Sehari Bersama Prof. Zaitunah Subhan

0
540

Bambangtrim.com | Perjumpaan saya tidak sengaja dengan Prof. Zaitunah terjadi saat saya diundang sebagai narasumber di LSF (Lembaga Sensor Film) untuk program penyusunan buku. Prof. Zaitunah sebagai salah  seorang Ketua LSF pun hadir.

Beliau mengenali saya pernah berada di MQ dan mengetahui perihal saya saat berkunjung ke Daarut Tauhiid beberapa tahun silam. Adalah Aa Gym yang menyebut saya sebagai orang yang berada di balik buku-buku MQ. Nama saya kemudian melekat dalam benak Prof. Zaitunah.

Saya langsung akrab dengan beliau dan berjanji untuk dapat bertemu membahas soal buku-buku dengan beliau. Jadilah perjumpaan itu pada tanggal 27 Desember 2018 di Gedung Film, kantor LSF.

Siapakah Prof. Dr. Zaitunah Subhan? Bagi mereka yang bergiat dalam bidang kesetaraan gender atau yang mengenyam pendidikan di UIN, terutama UIN Sunan Ampel (Surabaya) dan UIN Syarif Hidayatullah (Jakarta), tentu tidak asing dengan sosok beliau sebagai akademisi yang mendalami perkara perbandingan agama, studi hadits, dan kesetaraan gender, terutama dalam perspektif Islam.

Tidak mengherankan jika perempuan kelahiran 1950 ini diminta langsung oleh Gus Dur untuk terlibat aktif membantu Khofifah yang saat itu ditunjuk menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Sejak itu, kiprah Prof. Zaitunah tidak pernah lepas dari kementerian itu hingga pensiun pada masa pemerintahan SBY.

Namun, beliau masih bergiat di kampus hingga kini dan juga menjadi salah seorang ketua LSF. Beliau mendalami studi perbandingan agama pada level sarjana. Lalu, beliau melanjutkan pendidikan S-2 di al-Azhar Mesir dan pendidikan S-3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Banyak hal yang saya obrolkan bersama beliau mulai soal kesetaraan gender, poligami, Ahmadiyah, Syiah, dan juga soal wacana-wacana keagamaan yang kini berkembang. Beliau juga mengungkapkan perbedaan pemikirannya dengan Musdah Mulia ketika saya menyinggung sosok tersebut dalam isu kesetaraan gender.

Soal Ahmadiyah beliau berkisah bagaimana selalu hadir dalam event tahunan yang digelar Ahmadiyah.  Prof. Zaitunah mewakili kementerian untuk berbicara soal peran perempuan dalam perspektif Islam. Sampai-sampai beliau kemudian diundang ke “markas” Ahmadiyah di London dan bertemu dengan pemuka-pemuka agamanya, baik dalam konteks berdiskusi maupun berdebat.

Demikian pula dengan Syiah, beliau pernah diundang ke Iran dan berdialog langsung dengan tokoh-tokoh Syiah di sana. Kehadiran Prof. Zaitunah selalu mendapatkan sambutan hangat dan diselingi dengan diskusi-diskusi yang tajam perihal kedudukan perempuan.

Saya menyimak dengan antusias kisah-kisah beliau, termasuk penolakan beliau untuk terlibat dalam politik praktis meskipun tawaran datang dari sana sini. Nama beliau menjadi penting bagi kalangan politikus ketika memaparkan kajian bahwa dalam batas-batas tertentu, pemimpin perempuan itu sah saja.

Dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim, wacana kesetaraan gender dalam perspektif Islam menjadi isu yang penting ketika pemerintah juga bergiat memberikan akses yang lebih besar untuk keterlibatan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik. Sebagai salah satu pakar kesetaraan gender, kiprah Prof. Zaitunah menjadi sangat strategis.

Karena itu, saya menangkap juga “kegelisahan” beliau untuk membukukan pemikiran-pemikirannya yang masih terserak. Saya melihat juga beberapa buku yang sudah beliau hasilkan, bahkan telah menjadi rujukan penting. Sebut saja buku Al-Quran dan Perempuan dan Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Tafsir Quran yang menjadi rujukan studi-studi kesetaraan gender.

Buku-buku karya Prof. Zaitunah (Foto: Bambang Trim)

Diskusi pun berlanjut soal buku-buku. Beliau menginginkan saya membidani kelahiran buku-bukunya selanjutnya, terutama dalam bentuk memoar dan buku pemikiran. Tentu saja ini sebuah kehormatan bagi saya untuk menangani karya seorang ustazah yang memiliki keluasan ilmu luar biasa. Selama ini, saya menangani karya beberapa orang ustaz.

Bagi saya pribadi, Prof. Zaitunah Subhan, adalah sosok istimewa dan langka di tengah minimnya para ulama kita yang mau dan mampu membukukan pemikiran-pemikirannya. Penerbitan buku adalah sebuah ikhtiar yang harus ditempuh demi mengabadikan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga bagi generasi masa mendatang.

Saya tertantang untuk membukukan karya-karya beliau dan ngebut pada tahun 2019. Di benak saya sudah terbayang penggalian gagasan untuk buku-buku beliau, termasuk beliau saya dorong membuat buku anak. Seorang profesor menulis buku anak, ini tentu menarik. Bismillah, 2019 semoga Allah memudahkan jalan saya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.