Jeda Menulis Bukan Demi Uang

0
19
R_Tee (Getty Images)/Canva Pro

Bambangtrim.com | Jeda atau berhenti sejenak dari menulis kadang dilakukan oleh para penulis. Ada yang melakukannya dalam hitungan hari, minggu, atau bahkan bulan. Jika hitungan setahun tidak menulis, mungkin sang penulis sedang berkontemplasi dengan khidmat.

Menjelang pergantian tahun 2020 ke 2021, saya melakukan jeda menulis beberapa hari. Laptop saya biarkan terdiam di meja kerja. Saya mulai merenung kembali untuk apa saya menulis. Jika dihitung sejak tahun 1991 saya mulai aktif menulis, tahun 2021 adalah tepat 30 tahun saya menulis.

Ratusan buku dan artikel sudah saya hasilkan. Bahkan, sampai akhir 2020, saya masih mengerjakan beberapa buku pesanan dan juga buku pribadi. Rasanya menulis telah menjadi bagian dari tarikan napas. Tiada hari tanpa menulis yang kini juga selalu digoda oleh kegenitan media sosial.

Adakah hubungan menulis dengan kebahagiaan saya? Pastilah karena itu sudah menjadi renjana yang saya pilih tiga puluh tahun lalu. Saya memilih karier di bidang tulis-menulis dan menyunting, membelokkan dari hasrat pertama saya memasuki dunia teknik—mengingat di SMA saya memilih jurusan Fisika.

Dapatkah Uang Membahagiakan Penulis

Saya menemukan renjana atau passion itu di menulis. Sejak 1991, saya terus menulis dengan sekali-sekali jeda. Jeda terkadang disebabkan kelelahan. Ada juga jeda terkadang disebabkan frustrasi dan kecewa yang melanda. Salah satu kekecewaan itu sering kali terkait dengan uang.

Ya, saya kecewa manakala tidak mendapatkan imbalan semestinya saat menulis. Padahal, pada masa-masa sebelumnya saya tidak pernah memikirkan soal uang dalam menulis. Saya menulis saja berapa pun imbalannya.

Tahun 1995 saat kali pertama menulis buku pelajaran, sebenarnya saya telah mendapatkan imbalan Rp3 juta untuk satu buku. Uang itu lumayan banyak pada masa itu—seharga satu sepeda motor. Tidak ada aral bagi saya menulis karena saya menulis dengan cinta dan renjana. Itu pula yang mendatangkan kebahagiaan luar biasa ketika menerimanya.

Pikiran dan perasaan saya mulai terganggu ketika merasa penerbit tidak berbuat adil. Suatu kali saya menuntut hak lebih terhadap karya saya. Lalu, saya mendapatkan Rp50 juta untuk tiga karya buku saya pada tahun 1999.

Sejak saat itu saya bertumbuh menjadi penulis pro yang dapat menghasilkan uang dari menulis. Saya mengerjakan proyek-proyek menulis dengan komitmen dan hasrat yang kuat karena saya mencintai, tidak semata demi uang. Namun, uang kadang harus diakui merusakkan konsentrasi.

Saya menjadi teringat kata-kata Samuel Johnson, “Tidak ada seorang penulis pun, kecuali si bebal, yang menulis bukan demi uang.”

Apakah saya termasuk si bebal? Tentu saja tidak jika mengingat jejak rekam hidup saya dari tulis-menulis.

Imbalan uang membuat saya sadar dan bersemangat. Akan tetapi, uang memang bukan segalanya. Uang memang dapat merusakkan komitmen untuk mengasah keterampilan menulis, apalagi bagi seorang penulis pemula. Ada saja penulis pemula yang belum apa-apa sudah terjerembab dalam persoalan uang.

Uang boleh saya tegaskan tak dapat membahagiakan penulis, termasuk sanjung puja ketika tulisannya disukai atau menjadi viral. Hal yang membahagiakannya adalah menulis itu sendiri untuk melepaskan apa yang ada di dalam pikiran dan perasaannya. Plong!

***

Pagi, 1 Januari tahun 2021 saya gunakan waktu untuk menulis artikel singkat ini sebagai bagian dari ba(ha)sa basi yang saya tuliskan sejak lama. Saya ingin menata lagi panggilan untuk menulis setelah 30 tahun. Inilah Ikigai saya dalam menulis.📖

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.