Mengemas Konten Oshibana

1
667

Jumat pagi, 13 Maret 2015, saya sudah ada janji bertemu Bu Mutia Prasodjo, seorang pakar oshibana Indonesia. Ini pertemuan kali kesekian dengannya dan saya beserta istri langsung mengunjungi workshop beliau di rumahnya, di Bogor.

Urusan pertemuan tersebut tidak lain dari urusan pengemasan konten yang akan saya lakukan bersama Bu Mutia. Pada kenyataannya, tak banyak publikasi tentang oshibana di Indonesia, termasuk kursus yang resmi diselenggarakan. Alhasil, salah satu gagasannya adalah memanfaatkan teknologi digital untuk memasyarakatkan oshibana, sekaligus penyelenggaraan kursus yang lebih profesional.

Bu Mutia sedang memberikan workshop oshibana kepada mahasiswa. Sumber: http://japanese.binus.ac.id
Bu Mutia sedang memberikan workshop oshibana kepada mahasiswa.
Sumber: http://japanese.binus.ac.id

Oshibana adalah seni berkreasi dengan bunga kering yang diawetkan dengan cara ditekan (press) serta tetap mempertahankan warna aslinya. Teknik lain yang dikenal adalah herbarium, namun herbarium menghilangkan warna asli tumbuhan. Bagian yang biasa digunakan dalam seni oshibana (berasal dari Jepang; oshi berarti ditekan dan bana berarti bunga), yaitu kelopak bunga, daun, dan batang.

Bayangkan, Indonesia termasuk surga berbagai jenis bunga dengan tekstur yang khas sehingga oshibana pun sangat mungkin dikembangkan di Indonesia. Berdasarkan keterangan Bu Mutia, terdapat sentra ekspor oshibana di Indonesia, di antaranya di Surabaya dan Malang. Eksportir ini bahkan sangat memerlukan bahan baku oshibana sehingga jika ada kemauan, sebenarnya para ibu di rumah bisa menjadi pemasok bahan baku oshibana ini dengan cara melakukan pengeringan bunga hingga bisa dikreasikan dalam berbagai bentuk perhiasan atau karya seni lainnya.

Bu Mutia sempat menunjukkan kalung dari kreasi oshibana yang digabungkan dengan manik-manik atau bebatuan seharga Rp150.000,00. Padahal, modal bahan bakunya tidak lebih dari Rp30 ribu. Usaha yang lama dan perlu kesabaran justru saat mengeringkan bunga dan memotongnya dengan penuh cita rasa seni.

Kreasi oshibana memang tidak sebatas bunga, dedaunan, atau batang kering yang dirangkai lagi, tetapi juga bisa digunakan untuk media lain, seperti hiasan diary, bros, hiasan mug, pembatas buku, kartu pos, lukisan, atau juga menjadi buku bergambar. Sebagai sebuah keterampilan, oshibana memang layak dikembangkan menjadi konten pelatihan. Itu yang sedang saya pikirkan.

Konsep untuk konten digital sudah ada, termasuk buku-buku yang akan dikembangkan. Selanjutnya, tinggal memantapkan model bisnis dari pengembangan konten ini.

Oh ya, Bu Mutia memang langsung mendapatkan ilmu oshibana dari seorang Shinsei di Jepang, saat beliau masih bertugas di sana. Ia mempelajarinya selama 1,5 tahun, namun karena waktu itu ia menganggap keterampilan ini hanya hobi, ia enggan mengambil sertifikat Shinsei, padahal ia sudah dianggap mampu untuk mengambilnya. Terbukti, saat ini Mutia termasuk pakar yang banyak diminta untuk mengisi berbagai workshop, baik oleh Kedubes Jepang maupun oleh pemerintah dan swasta. [BT]

SHARE

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here