Tidak Selalu Handout Sama dengan Presentasi

2
808

Seorang mahasiswa tergopoh-gopoh ketika kuliah umum yang hendak diikutinya hanya tinggal tersisa 30 menit lagi. Beruntung ia masih bisa mendapatkan tempat duduk paling belakang dan menikmati presentasi dosen tamu yang memukau. Seusai kuliah, ia pun meminta materi kuliah kepada panitia dan mendapatkan fotokopi berupa presentasi Powerpoint yang tadi disajikan.

Sesampai di tempat kosnya, sang mahasiswa tak sabar untuk membaca. Namun, ia lebih banyak bingung daripada paham karena beberapa salindia (slide) hanya berupa 1-2 kalimat dan ada juga poin-poin tanpa penjelasan serta gambar-gambar. Ia benar-benar tak paham.

Ya, itu fenomena soal handout (HO) yang umumnya dibuat identik dengan presentasi Powerpoint. Penjelasan utama HO seyogianya terletak pada penjelasan sang dosen ataupun instruktur yang mengisi sebuah kelas. Jadi, hanya dengan membaca HO atau salinan presentasi, dijamin seseorang tidak akan paham dengan isi materi suatu kuliah ataupun pelatihan.

Apakah Sama HO dan Materi Presentasi

Sebenarnya HO adalah bahan ajar tercetak (printed learning material) yang berisikan materi ringkas suatu pembelajaran, baik itu materi nonpraktik (teori) maupun materi praktik. HO dibuat berdasarkan kurikulum atau silabus, tepatnya untuk satu kompetensi dasar (KD)–berbeda dengan diktat atau buku ajar yang menyajikan satu mata pelajaran/mata kuliah sebagai bahan yang kemudian terbagi atas submateri secara lengkap.

PELATIHAN-HANDOUT-PRESENTASI-08.06.2015

Contohnya, kompetensi dasar berikut: Mahasiswa mampu mengenali anatomi makalahilmiah. HO dibuat berdasarkan kompetensi dasar itu dengan judul misalnya, “Taktis Menulis Makalah Ilmiah”. Dosen, instruktur, ataupun guru perlu kreativitas mengembangkan satu materi KD tadi menjadi beberapa submateri (atau sering dibagi menjadi sesi) sesuai dengan jam pelajaran yang disyaratkan.

Selain itu, dalam penulisannya, HO dibuat ringkas, padat, dan tuntas karena HO memerlukan penjelasan detail dari kuliah sang dosen, instruktur, atau guru pada saat pembelajaran berlangsung. Jadi, di HO umumnya materi dapat berupa poin-poin yang penjelasannya merujuk pada kuliah.

Di sini HO akan berbeda dengan materi presentasi dalam bentuk salindia (slide) yang sekarang populer menggunakan aplikasi Powerpoint. Beberapa prinsip penyajian presentasi yang efektif membuat HO tidaklah identik dengan Powerpoint. Alhasil, seorang dosen, instruktur, atau guru memang perlu menyiapkan dua bahan saat hendak mengajar, yaitu HO dan presentasi.

Ribet amat, ya? Itulah bagian dari profesionalitas dan kesungguhan seorang pendidik untuk melayani para peserta didik. HO sebagai pegangan untuk peserta didik dan presentasi berguna untuk mengikat perhatian dan emosi peserta didik karena pada presentasi yang dominan adalah visual. Adapun unsur pendukung lainnya dari presentasi, yaitu teks, musik, video, dan animasi.

Berikut ini perbedaan HO dan presentasi salindia.

BedaHO

 

Beban Kata-kata

Jadi, beban kata-kata (teks) atau penjelasan itu terletak pada pendidik (dosen, instruktur, guru) dan handout untuk menyampaikannya. Di dalam presentasi Powerpoint sebaiknya hanya dominan visualisasi dengan sedikit teks. Anda tentu sering melihat presentasi Powerpoint yang coba melesakkan sebanyak mungkin teks sehingga Anda pun terfokus untuk membaca bagian demi bagian. Perhatikan contoh berikut.

Contoh presentasi yang sangat padat dengan teks.
Contoh presentasi yang sangat padat dengan teks.

Sebelum-sebelumnya saya juga melakukan hal itu karena beban materi yang sangat banyak. Namun, kadang saya menyiapkan diktat tercetak dan materi Powerpoint tersendiri. Setelah saya evaluasi, materi Powerpoint saya juga masih sangat padat dan terjebak pada penjelasan poin-poin. Semestinya, presentasi itu juga minim mengandung poin-poin karena setiap poin dapat menjadi satu salindia tersendiri.

Buku-buku seperti karya Sutanto L. Tjokro berjudul Presentasi yang Mencekam kemudian menjadi “makanan” saya. Pun buku karya Mustofa Thovids berjudul Slide Design Mastery yang lebih ringkas memuat apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam presentasi menggunakan Powerpoint.

Cepat kemudian saya melakukan penelusuran sumber tentang penyajian bahan ajar, terutama HO. Alhasil, saya menemukan satu pandangan bahwa karena presentasi diidentikkan dengan HO, banyak pemateri kemudian menjejalkan teks-teks yang walaupun terkesan ringkas, tetapi membebani presentasi. Idealnya presentasi haruslah minim dari teks yang membuat orang bisa kelelahan membacanya.

Saya insaf untuk menyusun presentasi demikian meskipun ada tugas tambahan untuk menyiapkan HO jika hendak mengajar. Ya, dahulu, salindia yang saya siapkan bisa di atas 50 salindia, bahkan 100. Akan tetapi, kini mulai saya kurangi dan memindahkan beban teks ke dalam HO, termasuk penjelasan saya sendiri.

Contoh salindia yang lebih dominan visual.
Contoh salindia yang lebih dominan visual.

Berbagi di IPDN Sumbar

Gayung bersambut setelah saya mempelajari banyak hal tentang bahan ajar, termasuk penyajian presentasi Powerpoint, tanggal 8 Juni 2015, saya diminta berbagi soal itu di IPDN Sumbar, tepatnya di Bukittinggi. Di sinilah saya berkesempatan menjelaskan perbedaan antara HO dan presentasi berbasis Powerpoint dan bagaimana para dosen bisa menyusunnya dengan taktis dan tepat sasaran.

Sama halnya dengan metode penulisan lainnya, dalam penulisan HO terdapat juga langkah-langkah prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Langkah penting adalah menyusun frame work atau kerangka HO dulu seperti gambar berikut. HO dirancang tidak lebih dari 20 halaman.

Framework HO

Penyusunan presentasi Powerpoint pun sebenarnya 50% sudah dikerjakan pada saat membuat HO. Hanya ada proses konversi materi dari HO ke presentasi salindia dan optimalisasi Powerpoint sendiri sebagai aplikasi yang umum digunakan–saya menggunakan versi 2013. Banyaknya materi yang akan disampaikan memang berkorelasi dengan banyaknya salindia yang diperlukan. Ada kalanya saya membagi salindia berdasarkan sesi-sesi yang terdiri atas poin-poin penyampaian.

Namun, yang penting diingat bahwa poin-poin yang disajikan harus berbasis visual dengan penggunaan gambar, foto, ilustrasi tangan, diagram, grafik, ataupun infografik. Berikut ini contoh frame work sebuah presentasi Powerpoint.

Framework

 

Ctoh infografik yang dibuat juga dengan Powerpoint.
Contoh infografik yang dibuat juga dengan Powerpoint.

Presenta(c)tion

Selain soal HO tadi, tentu terkait dengan presentasi menggunakan Powerpoint, banyak hal yang harus dipahami, termasuk desain templat Powerpoint sendiri. Mengutip Mustofa Thovids, sebaiknya pemateri menggunakan kreativitas sendiri dalam merancang desain templat daripada menggunakan templat standar yang sudah tersedia. Penggunaan templat yang sudah tersedia cenderung menimbulkan kemonotonan tampilan.

Adanya banyak fungsi dalam Powerpoint juga harus bijak menggunakannya, seperti animasi, transisi salindia, warna latar, efek gambar, efek tiga dimensi, dan juga warna. Jangan sampai penggunaan yang berlebihan atau tidak tepat sasaran malah mengaburkan maksud pembelajaran yang hendak disampaikan. Selain itu, perlu juga pemahaman penggunaan tipografi (font) agar bisa mempertimbangkan keterbaaan (readability) dan kejelahan (legibility).

Hal itu semua belum termasuk kemampuan public speaking Anda untuk menyampaikan suatu presentasi, termasuk persiapan-persiapan teknis dan nonteknis. Intinya, saat beraksi dalam presentasi, Anda harus benar-benar siap karena sejatinya presentasi adalah pelatihan bagi Anda untuk terus mengasah kemampuan tampil di depan publik dan menancapkan misi Anda.


©2015 oleh Bambang Trim

Ingin mengundang Bambang Trim berbagi tentang bahan ajar dan presentasi? Silakan kontak langsung via WA di 081519400129 atau email ke bambangtrim72@gmail.com

SHARE

2 COMMENTS

  1. Pak, jadi baik HO maupun presentasi salindia, sebaiknya dibuat sekomunikatif mungkin ya dan tidak menggunakan teks yang terlalu padat?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here