Sebuah Memoar Tukang Buku Keliling

0
4
Tentu saja pernah terlintas di benak saya untuk menulis sebuah memoar. Jenis memoar tampaknya paling pas buat saya pilih daripada autobiografi. Saya hanya ingin mengisahkan awal kehidupan saya tertambat ke jalan buku yaitu jalan para editor yang akhirnya juga menarik saya ke jalan para penulis.
Sungguh pada tahun 1991 saat lulus dari SMA tidak pernah terpikir saya kuliah di jurusan bahasa dan sastra, apalagi bahasa dan sastra Indonesia. Namun, itulah takdir yang ternyata membalikkan jalan hidup saya. Semula berharap kuliah di jurusan teknik, tetapi hati saya pun tertambat pada editing dan dunia tulis-menulis.
Karier saya di dunia buku terbilang cepat. Tamat dari pendidikan D-3 tahun 1994, tahun 1995 saya sudah diterima bekerja sebagai copy editor di sebuah penerbit nasional, Remaja Rosdakarya. Tahun 1997, saya pindah ke penerbit baru Salam Prima Media yang menerbitkan buku anak Islam. Tak lama saya diangkat menjadi kepala bagian, lalu asisten manajer.
Tahun 2000 saya keluar dari perusahaan, lalu mendirikan penerbit sendiri bernama CV Bunaya Kreas Multidimensi. Tahun 200o ini adalah salah satu tonggak penting saya sebagai tukang buku keliling. Saya mulai menjadi dosen luar biasa di almamater saya, lalu juga mulai mengisi berbagai kegiatan pelatihan.
Penerbit Bunaya tidak dapat saya pertahankan. Tahun 2001, saya kembali ke perusahaan lama yaitu PT Grafindo Media Pratama menjabat sebagai Division Head (setara GM). Tahun 2003, saya kembali keluar dan bergabung di perusahaan milik Aa Gym dengan mendirikan MQ Publishing.
MQ Publishing kemudian dimerger dengan PT Mutiara Qolbun Saliim (MQS). Saya pun menjabat sebagai direktur utama dan pernah merangkap jabatan sebagai Pemred Tabloid MQ. Di MQ ini saya berkiprah lebih dari lima tahun, lalu keluar pada tahun 2008. Banyak kisah saya di MQ ini, termasuk keterlibatan mengukuhkan jenama MQ dan Aa Gym melalui buku.
Ada kisah setelah saya keluar dari MQS, sempat saya bertemu Mas Hernowo (alm.). Beliau mengajak saya bergabung dengan Mizan. Namun, saya sudah kadung janji dengan Pak H. Syaifullah Sirin (alm.), pemilik PT Karya Kita dan PT Grafindo Media Pratama untuk bergabung kembali mendirikan PT Salamadani Pustaka Semesta. Jadilah kemudian saya Vice President di PT Salamadani dan akhirnya menjadi direktur. Namun, itu pun tidak lama.
Saya hanya bertahan lebih kurang dua tahun, setelah kemudian menjabat sebagai Direktur PT Grafindo Media Pratama. Pertengahan tahun 2010, saya mengundurkan diri. Saat mengundurkan diri ini muncul tiga tawaran bergabung mengelola penerbitan. Pertama, dari PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri di Solo; kedua dari Ustad Yusuf Mansur di DQ; dan ketiga dari Pak Ary Ginanjar di ESQ.
Saya memilih yang pertama sehingga hijrah ke Solo. Namun, hanya satu setengah tahun saya di TS, lalu akhir 2011 saya memilih mengundurkan diri, kembali ke Bandung. Di Bandung saya meneruskan usaha sendiri, lalu mendirikan Penerbit Trim Komunikata. Pada masa inilah saya mengalami kesulitan karena juga harus membiayai operasional kantor serta karyawan, sementara penerbit bertahan dari usaha jasa.
Walaupun begitu, Trimkom mengerjakan banyak jasa dari lembaga ternama dan perusahaan besar. Saya sempat menggabungkan usaha dengan mitra di Cimahi. Namun, ini juga tidak berlangsung lama. Saya bertahan di Bandung 2012–2015.
Saya memutuskan hijrah ke Jakarta mendirikan Institut Penulis Indonesia di bawah naungan PT Inkubator Penulis Indonesia. Tanpa diduga, Agustus 2016, saya diminta bergabung menjadi Tim Pendamping Ahli di Komisi X DPR-RI untuk Panja RUU Sistem Perbukuan. Inilah awal saya kemudian terlibat di lembaga pemerintah untuk menyiapkan regulasi perbukuan, termasuk RPP dan rancangan permen.
Satu impian yang saya wujudkan pada tahun 2019 adalah sertifikasi penulis buku dan editor sehingga berdirilah LSP Penulis dan Editor Profesional (PEP). Saya juga terlibat sebagai Ketua dalam Prakonvensi dan Konvensi penyusunan SKKNI Penerbitan Buku yang digagas Ikapi. Hingga masuk pertengahan 2020, LSP PEP telah menyertifikasi lebih dari 3.000 orang.
***
Tiga puluh tahun, ada banyak hal yang ingin saya tuliskan. Betapa tidak mudahnya bagi saya meniti karier dari bawah: sebagai karyawan sekaligus sebagai writerpreneur. Jika diukur dari kesuksesan dalam bentuk harta benda, tentu saya masih belum ada apa-apanya dibandingkan teman-teman lain yang lebih senior atau seangkatan di dunia perbukuan.
Saya hanya memiliki jejak rekam karya-karya, baik dalam bentuk buku maupun dalam bentuk konsep dan pemikiran tentang perbukuan Indonesia. Saya juga orang yang sangat gemar berada di kelas-kelas, baik itu dalam kuliah di kampus maupun di pelatihan-pelatihan. Perjalanan selama tiga puluh tahun sungguh memberikan warna bagi diri saya pribadi bertemu dengan begitu banyak orang dari berbagai kalangan.
Insyaallah saya mulai menulis memoar ini menjelang usia saya yang ke-48. Semoga saya dapat mewujudkan buku ini terbit pada tahun depan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.