Kehilangan “Pak Haji” di Ujung Syakban

0
713

Pesan BBM dari seorang teman mengejutkan saya. ‘Pak Haji meninggal’. Segera saya menghubungi beberapa teman lagi untuk mencari tahu kabar sejatinya. Betullah H. Syaifullah Sirin yang begitu mewarnai perjalanan karier saya di dunia buku sudah dipanggil ke Rahmatullah beberapa hari sebelum Ramadan, tepatnya tanggal 25 Juni 2014. Pak Haji begitu beliau akrab dipanggil meninggalkan sanak keluarga dan handai tolannya di ujung Syakban.’

H. Syaifullah Sirin adalah adik ipar dari tokoh perbukuan nasional H. Rozali Usman, pendiri penerbit dan percetakan Rosdakarya. H. Rozali sendiri telah wafat lebih dulu pada akhir 2013. Ketika ada upaya untuk membukukan jejak kisah H. Rozali, saya pun diundang H. Syaifullah Sirin (Pak Haji) ke rumahnya untuk membantu beliau membuat tulisan kenangan tentang H. Rozali Usman.

Dari kisah beliau tentang H. Rozali Usman, sedikit banyak saya tahu kisah hidup Pak Haji semasa kecil dan remaja. Ia tumbuh sebagai aktivis pemuda dan lalu juga pekerja hebat seperti kakak iparnya. Ia mendapatkan didikan keras dari kakak iparnya dan dari beliaulah Pak Haji belajar banyak tentang bisnis penerbitan serta percetakan.

Pak Haji kemudian mendirikan perusahaan sendiri untuk mandiri bernama Karya Kita. Perusahaan ini bergerak utama dalam bidang percetakan, lalu meluaskan kiprahnya juga di bidang penerbitan. Karya Kita melahirkan perusahaan besar PT Grafindo Media Pratama yang melahirkan buku-buku pelajaran dan pada masa akhir 1990-an mampu menggoyang dominasi penerbit besar seperti Erlangga, Yudhistira, dan Ganeca Exact.

H. Syaifullah Sirin, hasil jepretan saya di Frankfurt 2003.
H. Syaifullah Sirin, hasil jepretan saya di Frankfurt 2003.

Orang mungkin tidak banyak tahu bahwa Pak Haji juga tokoh di balik lahirnya tabloid Islam Salam yang pernah sangat fenomenal. Nama Salam terus terbawa sebagai merek penerbit dengan didirikannya Salam Prima Media sebagai penerbit buku anak Islam serta Pustaka Madani dan Zaman yang kala itu digawangi Mas Taufan Hidayat (pemilik penerbit Nuansa Cendekia sekarang). Tahun 2008, ketiga merek itu disatukan menjadi PT Salamadani Pustaka Semesta dan saya pun ikut membidani kelahirannya.

 

Pak Haji di antara para pejabat dalam peresmian Gontor Sumbar di Sulit Air, 2009.
Pak Haji di antara para pejabat dalam peresmian Gontor Sumbar di Sulit Air, 2009.

Ya, saya mulai berinteraksi dengan beliau saat ikut masuk menjadi staf editor di Salam Prima Media tahun 1997. Karier saya di grup Karya Kita ini merambat cepat hingga kemudian menduduki posisi puncak di penerbitan. Saya termasuk yang menjadi orang kepercayaan Pak Haji dalam soal penulisan-penerbitan. Pak Haji selalu memercayakan penulisan pidato, sambutan, surat, atau pemikiran beliau lewat tulisan kepada saya. Bahkan, sampai di ujung hayatnya, saya masih membantu beliau untuk menuliskan kata-kata kenangan untuk almarhum H. Rozali Usman.

IMG_2289
Kenangan H. Syaifullah Sirin dan keluarga bersama Ustad Yusuf Mansur sambil memegang Salam Quran.

 

Sejak 1997 saya bergabung di perusahaan Pak Haji hingga pertengahan 2010, saya sudah tiga kali keluar masuk dan sempat lama di MQ Corp milik Aa Gym dari 2003 sampai dengan 2008. Kembalinya saya selalu terkait dengan permintaan Pak Haji untuk membantu kembali di perusahaannya. Terakhir, itu terjadi pada tahun 2008 sehingga saya turut membidani lahirnya penerbit Salamadani yang sempat berjaya dengan buku Api Sejarah karya Prof. Ahmad Mansur, Salam Quran, dan buku-buku karya Yusuf Mansur.  Salamadani bahkan pada kemunculannya juga menggagas tempat wisata buku bernama Salam Book House.

IMG_3661
Pembangunan awal Salam Book House yang didukung penuh Pak Haji.

Salam Book House hingga kepergian Pak Haji tetap dipertahankan oleh beliau. Di sana masih terdapat buku-buku yang dijual, termasuk saksi bisu kejayaan yang pernah menghampiri Salamadani meski hanya tiga tahunan.

Kenangan saat Salam Quran diluncurkan secara sederhana di Masjid Darussalam, Bandung.
Kenangan saat Salam Quran diluncurkan secara sederhana di Masjid Darussalam, Bandung.
Pak Inu Kencana sedang menjelaskan naskahnya kepada Pak Haji.
Pak Inu Kencana sedang menjelaskan naskahnya kepada Pak Haji.

Kepergian Pak Haji jelas begitu terasa mendadak tanpa tanda-tanda. Dua minggu sebelum wafat, beliau masih SMS saya untuk menanyakan perkembangan pengeditan biografi H. Anif (tokoh Sumut) yang dipercayakannya kepada saya. Sayang saya tidak menelepon beliau, tetapi hanya membalas dengan SMS juga. Saya tidak sempat mendengar kata-kata terakhirnya, kecuali pertemuan pada akhir Mei sepulang saya dari Banjarmasin. Itulah kali terakhir bertemu beliau dan berbincang lama tentang buku.

Selamat jalan Pak Haji. Dunia buku kembali kehilangan tokoh terbaiknya. Semoga amal ibadah yang Pak Haji tanamkan dan semangat kebajikan yang ditebarkan menjadi timbangan amal yang berat di sisi Allah. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihii wa’fu’anhu.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here