Literasi Memanjat Pohon

0
251
Foto: Roman Averin

Bambangtrim.com | Sebuah video yang diagihkan berulang-ulang tentang pendidikan di Finlandia memperlihatkan rahasia keunggulan mereka. Rahasia itu terletak pada kualitas guru-guru yang mengajar karena menjadi guru di Finlandia lebih sulit daripada menjadi dokter atau insinyur. Finlandia tidak memberlakukan kurikulum sebagaimana pendidikan kita di sini, tetapi guru-guru itu menjadi kurikulum itu sendiri.

Rahasia yang selalu digadang-gadangkan tentang pendidikan di Finlandia adalah tiadanya PR dan ujian nasional serta begitu banyak waktu tersedia bagi anak-anak untuk beristirahat dan mengerjakan sesuatu di luar kegiatan belajar. Anak-anak itu bebas memilih apa pun, termasuk memanjat pohon.

Tentang memanjat pohon ini, saya jadi teringat masa kecil dahulu yang diisi dengan kegiatan memanjat aneka pohon. Kebetulan pada masa itu, ayah saya memiliki ladang yang sangat luas dengan aneka tanaman tumbuh subur di atasnya. Hampir setiap minggu saya diajak ke ladang dan bertualang dari satu pohon ke pohon lainnya.

Pohon favorit saya untuk dipanjat adalah pohon jambu air. Setiap ke ladang, saya selalu memanjat pohon itu kadang hingga pucuk yang teratas. Begitu sulitnya kali pertama mencoba memanjat pohon, tetapi saking seringnya maka saya pun terlatih. Tantangan makin menjadi-jadi ketika pohon-pohon itu berbuah.

Memanjat pohon adalah literasi dasar yang bukan saja melatih motorik kasar, melainkan juga merangsang pancaindra anak untuk melakukan apa yang disebut pengamatan (perceiving). Dari situ anak dapat mengenali “keajaiban” sebuah pohon, lengkap dengan batang, dahan, ranting, dedaunan, bunga, dan buah-buahan.

Hampir semua saudara kandung saya menikmati “literasi memanjat pohon” ini. Bahkan, saya masih ingat kakak perempuan nomor tiga saya pernah terjatuh dari pohon cherry yang tumbuh di halaman rumah hingga tak sadarkan diri. Sejak ia jatuh, pohon itu pun ditebang.

Di rumah kami sendiri waktu itu di kota Tebingtinggi Deli masih ada beberapa pohon lagi yang tumbuh seperti pohon jambu klutuk (batu) dan pohon buah nona. Kedua pohon itu juga tidak luput dari aksi memanjat saya. Herannya pohon-pohon itu selalu berbuah lebat tanpa henti.

Bayangkan sekarang, betapa anak-anak kita hampir tidak lagi memiliki kesempatan itu. Kesempatan memanjat pohon. Bahkan, jika pun ada pohon di halaman sekolah atau halaman rumah, orangtua ataupun guru cenderung melarang anak-anak itu memanjat. Boleh jadi karena dianggap berbahaya.

Namun, tidak tentu bagi guru-guru di Finlandia. Anak-anak diberi kebebasan belajar dari alam dan lingkungannya. Pembelajaran itulah yang kini terasa “mahal” di negeri kaya bernama Indonesia, terutama di kota-kota besarnya. Alam diubah menjadi objek wisata yang dibisniskan seperti wisata memetik buah yang harus membayar. Anak-anak pun makin jauh dengan alam dan tidak mengenalinya, terutama di kota-kota besar.

Jadi, betapa indah dan bahagianya masa kecil saya dulu dan mungkin Anda juga dengan kemewahan bermain yaitu memanjat pohon dan memetik buahnya tanpa membayar dan tanpa ada larangan. Pohon tumbuh di mana-mana untuk dikenali dan diakrabi. Karena itu, saya rindu dengan ladang dan ingin lagi memilikinya untuk anak-anak saya.[]

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here