Adakah ‘Writerpreneurship’ di Dalam Dirimu?

5
664
Foto: Dmitry Ratushny dalam Unsplash

Bambangtrim.com | Memang tak surut saya membincangkan soal keterampilan menulis. Keterampilan yang dulu sudah sangat mentereng sehingga para penguasa (raja-raja) merasa perlu merekrut seorang penulis di dalam kerajaannya hingga diberi privilige khusus. Bahkan, sampai sekarang pun yang namanya keterampilan menulis itu menjadi keahlian tak sembarangan. Para penguasa, pejabat, pemuka agama, akademisi, dan pemimpin bisnis memahami betapa pentingnya tulisan untuk mengeksiskan jati diri atau pemikiran mereka. Para penulis tetap dan makin dicari hingga kini.

Profesi penulis adalah profesi paling fleksibel. Profesi ini dapat dilakoni siapa pun, apakah itu sebagai sambilan/sampingan, paruh waktu, maupun penuh waktu. Memang ada keraguan untuk menceburi profesi ini secara penuh karena tentu terkait dengan bayaran profesional yang belum memadai di satu sisi. Saya boleh mengatakan itu pilihan dan bagaimana renjana menulis itu dapat mendorong terasahnya kemampuan menulis sehingga karya tulis benar-benar berharga, bukan sekadar karena uan.

Writerpreneur adalah jawaban untuk soal keraguan ini. Adakah writerpreneurship di dalam dirimu? Writerpreneurship adalah sekumpulan hasrat menggebu (renjana), gagasan, dan juga kecakapan melihat peluang dunia tulis-menulis. Saya perlu mengutip ujaran Dan Poynter: writing is not a job; it’s business. Jadikan tulisan sebagai komoditas yang dapat ditawarkan dan jadikan menulis sebagai jasa yang dapat dikerjakan.

Ada begitu banyak ranah penulisan sebagai pilihan kiprah para writerpreneur. Ada yang disebut journalistic writing, academic writing, business writing, entertainment writing, book writing, dan juga literature writing. Anda dapat memilih satu ranah ataupun berkiprah di banyak ranah, bergantung pada bagaimana Anda mengembangkan keterampilan menulis itu sendiri.

Generalis atau spesialis juga adalah pilihan. Anda dapat memilih menjadi penulis khusus buku anak ataupun cerita anak. Anda juga dapat memilih menjadi penulis spesialis biografi tokoh. Sebaliknya, Anda juga dapat memilih menjadi generalis dengan mengembangkan kemampuan dapat menulis berbagai macam produk tulisan. Di sinilah jiwa writerpreneur Anda diuji—dengan kecepatan, kualitas, dan tentu keakuratan.

Writerpreneurship memang sebuah proses panjang. Namun, bukan tidak mungkin Anda kelak menemukan ‘jalan pintas’ untuk melakoninya, apalagi jika Anda dari golongan Generasi Milenial. Namun, proses tetaplah sebuah proses, tidak ada yang instan. Berlatih menulis terus-menerus adalah jawaban sampai kemudian tulisan Anda memiliki tiga daya: 1) daya gugah; 2) daya ubah; dan 3) daya pikat.

Sisi lain, writerpreneurship harus didukung keterampilan mengomunikasikan gagasan tulisan kepada pihak-pihak yang memerlukan. Untuk hal ini, Anda memang harus belajar seluk-beluk bisnis lebih jauh. Contoh kecil, Anda harus piawai membuat proposal bisnis, mempresentasikan, bernegosiasi, dan akhirnya memahami bagaimana sebuah kontrak kerja sama dilakukan.

Dalam kancah bisnis penulisan, Anda paling tidak juga harus menguasai juga area yang dekat dengan dunia ini yaitu penerbitan dan pencetakan karena klien kemungkinan menanyakan banyak perihal bidang ini. Apa pun yang dimintakan kepada Anda pasti berhubungan dengan penerbitan karya, kecuali tentu tulisan yang bersifat pribadi ataupun internal. Selain itu, tarif penulisan juga benar-benar harus Anda pertimbangkan, terutama juga jenis-jenis kontrak yang berkaitan dengan hak kekayaan intelektual (HAKI). Banyak hal yang memang kadang merepotkan seorang writerpreneur karena tidak adanya panduan untuk profesi ini secara mendetail.

Ada hal yang juga sangat penting dalam menjalani profesi writerpreneur yaitu kemampuan untuk melakukan penyeliaan dan juga pemberian konsultansi terkait dengan tulisan. Sepengalaman saya, kadang-kadang ada saja klien yang meminta di luar yang kita kira. Ada klien yang pernah meminta saya melatihkannya membuat novel karena ia sendiri ingin melakoni diri sebagai penulis novel maka jadilah saya instruktur novel. Ada klien yang meminta saya menjadi co-writer dan ada pula menjadi ghost writer. Ada klien yang mengajak saya berdiskusi dulu hingga larut dalam konsep sehingga saya perlu membongkar semua kemampuan menulis untuk menerjemahkan keinginannya. Paling tidak pancaindra saya bekerja dan dituntut fleksibel untuk menangkap semua ide yang bertebaran.

Perajin Tulisan

Writerpreneur adalah tipikal pengusaha kreatif di bidang tulis-menulis atau boleh disebut perajin tulisan. Mereka mampu membaca peluang bagaimana tulisan dapat dijadikan komoditas untuk berbagai keperluan. Jadi, dalam hal ini, seorang writerpreneur tidak akan lagi berkutat dengan tanda tanya: Dapatkah saya hidup dari menulis/tulisan? Itu pertanyaan masa lalu. Sekarang tentunya tantangan adalah bagaimana sang penulis memasarkan ide-ide penulisan sesuai dengan kebutuhan klien. Dari sekadar tulisan berkembang lebih luas menjadi  konten.

Konten itu tertulis, tetapi tidak sebatas sebagai karya tulis karena konten dapat menjadi embrio bagi produk derivatif (turuna), seperti buku elektronik,  gim (permainan), film, musik, dan banyak lagi. Contoh sebuah tulisan yang kemudian menjadi konten adalah novel Laskar Pelangi yang berubah menjadi film, sinetron serial, dan pertunjukan musikalisasi—hal ini disebut dengan istilah ‘alih wahana’.

Nah, saya melihat seorang writerpreneur juga harus memandang hasi karyanya bukan hanya tulisan, melainkan sebuah konten yang dapat diperas intisarinya menjadi banyak produk. Writerprenurship pun akhirnya juga merupakan cara pandang kita dalam melihat masa depan bisnis tulis-menulis menjadi bisnis konten dalam era digital kini.[]

5 COMMENTS

  1. “Writerpreneurship memang sebuah proses panjang atau Anda kelak dapat menemukan short-cut untuk memulainya.”

    Baru ingin memulai saja harus mencari jalan pintas?
    Agak sulit dimengerti oleh saya, atau maksudnya “atau seiring dengan waktu Anda akan menemukan short-cut untuk menekuninya”?

    • Hehehe…. sebuah proses panjang dan Anda kelak dapat menemukan short-cut untuk memulainya. Kata “kelak” itu sudah mengandung makna ke depan, nanti; ketika seseorang sudah menemukan passionnya di dunia tulis-menulis, belajar dari para ahli, akhirnya mereka dapat memunculkan model sendiri yang lebih efektif untuk berlatih menulis. Jalan pintas itu akan bertemu sendiri, tidak usah dicari-cari, apalagi ketika baru mulai. Jika bertemu tutor/trainer yang bagus, ia bisa menunjukkannya kepada Anda.

  2. Sejak saya mengenal dunia kepenulisan, saya tertarik untuk bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dari karya yang saya hasilkan. Ternyata yang saya tulis lebih condong ke konten untuk blog. Tak apa, ada saatnya karya (buku) saya bisa segera terbit memenuhi rak buku di toko buku seluruh Indonesia.

    terima kasih Pak Bambang, saya mengenal Anda melalui buku Anda “Institut Penulis”, Namun setelah Saya tahu kalau Anda rekan dekat alm. Hernowo, maka layak saya ikuti untuk dunia kepenulisan.

    Banyak pemikiran dan perspektif saya tentang dunia tulis menulis melalui karya pak Hernowo. mudah-mudahan bisa belajar dengan Pak Bambang dan bisa berkolaborasi di masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.