Lemang Tebing

0
6
Foto: Medan Bisnis

Bambangtrim.com | Bulan Ramadan di jantung Jakarta ini hampir setiap hari saya disuguhi pemandangan para penjual lemang dan kudapan khas Minang. Pasalnya, saya beraktivitas di dekat kumpulan kedai penjual nasi kapau dan kudapan khas Minang. Tepatnya di Jalan Kramat Raya, di depan Kompleks Ruko Maya Indah dan LP3I (seberang Plaza Atrium).

Menjelang berbuka saum pukul 17.00 maka kawasan ini sudah dipadati pengunjung. Ibu-ibu yang membuka lapak lemang dan berbagai kudapan lain pun bersahutan menawarkan dagangannya.

“Lamang tapai, Pak. Masih hangat ….”

Ingat lemang maka saya pun ingat pada kota kelahiran, Tebingtinggi Deli. Kota ini berjarak sekira 80 km dari Kota Medan dan sering menjadi kota persinggahan apabila orang-orang dari Medan hendak ke Siantar atau Prapat dan sebaliknya. Jika mereka singgah, umumnya mereka tidak melewatkan kesempatan untuk membeli lemang yang memang masyhur dari kota ini.

Maka dari itu, kota ini pun berjuluk Kota Lemang. Kudapan dari beras ketan dan santan kelapa sejatinya kudapan khas Minang. Adalah para perantau dan keturunan orang Minang di Tebingtinggi yang mengembangkannya kemudian.

Lemang Tebing memang diakui istimewa karena gurih, lezat, tidak lengket, dan rasa asinnya pas. Penjual lemang di Tebing menyediakan juga selai sarikaya sebagai “kawan” makan lemang yang tidak ditemukan di tempat lain. Bahkan, tidak jarang masyarakat Tebingtinggi menikmati lemang bersama dengan buah durian.

Saya termasuk penyuka makan lemang dengan buah durian ini dan ketika teman saya dari Jawa mengetahuinya, ia pun terheran-heran.

Awalnya para penjual lemang di Tebingtinggi berderet di kawasan niaga yang dulunya disebut Jln. Tjong Afie—sekarang Jln. K.H. Ahmad Dahlan tepat berada di seberang Mesjid Raya. Lemang yang paling populer adalah berjenama Lemang Batok—sebutan ini juga khas karena lemang yang dibungkus daun pisang muda dan dimasukkan ke dalam ruas bambu ini dibakar dengan arang batok kelapa.

Kini penjual lemang juga dapat ditemukan di pintu masuk batas kota yang memisahkan Tebingtinggi dan Kabupaten Deli Serdang. Wajar karena saya sudah meninggalkan kota ini sejak 1987. Artinya, selama lebih dari 30 tahun, kota ini pasti berubah banyak, termasuk para penjual lemangnya yang sudah beranak pinak dan berekspansi.

Lemang biasanya ditawarkan seruas bambu kira-kira panjangnya 30-40 cm dan lebih nikmat dimakan hangat-hangat. Konon harganya kini berkisar Rp20.000-Rp25.000, bergantung juga pada besar kecilnya.

Jadi, lemang di Tebing bukan hanya dapat ditemukan pada bulan Ramadan, melainkanada pada setiap hari biasa. Orang Tebing sendiri suka membeli lemang yang dijadikan santapan teman minum kopi. Namun, khusus bulan Ramadan tentu sajian lemang menjadi istimewa, apalagi kudapan ini mengenyangkan. Mereka yang terbiasa makan berat selepas tawarih, eloklah memakan lemang terlebih dahulu.

Lemang di Tebing dimasak dengan resep bumbu tertentu yang diwariskan secara turun-temurun. Kemungkinan penjual lemang di Tebing sudah masuk generasi ketiga atau keempat. Hal yang menarik saat memasak lemang, para ahli waris bumbu rahasia lemang itu tetap mempertahankan tradisi. Mereka dilarang untuk berkata-kata kotor (memaki atau mengumpat). Jika dilakukan, hal ini akan menyebabkan lemang menjadi rusak alias tidak enak.

Satu hal lagi, sebenarnya lemang juga enak dimakan dengan rendang. Namun, kalau sudah memakan lemang dan rendang, ya jangan memakan nasi lagi. Karbohidrat kompleks namanya itu.[]

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here