Nama Diri vs Nama Jenis

5
5460

Ada persoalan terkait penulisan nama diri (proper name) dan nama jenis (nomenclature) dalam berbahasa Indonesia, utamanya tentang kata yang harus menggunakan huruf kapital. Persoalan ini juga saya hadapi ketika menyunting teks Peraturan MA terkait penulisan nama lembaga; mana yang harus huruf kapital dan mana yang tidak.

Nama diri adalah kata benda yang digunakan untuk menamai orang, tempat, atau sesuatu, termasuk konsep atau gagasan. Jadi, seseorang, tempat, lembaga, atau konsep itu dapat disebut dengan nama diri. Hal yang patut dipahami bahwa nama diri tidak memiliki superordinat (nama umum, genus) dan subordinat (nama khusus, spesies) seperti halnya nama jenis (terkait klasifikasi hewan dan tumbuhan dalam ilmu biologi). Karena itu, nama diri merupakan nama yang berdiri sendiri dan ditulis dengan huruf kapital.

Nama Diri

Nama diri dimiliki oleh Tuhan, persona, yang berhubungan dengan kalender (hari, bulan, tahun, peristiwa), benda, dan benda khas geografi.

Contoh:

Nama Diri Tuhan

Allah Yang Mahakuasa, Sang Hyang Widi, Yesus Kristus, Sang Khalik

Nama Diri Persona

Nabi Muhammad saw., Sultan Agung, Bambang Trim

Nama Diri yang Berhubungan dengan Kalender

Proklamasi Kemerdekaan RI, tahun Masehi, Minggu, Pertempuran 10 November, zaman Jahiliyah, era Orde Baru

Benda Khas Geografi

Benua Asia, Pulau Sumatera, Gunung Merapi, Selat Sunda, Sungai Kapuas, Lembah Tidar, Danau Toba, Planet Pluto

Benda

a. Benda Bernyawa

Termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Nama hewan atau nama tumbuhan yang tidak terkait dengan nama jenisnya, tetapi merupakan epitet (deskripsi nama), ditulis dengan huruf kapital.

Contoh

Abdul Hamid, sang Pendekar (manusia), si Belang (hewan), si Rimbun (tumbuhan)

b. Benda Tak Bernyawa

Apa yang termasuk benda tak bernyawa, yaitu agama, kitab suci, dokumen, majalah, surat kabar, nama program, tempat umum, fasilitas umum, lembaga, partai/organisasi, perkumpulan, bangsa, suku bangsa, bahasa, desa, kota, wilayah, provinsi, kerajaan, dan negara. Berikut contoh penulisan nama diri tersebut:

  • Islam, Kristen, Hindu, Alquran, Injil, Taurat;
  • Program Studi Ilmu Humaniora Universitas Padjadjaran, Fakultas Kedokteran UI;
  • teks Proklamasi, Surat Perintah Sebelas Maret;
  • koran Republika, koran Kompas, majalah Tempo;
  • Rumah Sakit Umum Daerah Surakarta;
  • bangsa Cina, suku Sunda, bahasa Karo;
  • desa Sukamaju, kota Tebingtinggi, Wilayah Jakarta 1, provinsi Bali;
  • Kerajaan Majapahit, Republik Indonesia;
  • Partai Golkar, Goodreads Indonesia;
  • toko Anggrek, mal Taman Anggrek, dan apotek Sejahtera.

Nama Jenis

Permasalahan yang kerap timbul adalah tercampurnya pengertian nama diri dan nama jenis sehingga sering tertukar atau rancu cara penulisannya. Dalam konteks penulisan formal kerap sesuatu yang dianggap bernilai, kharismatis, atau dihormati harus ditulis dengan huruf awal kapital, padahal tidak demikian.

Contoh

  • undang-undang, keputusan menteri (termasuk nama jenis)
  • Undang-Undang tentang Hak Cipta, Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia (termasuk nama diri)
Kaidah Penulisan Nama Jenis dalam Penulisan Latin (Binominal)

Contoh

Oriza sativa, Filariasis timori

Kaidah Penulisan Nama Jenis sesuai dengan EYD

Contoh

  • sapi benggala, jeruk bali, talas bogor, jambu bangkok, gajah sumatera, badak jawa
  • kopi bubuk, asinan mangga, pempek ikan tenggiri
  • rendang Padang, lemang Tebingtinggi, masakan khas Sunda, coto Makassar, teri Medan, batik Pekalongan, songket Palembang, papeda Papua, kopi Gayo, dan asinan Bogor. (benda tidak bernyawa [makanan, minuman, dsb.] yang diikuti nama tempat asal)
  • ayam goreng Suharti, soto Pak Kliwon, rujak Bu Daryo

***

Penjelasan ringkas tersebut semoga memandu kita untuk menuliskan nama diri dan nama jenis secara taat asas.

Sumber Rujukan:

Matanggui, Junaiyah H. 2013. Bahasa Indonesia untuk Bidang Hukum dan Peraturan Perundang-undangan. Jakarta: Grasindo Widiasarana Indonesia.

Pusat Bahasa, Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan. Jakarta: Kemedikbud.

Pusat Bahasa. 2013. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi IV. Jakarta: Gramedia.

SHARE

5 COMMENTS

  1. pak, itu kenapa kalo ‘talas bogor’ huruf ‘b’ nya kecil ? tapi kalo ‘rendang Padang’ huruf ‘P’ nya kapital?

    • talas bogor masuk nomenklatur nama jenis, biasanya dari kelompok tumbuhan dan hewan. Jadi, sapi benggala juga B nya kecil.

  2. Pak dasar yang digunakan apa kok desa Sukamaju, kota Tebingtinggi, dan provinsi Bali diawali huruf kecil….apakah itu tidak setara dengan penulisan Jalan Surabaya dan Gunung Batur (nama diri)

    • Saya menggunakan referensi daftar pustaka yang tertulis di bawah tulisan. Tulisan ini sudah beberapa tahun lewat sebelum berlakunya EBI (Ejaan Bahasa Indonesia). Menurut EBI, penamaan daerah itu menjadi penamaan khas geografi sehingga penulisan yang tepat adalah Desa Sukamaju, Kota Tebingtinggi, dan Provinsi Bali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here