Gen-Z yang Makin Tak Sudi Membaca

0
975
Foto: Dikdasmen Kemdikbud

Bambangtrim.com | Indikasi bahwa minat membaca masyarakat Indonesia itu rendah sudah sama kita ketahui dan sering kali diungkapkan pada acara-acara literasi, terutama oleh pejabat di negeri ini. Namun, riset yang benar-benar serius memang belum pernah dilakukan untuk menguak apa sebenarnya yang terjadi dengan minat membaca itu.

Minat membaca rendah itu, apakah karena daya beli terhadap buku atau bahan bacaan memang rendah? Apakah karena akses terhadap bahan bacaan memang kurang karena tersedia dan yang ada bacaannya itu-itu saja? Apakah karena buku atau bahan bacaan yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan atau sama sekali memang tidak menarik untuk dibaca? Banyak pertanyaan patut diajukan terkait hal ini.

Lalu, bagaimana dengan masa depan buku dikaitkan dengan munculnya Generasi Z (Gen-Z) yaitu anak-anak yang lahir pada akhir tahun 1990-an dan kini menjadi digital native?

Baru-baru ini Nielsen Consumer & Media View (CMV) pada kuartal II 2016 menerbitkan hasil survei di 11 kota di Indonesia tentang minat membaca media cetak dan buku. Hasilnya mengejutkan kita tentang minat membaca mereka.

Seperti dikutip dari Detik.com, hal itu diungkapkan oleh Hellen Katherina, Executive Director, Head of Watch Business Nielsen Indonesia di Mayapada Tower, Jakarta Pusat, Rabu (19/10/2016).

Survei itu dilakukan dari tahun 2010 hingga 2016 di 11 kota yaitu Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin. Setidaknya ada 17.000 responden berusia 10 sampai 19 tahun yang mengikuti survei ini.

Nielsen membagi Gen-Z dalam dua area. Kelompok pertama berusia 10-14 tahun atau yang disebut anak-anak dan kelompok lainnya 15-19 tahun disebut remaja. Berikut ini hasilnya.

Kelompok Usia

Membaca Media Cetak

Menonton Siaran Televisi

Meramban Internet

Menonton Siaran Televisi Berbayar

Mendengar Siaran Radio

10-14 Tahun (Anak-Anak)

4%

98%

13%

10%

7%

15-19 Tahun (Remaja)

9%

97%

81%

10%

14%

 

Minat membaca media cetak tinggal 4% pada anak-ank (apa kabar majalah Bobo) dan 9% pada remaja. Televisi masih berjaya sebagai media informasi dan hiburan yang menarik bagi anak-anak maupun remaja. Kemudian, di kalangan remaja, internet mulai menarik perhatian selain televisi. Melalui internet, Gen-Z ini memang dapat mengakses informasi atau hiburan dari ketiga media, yaitu media massa atau buku, televisi, dan radio melalui konten digital dan streaming.

Dari sisi kegiatan lainnya diperoleh data berikut ini.

Membaca Buku

11%

Berolahraga

44%

Menonton Siaran Televisi

32%

Mendengarkan Musik

25%

Meramban Internet

17%

 

Tentu saja data tersebut menjadi peringatan, terutama buat para penerbit buku konvensional karena pasar masa depannya malah makin meninggalkannya. Pasarnya saat ini yang tersisa adalah dari Gen-X dan Gen-Y yang umumnya sudah menjadi orangtua ataupun kaum profesional kelas menengah.

Peringatan lain juga tertuju bagi orangtua yang masih menginginkan putra putrinya dapat mengakses informasi melalui buku–karena keunggulan buku, tidak tergantikan oleh media lainnya. Memang kita masih lega jika yang diramban di internet termasuk buku digital, tetapi jika tidak, berarti anak-anak kita telah meninggalkan kearifan membaca buku.

Agar buku atau media cetak tidak menjadi barang-barang masa lalu seperti halnya terjadi pada kaset dengan pitanya–meskipun sebagian orang tetap yakin buku cetak tidak akan tergantikan–, orangtua ataupun guru harus bersiasat untuk tetap mengadakan buku-buku dan media cetak di sudut-sudut rumah.

Berwisata ke toko buku dan perpustakaan setiap minggu atau paling tidak setiap bulan akan memberikan pengalaman kepada anak untuk mengakses informasi dan hiburan lewat buku. Anak-anak jangan dibiarkan terputus koneksinya terhadap buku.

Begitupun perlu ketegasan Pemerintah dalam bidang pendidikan untuk mewajibkan peserta didik anak-anak dan remaja membaca buku dengan kuantitas tertentu dalam setahun. Tragedi nol buku yang diungkap sastrawan Taufiq Ismail akan benar-benar menjadi mimpi buruk daya literasi bangsa ini pada masa depan karena siswa-siswa sekolahnya dibiarkan tidak membaca buku.

Berkaca pada Finlandia

Sebenarnya bukan hanya Indonesia yang menghadapi kecenderungan hal tersebut. Finlandia yang diganjar sebagai negara paling literat pun mengalaminya sedikit meskipun berdasarkan survei 44% siswa di sana masih menikmati kegiatan membaca (European Literacy Policy Network (ELINET) dalam laporan 2015 berjudul Literacy in Finland: Country Report Children and Adolescent).

Riset bertajuk Towards Future Literacy Pedagogies (2006–2009) yang diketuai oleh Professor Minna-Riitta Luukka serta didanai oleh Academy of Finland and University of Jyväskylä mencoba mencari tahu materi tertulis apa yang dibaca oleh siswa remaja Finlandia di luar pelajaran sekolah. Fakta menunjukkan bahwa remaja masih tertarik untuk membaca koran dan majalah, tetapi mereka mulai kehilangan minat membaca “buku tradisional. Adapun yang paling sering dibaca setiap hari adalah pesan teks, pos-el, dan media digital lainnya. Dari sisi gender, remaja perempuan lebih tertarik membaca daripada remaja pria.

Dalam hal peringkat PISA, skor siswa di Finlandia yang menikmati kegiatan membaca masih lebih baik daripada skor rata-rata siswa di negara Eropa lainnya. Angka-angka itu juga  menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara menikmati kegiatan membaca dan unjuk kinerja (performa) dalam prestasi belajar bahwa siswa-siswa yang menikmati kegiatan membaca dapat menjalankan strategi membaca yang efektif, terutama untuk meringkas bahan bacaan.

Terkait laporan tersebut, EU High Level Group of Experts on Literacy memberikan rekomendasi untuk menciptakan ling­kungan yang literat sebagai berikut.

Menciptakan lingkungan yang lebih literat akan mem­bantu merangsang budaya membaca, yaitu dalam hal ini membaca untuk kesenangan dipandang sebagai norma untuk semua anak-anak dan orang dewasa. Seperti halnya budaya akan membakar motivasi membaca dan prestasi membaca: orang-orang yang suka membaca, membaca lebih banyak. Karena mereka membaca lebih banyak, mereka membaca lebih baik, dan karena mereka membaca lebih baik, mereka membaca lebih jauh: lingkaran berbudi luhur yang memberi man­­faat untuk individu, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. (HLG report 2012, p. 41).

Data lain yang menguatkan Finlandia sebagai negara paling literat adalah peran orangtua di rumah. Hasil menarik disajikan oleh PIRLS 2011 tentang jumlah koleksi buku anak yang dilaporkan oleh orangtua anak di Finlandia sebagai berikut:

  • 0-10 :   6 % (EU average 11.8%)
  • 11-25 :   6 % (EU average 19.7%)
  • 26-50 :   8 % (EU average 29.4%)
  • 51-100 :   9% (EU average 23.4%)
  • >100 :   1% (EU average 15.7%).

Angka-angka itu menunjukkan bahwa sangat banyak orangtua atau keluarga yang menyediakan lebih dari 26 judul buku anak di rumahnya. Bahkan, persentase tertinggi adalah orangtua yang menyediakan 51-100 judul buku anak di rumah mereka.

Jika berdasarkan laporan anak 5% dari siswa melaporkan memiliki 10 atau lebih sedikit buku di rumah. Siswa lainnya di Finlandia (16%) dilaporkan memiliki lebih dari 200 buku (ELINET PIRLS Lampiran C, Tabel E1). Nilai rata-rata siswa di Finlandia dengan 10 atau lebih sedikit buku 67 poin lebih rendah daripada siswa yang memiliki lebih dari 200 buku.

Jadi, benar-benar ada kaitan antara kegiatan membaca buku itu dengan kemajuan individu anak-anak di dalam dunia pendidikan. Kita yang berasal dari Gen-X, Gen-Y, atau sebelumnya yang disebut Generasi Baby Boomer, telah merasakan kedahsyatan buku itu. Jadi, sekarang kita sebagai orangtua atau guru harus menjaga dan memberi contoh.

Saya jadi tersenyum getir saat berdiskusi di Puskurbuk tentang literasi beberapa hari lalu. Bu Dewi Utama Fayza dari Dikdasmen Kemdikbud menyebutkan fakta bahwa dalam kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai, banyak guru yang justru “main hp” atau kegiatan lainnya yang tidak menunjukkan mereka memberi contoh membaca, sementara siswanya disuruh membaca.

***

Laporan Nielsen di satu sisi memang menunjukkan zaman yang sudah berubah. Namun, bukan berarti kita membiarkannya dan tidak mengusahakan satu peningkatan agar anak-anak kita kembali membaca buku. Itu sebabnya masyarakat Indonesia tengah menanti lahirnya UU Sistem Perbukuan yang akan menjadi dasar untuk menerapkan strategi perbukuan.

UU itu lahir juga ditujukan untuk masa mendatang. Senyampang dengan UU Sistem Perbukuan, tentu kiprah Bekraf juga sangat dinantikan agar mendorong industri kreatif penerbitan bertransformasi menjadi industri konten yang lebih maju. Buku cetak tetap dipertahankan, tetapi buku digital juga harus dikembangkan secara lebih maju.[]

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here