Buku Domain Publik

0
554

Seorang pembaca Manistebu baru-baru ini bertanya apakah saya memiliki daftar domain publik. Saya menjawab tidak karena memang saya tidak berkonsentrasi untuk mengumpulkan domain publik yaitu karya-karya yang hak ciptanya menjadi milik publik atau sudah menjadi milik publik.

Soal domain publik, utamanya buku-buku karya penulis sebenarnya mudah saja ditelusuri. Rujukan adalah UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang berbeda dengan UU No. 19 Tahun 2002. Jika di dalam UU lama tercantum bahwa sebuah karya menjadi domain publik setelah penulisnya meninggal 50 tahun, di UU yang baru bertambah menjadi 75 tahun.

Dari lamanya waktu tersebut dapat dihitung bahwa karya yang masuk ranah domain publik adalah karya yang penulisnya wafat sebelum tahun 1940. Dalam jagat sastra berarti buku-buku domain publik itu adalah karya para sastrawan angkatan Pujangga Lam, Balai Pustaka, dan Pujangga Baru.

Sebagai contoh, kita bisa mengecek tentang karya-karya puisi Chairil Anwar. Chairil adalah sastrawan Pujangga Baru dan wafat tahun 1949 dalam usia 26 tahun. Jika menggunakan UU lama, karya Chairil sudah masuk domain publik. Namun, dengan UU baru, karyanya belum masuk domain publik.

Karya Chairil Anwar belum masuk domain publik
Karya Chairil Anwar belum masuk domain publik

Karya Chairil dikategorikan domain publik pada tahun 2025. Sebelum tahun itu, ahli warisnya masih berhak atas hak cipta karya-karya Chairil. Namun, tentu memang harus dicari siapa ahli waris yang sah dari penyair yang membujang sampai akhir hayatnya tersebut.

Sekarang coba kita cek karya Merari Siregar sebagai sastrawan angkatan Balai Pustaka. Merari wafat tahun 1941 dan karyanya seperti Azab dan Sengsara dibuat tahun 1920. Karya Merari menjadi domain publik pada 2017. Jadi, masih sekitar dua tahun lagi.

Lalu, karya Marah Roesli yang populer yaitu Sitti Nurabaya dirilis tahun 1922. Namun, Marah Roesli wafat tahun 1962 sehingga karyanya baru menjadi domain publik pada tahun 2038.

Sebagian besar buku angkatan Balai Pustaka, apalagi Pujangga Baru belum masuk ranah domain publik karena penulisnya rata-rata wafat setelah tahun 1960-an. Jadi, yang masuk umumnya karya Pujangga Lama seperti Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang wafat sekitar tahun 1873.

Artinya, para penerbit di Indonesia masih harus menunggu untuk menerbitkan buku-buku tersebut secara massal tanpa terkendala persoalan hak cipta. Jika tetap ingin menerbitkan, tentu harus mencari ahli warisnya yang sah.

©2015 oleh Bambang Trim

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here