Mengapa Perlu Insaf Menulis Buku

0
585
Foto: Bench Accounting

BambangTrim.com | Anda seorang praktisi atau profesional yang sama sekali belum menuliskan ilmu dan pengalaman Anda ke dalam buku? Karena itu, Anda perlu insaf!

Anda seorang praktisi atau profesional yang sudah menulis buku, tetapi masih terkesan justru amatiran? Anda juga perlu insaf!

Insaf tidak sama dengan tobat. Kalau urusan tobat, berarti Anda berbuat dosa dan harus memohon ampun kepada Tuhan serta orang yang telah Anda rugikan. Kalau urusan insaf, berarti Anda mengambil jalan keliru, tinggal memutar balik atau berbelok arah agar Anda tidak terus tersesat.

Jadi, ada dua dimensi insaf menulis buku. Pertama, jika Anda benar-benar memiliki ilmu dan pengalaman berguna, insaflah untuk segera menuliskannya. Jika Anda sudah menulis buku, tetapi buku Anda kurang bergema atau mengandung formula yang keliru, insaflah untuk merevisinya.

Seorang Stephen Covey juga pernah melakukan revisi dari bukunya 7th Habits menjadi 8th Habits. Rupanya Covey menginsafi bahwa ada yang kurang dari kebiasaan menjadi manusia efektif yaitu dimensi spiritual yang disebutnya sebagai Voice atau panggilan jiwa (nurani).

Pengalaman saya setelah menulis lebih dari 160 judul buku juga mengalami keinsafan demi keinsafan dalam menulis buku. Karena itu, saya ingin berbagi tentang hal ini kepada semua orang pada 10-11 Agustus 2016. Kita membincangkan dan membedahnya selama dua hari, termasuk sesi malam hari untuk menggagas buku.

Saya akan membawa Anda mengalami proses menulis yang standar, yaitu prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Soal proses itu juga soal keinsafan yang akan Anda rasakan manfaatnya.

13645173_10205310268796658_2004908872732829896_n

 

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here