atau malah yang populer mendapat perhatian lebih. Maaf, ini bukan soal dikotomi ada “sastra serius” dan “sastra populer”, ini soal ke mana mau dibawa kejayaan literasi kita meski ada banyak jurusan Sastra Indonesia di berbagai perguruan tinggi ilmu humaniora di Bumi Pertiwi ini dan banyak pula pakarnya. Sampai-sampai generasi kini tak mampu membedakan mana pantun mana karmina. Sampai-sampai generasi kini menakuti pelajaran bahasa Indonesia pada setiap ujian nasional digelar. Sampai-sampai banyak pula yang mencoba berliterasi secara instan, berkarya tanpa pandu dan arah, serta berjaya tanpa dukungan setelahnya. Sialan, tetap saja kita mencintai Indonesia yang kaya raya ini berbalut masalah setiap hari! []

 

Ba(ha)sa Basi Bambang Trim

©2012 oleh Bambang Trim

 

Gas dan Kemeja Kotak-Kotak

Apa hubungan gas dan kemeja kotak-kotak? Kalau dalam pengalaman pribadi saya, tentu ada hubungannya. Sebagai writepreneur saya tidak melepaskan diri dari mencermati dunia simbol atau dunia tanda (semiotika). Pengalaman seminggu lalu membuat pikiran kreatif saya pun bekerja.

Pertama, undangan presentasi dari PT Badak NGL. Ini menjadi perjalanan pertama saya ke bumi Kalimantan. Beruntung saya menjadi tamu di sebuah kota kecil bernama Bontang dan di sanalah terdapat salah satu kekayaan gas negeri ini, tepatnya di Muara Badak yang kemudian menjadi sumur gas paling produktif di dunia dengan operatornya PT Badak NGL.

Di sini saya melihat tanda tentang betapa kayanya negeri ini. Tanda tentang profesionalitas yang dibangun oleh anak-anak bangsa sendiri. Namun, kita memang miskin dokumentasi tertulis, seperti halnya juga terjadi pada sejarah daerah-daerah di Indonesia dan sejarah-sejarah perusahana living company yang ada. Saya membaca tanda-tanda peluang dibutuhkannya begitu banyak penulis karier yang mampu mendedikasikan diri menghimpun kemampuannya menuliskan sejarah begitu banyak peristiwa dan momentum berharga di bumi Pertiwi ini.

Scripta manent verba volant demikian pepatah Latin mengatakan. Pepatah ini bermakna yang tertulis akan abadi yang diucapkan lenyap bersama angin. Sang intelektual Muslim pun pernah berkata, Imam Ali ra, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Ilmu itu ada pada manusia (tokoh), ada pada fenomena (peristiwa), dan ada pada momentum. Semuanya bisa dan akan lenyap bersama angin jika tiada yang berkehendak menuliskannya.

PT Badak NGL adalah sebuah nama yang mungkin kalah populer dibandingkan PT Arun di Aceh karena ladang gasnya ditemukan setelah Arun. Namun, PT Badak NGL menyimpan kisah sukses luar biasa dalam pengelolaan potensi gas negara. Banyak kisah heroik yang membawa nama perusahaan ini pada prestasi di kancah internasional. Bahkan, Badak NGL sudah menjadi semacam ‘sekolah’ bagi para teknisi gas dunia.

Sepanjang perjalanan Jakarta-Balikpapan-Bontang dan sebaliknya, saya pun menikmatinya dengan membaca koran. Demo antikenaikan BBM dan isu tentang pemilihan gubernur DKI menjadi topik yang menarik minat hati. Sosok yang lekat sejak satu setengah tahun ini bagi saya adalah sosok Jokowi, sang walikota Solo yang juga mencalonkan diri menjadi gubernur DKI. Pasalnya, selama satu setengah tahun itu saya bermukim di Solo dan menikmati kenyamanan Solo sebagai kota yang dipoles Jokowi. Saya pun sempat bertemu beliau ketika meminta beliau hadir dalam peluncuran buku biografi tokoh perbukuan di Solo.

Saya pun membaca tanda pada Jokowi. Tokoh ini layak dibukukan. Karena itu, jauh-jauh hari saya meminta kru Penerbit Tiga Serangkai untuk mencari akses dan mulai kerja membukukan Jokowi. Namun, saya keburu meninggalkan TS dan akhirnya tadi pagi saya melihat sebuah sampul buku Jokowi yang sudah diterbitkan sebagai tanda buku itu sudah memang dipersiapkan. Dan sekarang kalau tidak salah sudah dua buku meluncur.

Jokowi pun pintar memainkan tanda dan simbol dengan kemeja kotak-kotaknya. Dari awal penampilan, mata saya sudah kontras dengan kemeja yang dikenakan Jokowi dan pasangannya, Ahok. Kini, kemeja itu pun menjadi komoditas yang membuat Jokowi mudah dikenali dengan tandanya–sekaligus simbolnya yang banyak memperjuangkan kepentingan rakyat kebanyakan, termasuk bergaul dengan anak-anak muda penyuka musik metal.

Semua editor ataupun penulis pasti membaca tanda-tanda. Perkaranya apakah tanda-tanda itu dapat cepat dieksekusi menjadi ide atau malah dibiarkan saja menguap bersama angin. Sebuah tanda dapat secara bersamaan dibaca sehingga muncul juga buku-buku yang saling menganibal satu sama lain tanpa ada diferensiasi. Kadang saya juga tidak ingin terjebak pada tanda-tanda.

Karena itu, saya membiasakan diri banyak membaca, banyak berjalan, dan banyak bersilaturahim untuk mencerap sebanyak mungkin tanda dan simbol. Saya harus mencari benang merah, harus mencari titik temu ide-ide, dan harus mempertimbangkan bahan yang cukup untuk mengolahnya menjadi tulisan yang bergizi.

Dunia penulisan dan writerpreneurship itu memang menarik hati. Tidak mudah memang istiqamah menjalaninya karena antara pekerjaan dan mengasah kemampuan harus berjalan simultan. Tantangan menulis itu bukan hanya menulis buku itu sendiri, melainkan bagaimana berbagai teknik dapat dikembangkan dengan taktis dan tuntas.

Proses membaca tanda dan simbol adalah proses prewriting. Proses mematangkan tanda dan simbol menjadi ide besar (big picture) adalah proses drafting. Proses memperhalusnya adalah proses revising dan editing. Pada ujungnya adalah publishing.

 

:: catatan kreativitas Bambang Trim

* Berkehendak menguasai proses prewriting-drafting-revising-editing-publishing? Ikuti “BOOK WRITING REVOLUTION TRAINING” Batch #4, 18-19 April 2012, di Hotel Bumi Sawunggaling, Bandung. Informasi kontak ke HP 081320200363 (Irma) atau 022-7310663 (TrimKom). Kesempatan langka mendapatkan pembimbingan menulis buku nonfiksi secara taktis dan praktis.

 

Kontra (Nilai) Antikorupsi

Di tengah hiruk pikuk demo anti-kenaikan BBM, saya berkutat dengan tugas tim menyusun bahan ajar pendidikan anti-korupsi (PAK) di Puskurbuk. Tidak gampang memulai tugas ini sambil pikiran menerawang tentang karut marut di negeri ini. Bagaimana kabar terbitnya buku-buku KPK yang memuat pendidikan antikorupsi? Bagaimana kabar kantin kejujuran yang didanai pemerintah itu?

Ini kali kedua saya terlibat dalam menyelia penerbitan buku tentang korupsi. Pertama, saya sempat memberikan training penulisan buku untuk para fasilitator KPK. Ada rencana mengembangkan buku-buku nonfiksi kategori ilmiah populer sebagai bahan pelatihan fasilitator menanamkan konsep integritas kepada masyarakat.

Bagaimana mendesain pendidikan dengan maksud pencegahan korupsi ini? Saya tidak berkaitan dengan mendesain pola pendidikannya. Apa yang saya usahakan adalah mendesain bahan ajarnya berupa modul. Perlu ditemukan formula yang tidak dengan gaya menggurui atau galibnya menyuruh anak menjadi jujur, bertanggung jawab, dan disiplin segampang menyuruh mereka makan. Ya meskipun kita yakin nilai-nilai harus ditanamkan sejak usia dini. Namun, metode penanaman pun harus rancak dirancang agar bahan ajar tidak menjadi kontraproduktif dengan maksud dan tujuan mulia ini.

KPK dan Kemendikbud memeras nilai-nilai positif yang harus dikembangkan menjadi nilai-nilai anti-korupsi. Ada NILAI INTI, yaitu jujur, disiplin, dan tanggung jawab. NILAI ETOS KERJA, yaitu kerja keras, sederhana, dan mandiri. NILAI SIKAP, yaitu adil, berani, peduli.

Apa yang saya pikirkan kemudian? Saya memikirkan nilai atau karakter kontra dari 9 nilai itu. Hehehe ini menjadi pekerjaan sedikit berbau bahasa dan saya memerlukan tesaurus untuk melacak lawan kata nilai-nilai itu. Karena itu, jadilah draft awal seperti berikut:

  • Jujur x Bohong/Dusta
  • Disiplin x Tidak Tertib/Sembrono
  • Tanggung Jawab x Abai/Ingkar
  • Kerja Keras x Malas
  • Sederhana x Mewah & Boros
  • Mandiri x Bergantung (Lemah)
  • Adil x Berpihak
  • Berani x Takut
  • Peduli x Apatis

Saya memerlukan kata-kata atau nilai-nilai kontra ini untuk menyusun desain modul pembelajaran yang kontekstual. Modul harus menyajikan data dan fakta sehingga kemudian menjadi dorongan untuk mengembangkan sikap antikorupsi dan antigratifikasi (antisuap). Akan lebih menarik kalau kata-kata tadi pun kita kembangkan dengan mencari bentuk ungkapan (idiomnya) dalam bahasa Indonesia, misalnya untuk menyatakan berpihak, ada ungkapan berat sebelah atau malas dapat dipadankan dengan berat tangan.

Namun, modul pembelajaran PAK ini memang bukan mengembangkan pelajaran bahasa Indonesia, justru harus mengintegrasikan seluruh mata pelajaran dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang relevan. Di satu sisi, modul jangan sampai pula menjadi materi buku teks yang sekadar dipindahkan sehingga siswa merasakan ini adalah sebuah mata pelajaran baru. Tidak terbayangkan jika kemudian ada tes mata pelajaran antikorupsi.

Memandang usaha seperti ini boleh mungkin sebagian orang apriori mengingat sudah berurat akarnya korupsi di negeri ini. Boleh juga lahir sikap pesimistik bahwa pembelajaran tersebut akan sia-sia–terutama jika menghubungkannya dengan para pengajar sendiri (guru) yang juga harus bebas dari tindak korupsi. Teladan menjadi kata yang cukup untuk menunjukkan efektivitas pendidikan antikorupsi.

Walaupun demikian, saya pribadi menganggap usaha ini tetaplah penting seperti juga dilakukan di negara-negara lain. Penanaman nilai-nilai ataupun perlawanan lewat teks-teks yang bernas perlu dihidupkan dan digiatkan. Namun, tentunya desain teks-teks berupa bahan ajar itu pun tidaklah boleh sembarang, terlalu teknikal sehingga membosankan atau malah membingungkan, serta juga harus berempati terhadap pembaca sasaran (pengguna dan pembaca) bahan ajar tersebut.

Ini salah satu tantangan bagi saya sebagai writerpreneur untuk memulai tugas berbau kepentingan bangsa dan negara. Saya menikmatinya meski  dalam perjalanan pulang dengan taksi melewati kemacetan Jakarta tetaplah terbayang karut marut negeri ini.

 

: catatan kreativitas Bambang Trim

komporis buku Indonesia

 

 

Selisik-Asyik-Menggelitik

Sebuah buku hebat itu kalau diselisik, terasa makin asyik, lalu menggelitik kita untuk mengiyakan, bahkan mendebatnya. Editor adalah ‘makhluk’ yang kerap bekerja menyelisik naskah. Alih-alih menyelisik naskah, kadang ia pun menyelisik sang penulis–meski hanya beberapa kejadian editor akhirnya menikah dengan sang penulis :).

Jika diselisik, penulis itu ada dalam karakter 3 L. Pertama, penulis lemah yang memasrahkan naskahnya sedemikian rupa kepada editor, bahkan kerap mengiba-iba agar naskahnya benar-benar terbit. Kedua, penulis liat yang punya kekerasan kepala seperti granit. Tidak mau diedit dan tidak gampang pula didebat dengan segudang argumen. Naskahnya ibarat menara gading yang tidak boleh ditata lagi. Ketiga, penulis luwes sebagai penulis favorit para editor karena bersahaja, cerdas, dan mau menerima setiap masukan.

Sepengalaman saya menjadi editor sejak 1995, saya berhadapan dengan tiga tipe penulis tersebut. Namun, yang paling sering memang menghadapi penulis lemah. Kalau bertemu penulis liat, tinggal kita ajak makan dan ngobrol soal hobinya tanpa menampakkan sekali jiwa keeditoran kita, beres. Nah, justru yang lemah ini malas untuk diselisik, sama sekali kurang asyik, dan tentu tak menggelitik.

Penulis buku memang harus unjuk gigih, bukan harus unjuk gigi. Gigih bukan berarti memelas atau malah melambungkan naskahnya setinggi langit, lalu dengan mudah terbanting di tempat sampah para editor. Editor pun bukanlah makhluk setengah dewa dengan senjata mustika gunting sakti mandraguna. Tidak ada alasan editor harus mempermak naskah sedemikian rupa jika penulis sudah gigih membuat naskahnya apik, apalagi dengan kemampuan swasunting (self-editing).

Jadi, … ya itu saja. Saya merasa harus banyak menyelisik, yang asyik-asyik (bergaya Ayu Tingting), dan mencari yang bisa menggelitik.

Tak Ada Naskah yang Tak “Retak”

5

Untuk kali ketiga saya menyusun buku tentang penyuntingan (editing) naskah berjudul Tak Ada Naskah yang Tak “Retak”: Panduan Profesional Editing Naskah. Buku sebelumnya sempat saya terbitkan di IKAPI DKI dengan judul Memahami Copyediting. Lalu, buku kedua saya terbitan di Maximalis dengan judul Taktis Menyunting Buku. Dua buku sebelumnya memang berkonsentrasi pada penyuntingan naskah buku.

Buku ketiga ini saya tulis untuk penyuntingan naskah yang lebih umum, seperti artikel, berita, esai, feature, makalah, dan laporan. Tentu harapan saya ingin membumikan lagi keterampilan dan praktik editing kepada para penulis maupun pegiat penulisan di banyak bidang, seperti staf humas, staf komunikasi  pemasaran, guru, dosen, widyaiswara, maupun para penulis dan editor sendiri. Fokus utama keterampilan yang dibahas adalah mechanical editing dan substantive editing.

Seberapa paham Anda tentang kegiatan editing dan editor sendiri? Dunia penulisan saja terkadang bagi masyarakat awam sudah merupakan dunia ‘penuh misteri’, apalagi dunia penyuntingan naskah. Namun, bagi Anda yang bergiat dalam dunia tulis-menulis tentu sudah tidak asing dengan kata editing atau kata sunting.  Sayangnya, literatur tentang editing sangat sulit diperoleh, kecuali yang pernah ditulis oleh editor-editor senior semacam Pamusuk Eneste, JD Parera, Dadi Pakar, Sofia Mansoor, ataupun Mula Harahap.

Saya memang mengangkat topik dengan judul Tak Ada Naskah yang Tak “Retak” karena pada dasarnya sebagian besar naskah yang masuk dapur penerbitan memerlukan sentuhan editor. Tidak ada naskah yang dapat dikategorikan error free ataupun zero defect. Pada setiap naskah, tidak peduli itu ditulis penulis senior atau penulis pemula selalu mengandung kesalahan mulai kesalahan sepele, kesalahan elementer, hingga kesalahan fatal. Mungkin saja sebuah naskah terbebas dari kesalahan karena memang berbentuk naskah pendek seperti artikel atau berita. Namun, pada naskah-naskah yang lebih panjang, kesalahan dapat terjadi.

Kesalahan penulisan dapat disebabkan ketidaktahuan, keteledoran/kecerobohan/kemalasan, tekanan waktu (deadline), kebosanan, kekurangan bahan atau wawasan, dan sebagainya. Sejak Guttenberg menemukan mesin cetak, lalu banyak bahan tulisan diproduksi secara massal, kesalahan-kesalahan mulai ditemukan. Foto berikut ini memperlihatkan ruang editorial The Seattle Daily Times pada zaman dahulu di Seattle, tahun 1900.

Buku yang saya tulis ini termasuk istimewa bagi saya pribadi karena langsung diterbitkan perusahaan saya sendiri TrimKom dengan sistem cetak manasuka (POD) dan diterbitkan terbatas 200 eksemplar. Saya menuliskan naskah ini sebenarnya untuk kepentingan pelatihan editor profesional yang akan diselenggarakan pada 19-20 Maret 2012 di Bandung. Untuk itu, guna memudahkan pemahaman lebih jauh soal editing, terutama terkait kebahasaan dan masalah-masalah editorial, saya membuatkan buku ini sebagai bahan bacaan para penulis maupun editor.

Buku praktis ini disertai kasus-kasus kebahasaan maupun kasus-kasus di luar kebahasaan yang terkait dengan naskah dan kerap ditemukan editor. Nah, apakah Anda berminat memilikinya?

Cara Memesan Buku Langka ini

Sampai kini sudah ada pemesanan indent dari 30 orang. Anda dapat memesannya langsung via email trimcomm@yahoo.com. Pemesanan dilayani dengan transfer biaya seharga buku Rp48.000 plus ongkos kirim: Rp5.000 (wilayah Jabodetabek dan Bandung); Rp15.000 (Pulau Jawa); Rp25.000 (Luar Pulau Jawa). Buku akan dikirimkan pada 15 Maret 2012.

Spesifikasi Buku: 14 x 21; 120 h.; book paper; perfect binding; hitam putih.

Transfer ke Rekening a.n. Bambang Trimansyah 2821405361 BCA KCP Maranatha atau Bank Mandiri 130-00-0572968-9. Bukti dan konfirmasi transfer dikirimkan ke trimcomm@yahoo.com atau faks ke 022-7310663.

WRITER INCUBATOR

4

Siang, 6 Februari 2012, setelah lebih dari sebulan meninggalkan Solo, saya berkesempatan lagi menginjakkan kaki ke kota yang penuh nuansa keunikan ini. Kali ini saya membuat janji bertemu di Kopi Tiam Oei bersama Mas Erwin Skrip….

Perbincangan kami tidak lepas dari soal pengembangan konten-konten digital. Mas Erwin sudah lebih dari dua bulan ini membantu saya mengembangkan konten-konten digital literasi. Bahkan, beliau juga dengan segala kebaikannya akan segera merampungkan blog manistebu ini menjadi website resmi saya.

Kami memang sedang menyiapkan pekerjaan yang bukan sembarang. Pekerjaan yang menguras daya kreativitas, tetapi dilakukan dengan rasa senang bukan alang kepalang. Kami sedang melihat blue ocean bisnis di bidang kepenulisan.

Salah satu ide sambil lalu yang kami bicarakan adalah WRITINCT. Saya segera menyambar konsep ini untuk dinamai WRITINCT yaitu singkatan dari WRITER INCUBATOR. Kami akan membuat sebuah wadah digital untuk ‘mengerami’ banyak naskah dari penulis dan dihubungkan dengan para penerbit yang membutuhkan sehingga akhirnya ‘menetas’ menjadi buku. Insya Allah konsep ini akan dikerjasamakan dengan IKAPI dan kebetulan saya memang saat ini menjabat sebagai Ketua Kompartemen Diklat, Litbang, serta Informasi PP IKAPI.

WRITINCT akan menjadi wadah digital bagi para penulis memublikasikan secara awal naskahnya berikut ‘brief for publisher’ sehingga kemudian menarik hati penerbit untuk bekerja sama. Ada fitur-fitur yang membantu para penulis untuk mengonsep naskahnya dan juga ada fitur-fitur yang membantu penerbit mengenali potensi naskah. Tentu wadah digital ini akan dijaga seorang editor andal dan layanan ini akan disediakan secara free alias gratis bin percuma.

***

Baru sebatas konsep dan bagaimanapun konsep akan diuji serta diteliti efektivitasnya. Namun, ini adalah semacam langkah kecil untuk menampung kreativitas yang makin menggunung, terutama di dunia kepenulisan.

:: catatan kreativitas Bambang Trim

©2012 oleh Bambang Trim

Menulis dan Ekonomi Kreatif

Menantang juga mengeksplorasi dunia kreatif, terutama yang kemudian disebut-sebut sebagai penyokong Ekonomi Kreatif yang tengah dicanangkan pemerintah. Ada 14 industri kreatif yang siap dikembangkan di Indonesia, yaitu 1) periklanan; 2) arsitektur; 3) pasar barang seni; 4) kerajinan; 5) desain; 6) fesyen; 7) video, film, fotografi; 8) permainan interaktif; 9) musik; 10) seni pertunjukan; 11) penerbitan dan percetakan; 12) layanan komputer dan piranti lunak; 13) televisi dan radio; 14) riset dan pengembangan.

Nah, kaitan ini saya lagi menyelia sekitar 18 orang dosen dari Fakultas Seni Rupa IKJ untuk menulis 9 judul buku tentang ekonomi kreatif dan saya takjub bahwa begitu banyak bidang ilmu kreatif yang dapat dieksplorasi ke dalam tulisan. Pasalnya ada profesi-profesi tertentu dalam industri kreatif yang tidak dikenal awam.

Contohnya saja profesi scenografer yang masuk bidang seni pertunjukan, di dalam profesi ini ternyata terpecah lagi menjadi subprofesi dengan kekhususan bidang ilmu sendiri. Salah seorang yang termasuk langka dalam bidang seni pertunjukan ini dan beliau mengajar di IKJ adalah Pak Subarkah–beliau memiliki ilmu atau kemampuan tata rias artis.

Isu ekonomi kreatif memang sedang gencar, namun satu hal yang perlu saya tekankan bahwa literatur tentang bidang industri kreatif tersebut sangatlah minim dan juga hampir tidak ada dalam bentuk buku, kecuali bidang yang populer seperti desain grafis.

Mengapa? Para ahli maupun praktisi di industri kreatif itu tidak menuliskannya–tanpa mengatakan bahwa mereka tidak mampu menulis buku. Namun, pengalaman melatih dan menyelia proses kreatif dosen-dosen di IKJ membuat saya yakin bahwa begitu banyak sumber ilmu dan keterampilan di Indonesia ini yang belum dibukukan, termasuk para pesohor di bidangnya yang belum menulis buku.

Kedua, yang perlu saya ingatkan bahwa semua bidang ekonomi kreatif itu memerlukan media tulisan, baik langsung maupun tidak langsung untuk mendukung produk kreatif tersebut. Misalnya, periklanan, teks iklan (copywriting) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan produk iklan itu sendiri. Begitu pula di bidang produk multimedia berbasis content, tulisan menjadi media yang mendukung pengembangan content itu sendiri.

Jadi, kunci memasuki era ekonomi kreatif adalah apa yang saya sebut ‘kecerdasan literasi’ atau kemampuan ‘membaca-menulis-mendengarkan-berbicara’ karena kreativitas memang dialirkan utamanya lewat bahasa serta seni. Tanpa kecerdasan literasi yang mumpuni pengembangan ekonomi kreatif bisa saja mandek dan malah tidak dapat diinformasikan secara efektif kepada khalayak.

Kemampuan menulis dalam arti menulis untuk publik bukanlah lagi kemampuan milik para penulis (mereka yang berprofesi di bidang penulisan-penerbitan). Namun, kemampuan menulis perlu dimiliki oleh siapa pun, terutama para pelaku industri kreatif karena pada dasarnya kemampuan ini dapat dilatihkan dan dikembangkan. Para dosen ataupun guru yang mengajar di bidang kreatif tentu lebih afdol jika menulis buku teks ataupun modul pembelajaran bidang kreatif sendiri sehingga kiat proses kreatif yang mereka kuasai juga dapat disampaikan secara tertulis.

Kreatif menulis, menulis kreatif …. Memang tidak gampang, tetapi secara taktis dapat dilatihkan dengan metode TRIM (topik-riset-inovasi-matriks) dengan pendekatan pembelajaran standar menulis: prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Karena itu Anda dapat mengikuti training berikut ini.