Totalitas Menulis Sejak 1994

0
402

BambangTrim.com | Waktu itu tahun 1994 ketika kali pertama saya mendapatkan order menulis buku pelajaran untuk sebuah grup media besar di Jawa Barat. Saya belum pernah menulis buku, tetapi patut dicoba karena menantang, apalagi menulis buku pelajaran bahasa Indonesia yang perlu energi ekstra.

Foto: Achmad Sidik
Foto: Achmad Sidik

Singkat cerita order itu dapat saya kerjakan dengan baik. Sejak itu saya keranjingan menulis buku sampai kemudian saya berpindah kerja dari Penerbit Rosdakarya ke Penerbit Salam Prima Media. Di penerbit baru ini, kreativitas saya makin tertantang, terutama untuk menulis buku anak dan juga buku umum.

Saat pecah peristiwa Reformasi 1998, saya sempat juga membuat buku politik berupa kumpulan kiprah para tokoh reformasi kala itu yaitu Amien Rais dan sederetan tokoh kritis lainnya. Bukunya salah satu berjudul Merintis Jalan Kritis yang diterbitkan Zaman Wacana Mulia.

Tahun 1994 adalah tonggak bagi saya sebagai penulis buku. Tahun 2004 adalah tonggak bagi saya produktif menulis beraneka buku setelah menjadi direktur di Penerbit MQS, terutama menggenjot kreativitas menghasilkan buku-buku untuk Aa Gym. Tahun 2014, sepuluh tahun kemudian dan menandai dua tahun saya berkiprah murni sebagai writerpreneur, saya belum menemukan bentuk yang ajek dari pengembangan karier saya selanjutnya.

Jelas, saat itu saya sudah memutuskan tidak akan bekerja lagi sebagai profesional. Sejak 2012, saya sudah menggantungkan sepenuhnya penghasilan dari dunia tulis-menulis setelah tidak lagi bekerja di Penerbit Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Selayaknya, saya masih dapat berkiprah di perusahaan lain dengan segudang pengalaman mengelola media, khususnya penerbitan buku. Namun, saya memutuskan sudah selesai sebagai karyawan.

Dari buku saya telah melanglang ke banyak negara dan memperoleh pengalaman berharga. Negeri yang saya kunjungi terakhir adalah Jerman, Perancis, Belgia, dan Belanda. Tahun 2015 saya juga sempat berkunjung ke Kyoto, Jepang, demi membantu seorang pengusaha Jepang menuliskan biografi hidupnya.

Tahun 2016, saya memaklumkan berdirinya Institut Penulis Indonesia sebagai lembaga pengkajian, pelatihan, dan pengembangan kapasitas menulis. Saya masih mencoba-coba memulainya sebagai edutech start-up di bidang pemasaran pelatihan khusus penulisan-penerbitan. Namun, terus terang jiwa menulis saya masih lebih besar daripada jiwa melatih untuk menulis.

Bambang-Trim-4
Ruang kreativitas saya di rumah; menulis dan terus menulis. (Foto: Deden Sopandi)

Saya sempat berada di persimpangan antara mengembangkan pelatihan menulis atau mengembangkan jasa untuk menulis buku. Lalu, saya bertemu dua orang yang biasa disebut coach. Maksud hati mereka saya bantu menulis, tetapi kemudian giliran mereka yang memberi bantuan coaching tentang apa yang saya kehendaki dalam karier selanjutnya.

Usia saya tidaklah lagi muda. Sudah 44 tahun, namun perjalanan ikhtiar boleh dibilang masih ada beberapa tahun untuk produktif. Saya kembali pada basis awal kemampuan yang telah saya asah sejak 1991 yaitu editing naskah. Keterampilan editing ternyata membentuk diri saya sebagai penulis, penyunting, sekaligus konsultan yang dapat memberi saran bagaimana sebuah buku ditulis dan dikembangkan. Itu sudah terinstal ke dalam diri saya sejak lama.

Beberapa orang yang berinteraksi dengan saya dalam soal menulis mengakui keterampilan saya mengumpulkan pasel-pasel informasi dari seseorang menjadi sebuah kerangka buku–apa pun bidangnya. Hal itu rutin saya praktikkan ketika membimbing para peneliti di LIPI setiap tahun untuk menulis buku. Hanya dalam hitungan menit, saya mampu membantu seseorang mengembangkan gagasannya untuk menjadi sebuah buku.

Menulis memang panggilan jiwa bagi saya. Itu sebabnya setiap hari saya mampu menghasilkan 2 kadang sampai 5 artikel sembari diselingi menyelesaikan beberapa naskah buku. Saya masih bersyukur pada pertengahan Juni 2016, saya menemukan apa yang saya mau dan menemukan apa yang dapat saya kembangkan dari diri saya selanjutnya pada sisa usia kini.

Manistebu-Transform
Di sebuah resort mewah dengan Danau Biwa, Prefektur Shiga, Jepang. (Foto: Valya Hibatillah)

Totalitas menulis adalah instropeksi diri saya betapa banyak waktu tersia-sia karena tidak fokus mengembangkan diri lebih lanjut. Mungkin itu jalan Tuhan untuk melemparkan diri saya dalam pencarian hakikat untuk apa saya hidup di dunia ini. Jika saya hidup untuk menulis, apakah menulis sangat bermakna bagi diri saya?

Saya ingin total menulis, baik bagi diri saya maupun orang lain. Untuk itu, saya menempatkan orang-orang yang berinteraksi dengan saya sebagai teman, mitra, dan sahabat untuk bersama-sama menghasilkan karya.[]

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here