Catatan Akhir 2015: Kecerdasan Tidak Mungkin

0
593

IMG_7032

Ada satu buku yang sudah lama menjadi koleksi saya karena sering digunakan sebagai referensi menulis buku motivasi. Saya mengoleksi cetakan III seperti yang tertera di halaman hak cipta November 2005. Berarti sudah hampir sepuluh tahun lewat.

Buku tersebut berjudul Mengubah Tidak Mungkin Menjadi Mungkin yang ditulis Basuki Subianto dan diterbitkan Al-Bayan, Mizan. Ia adalah mantan wartawan Kompas yang kemudian banting stir sebagai pengusaha.

Ada sebaris kalimat testimoni yang dituliskan Jakob Oetama: “Hidup ini seolah-olah sebagai kebetulan-kebetulan, tetapi bagi saya, itulah providentia Dei, itulah penyelenggaraan Allah.”

Scan_20151231 (2)

Menarik. Saya teringat buku ini setelah melihat hasil jepretan saya. Foto di atas saya ambil di lapangan basket Hotel Mason Pine, Kota Baru Parahyangan, ketika berlibur bersama keluarga pada tanggal 28 Desember 2015. Itu anak saya Zafir yang Januari 2016 genap berusia dua tahun.

Bahasa tubuh Zafir yang memegang bola basket–cukup berat bagi tubuh kecilnya–menggambarkan seolah ia mampu melempar bola ke jaring. Gambaran Zafir–yang dalam bahasa Arab berarti si pemenang (pantang menyerah)–membuat saya teringat tentang kecerdasan tidak mungkin yang didengungkan Basuki Subianto dalam bukunya itu.

Tahun 2015 telah berlalu. Masa itu menandakan sudah tiga tahun saya melakoni diri sebagai writerpreneur. Saya tidak lagi bekerja terikat ruang dan waktu, kecuali terikat dengan sebuah sudut di rumah saya yang dipenuhi buku-buku dan sebuah meja tempat saya mengetik naskah.

Basis usaha yang saya jalankan adalah jasa penerbitan (penulisan, editing, penerbitan, pencetakan) dan juga pelatihan-pelatihan. Operasional rumah tangga saya plus tiga orang karyawan yang masih saya gaji bulanan tidak kurang dari Rp20 juta per bulan. Itulah ketidakmungkinan yang selalu saya syukuri bahwa meskipun tidak lagi memiliki gaji dan pekerjaan tetap–karena umumnya berbasis jasa–rezeki tetap menerobos barikade hidup saya.

Barikade itu berupa ketidakpastian, keputusasaan, pesimistis, ketakutan, kegeraman, kekecewaan, dan banyak lagi yang mengurung diri. Saya membaca kembali buku Pak Basuki Subianto yang saya ingat langsung cuma tiga kata: kecerdasan tidak mungkin atau dalam bab buku ditulis impossibility quotient.

Penghiburan satu-satunya yang paling hebat adalah yakin terhadap pertolongan Allah Swt. yang tersurat dalam al-Quran. Tidak ada backing yang lebih hebat dari-Nya. Kita disuruh berikhtiar, tetapi kita sadar ikhtiar saja tidak cukup.

Saya pun demikian. Kadang merasa bahwa ilmu pengetahuan dan keterampilan yang tertanam dalam diri sayalah yang bisa membuat saya menjadi penyintas (survivor).

Anugerah Terbesar adalah Pikiran dan Perasaan

Suatu hari, saya disopiri seorang pengusaha rental mobil. Ia mau menyopiri saya dari Bandung ke Karawang sambil mengobrol dan berbagi. Rupanya tahun 2014-2015 menjadi tahun sulit baginya. Beberapa mobilnya hilang karena ditipu orang. Keluarganya hampir berantakan karena istrinya yang ikut dalam usaha juga melakukan blunder.

Ia meminta nasihat dari saya. Saya bukan ustad yang biasa memberi nasihat ampuh. Namun, saya kembali kepada diri saya. Sesungguhnya kita masih bersyukur karena Allah Swt tidak mencabut ingatan dari otak dan jantung kita ini. Coba bayangkan jika Allah Swt. membiarkan kita stres, depresi, lalu gila. Berarti masih ada harapan yang dititipkan bahwa tidak dicabutnya ilmu dan keterampilan dari diri kita.

Sang pengusaha rental tertegun. Ia membenarkan ucapan saya berkali-kali. Ia masih punya ilmu dan pengalaman yang tidak dimiliki orang lain. Ilmu mengelola mobil-mobil. Sebenarnya, banyak tawaran dari dealer mobil kepadanya agar ia bangkit kembali sebagai pengusaha rental. Namun, ia masih sangat berhati-hati akibat trauma oleh penipuan, pengkhianatan, dan juga penistaan oleh orang-orang di sekitarnya. Selama hampir dua tahun itu ia tidak melakukan apa-apa.

Kejadian si pengusaha itu mengingatkan diri saya sendiri bahwa kecerdasan tidak mungkin itu karena ada campur tangan Allah Swt. di dalamnya. Kita tidak bisa menyombongkan diri semata-mata kita bisa menjaring rezeki karena kepintaran dan kehebatan diri. Semuanya tidak berarti apa-apa.

Jari-jari saya masih mampu mengetikkan ide-ide ini karena Allah masih sayang kepada saya dan ada anak serta istri yang dititipkan kepada saya. Karena itu, saya berpikir tidak ada yang tidak mungkin selama masih ada Allah Swt.

Berfokus pada Lompatan

Ketidakpastian adalah ketakutan saya dan mungkin juga Anda. Sebuah pelajaran bagus saya baca dari buku Daniel Goleman tentang Focus. Kegagalan yang kita hasilkan dari “ketakutan” tadi sedikit banyak karena kemiskinan atensi yang kita berikan untuk pekerjaan yang semestinya kita lakukan. Apalagi, dalam dunia digital kini telah banyak gawai dan aplikasi yang menjadi pengalih perhatian.

Saya merasa harus memilih dari sekian pekerjaan yang saya lakukan pada tahun lalu, tepatnya 2015, dan juga pada tahun-tahun ke belakang. Tak henti saya mencoba berbagai peluang, lalu akhirnya sadar bahwa peluang tersebut bukan lompatan, tetapi memerlukan waktu untuk menakar keberhasilannya.

Saya harus berfokus pada lompatan karena usia sudah berada pada angka kepala empat. Namun, masih ada waktu produktif yang dapat dimanfaatkan.

Hukum Pareto juga memberi kilatan gagasan untuk berfokus pada yang 20%–sesuatu yang benar-benar menghasilkan dibandingkan yang 80% menyita perhatian, tetapi menghasilkan sedikit. Saya juga harus berkaca diri.

Meskipun ada kecerdasan tidak mungkin, tetaplah banyak rintangan yang menghambat jalan rezeki. Namun, saya tetap berusaha melihat rumput hijau di sekeliling ranjau. Bukan sebaliknya, melihat ranjau di hamparan rumput hijau.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here