Salut untuk Penulis Seperti Jee

0
68

Bambangtrim.com | Nama aslinya Sri Jayanti. Ia berasal dari Palembang, namun takdir membawanya turut sang suami menetap di Kota Banjar (daerah antara Jawa Barat dan Jawa Tengah).

Jauh-jauh ia datang dari Banjar menaiki bus hanya untuk mengikuti privat menulis buku nonfiksi yang saya selenggarakan di Institut Penulis Indonesia. Saya terkejut juga karena Jee–begitu nama penanya–sedang hamil 7 bulan. Demi menuntut ilmu penulisan, ia memaksakan diri datang ke Jakarta.

Semoga calon bayinya turut menyimak materi literasi yang saya sampaikan sehingga kelak menjadi cerdas literasi. Semangat Jee juga semoga terinstal oleh si jabang bayi.

Menjelaskan kepada Jee tentang teras tulisan. (Dok. IPI)

Jee Luvina adalah nama penanya yang ia gunakan pada buku perdananya yang diterbitkan di penerbit konvensional (penerbit mayor) Mizan. Ia menyebut jenama dirinya sebagai founder @nulisyuk.

Buku karyanya itu berjudul Diary Jiwa, sebuah buku pengembangan diri yang menjadi konsentrasi Jee. Ia adalah lulusan psikologi jadi tentu sangat nyambung untuk menulis buku-buku motivasi dan pengembangan diri.

Jee sangat antusias mengikuti sesi demi sesi terdiri atas prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Ia tengah mempersiapkan satu buku tentang pernikahan yang berbasis pengalamannya pribadi. Kebetulan sang suami yang bergerak di bidang IT juga seorang penulis. Pasangan muda ini juga dipertemukan sebagai jodoh sedikit banyak karena menulis.

“Kisahnya unik dan seru,” ujar Jee.

Mengembangkan ide secara tepat, termasuk kekuatan seorang penulis buku nonfiksi. (Dok. IPI)

Saya membantunya untuk mengembangkan kerangka bakal bukunya tersebut. Kelas selama dua hari ini memang serba terbatas untuk membahas banyak materi tentang penulisan buku nonfiksi. Namun, saya persilakan Jee untuk terus berkonsultasi sampai bukunya jadi.

Jee representasi generasi yang tidak hendak enak sendiri dalam menuntut ilmu. Ia datangi di mana ilmu itu berada, bahkan mengeluarkan biaya untuk itu. Kelas privat saya memang terbilang tidak murah (tapi tidak pula mahal); Rp2,5 juta untuk dua hari pertemuan.

Namun, sebagai apresiasi pada Jee, saya banyak memberi materi dalam bentuk softfile yang tidak pernah saya berikan kepada orang lain. Saya juga mendorongnya untuk mulai menulis buku anak yang sungguh menantang.

Kota Banjar tempat Jee tinggal hampir tidak terdengar denyut literasi di sana. Karena itu, Jee saya minta untuk membentuk cabang Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia) di sana dan saya siap datang untuk memberi motivasi dan keterampilan literasi.

Salut saya menjura untuk penulis seperti Jee. Antusias, persisten, dan semoga ia konsisten menapaki dunia literasi Indonesia yang bakal bertumbuh kembang pesat tahun-tahun mendatang. Ia telah menyerap ilmu standar yang saya berikan. Ia bersiap untuk menjadi penulis besar dengan berbekal ketenangan jiwa dan kekuatan belajar. Insyaallah.[]

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here