Sekali Lagi Membedah Writerpreneur

0
434

Memang jarang sejak kecil seseorang sudah bercita-cita menjadi penulis, apalagi pengusaha bidang penulisan (writerpreneur). Lalu, saat remaja atau di bangku kuliah pun mungkin belum terpikirkan lagi menetapi jalan writerpreneur. Taruh kata ada jurusan penerbitan semacam yang dibuka di Politeknik Negeri Media Kreatif, Jakarta, apakah mahasiswa atau lulusannya lantas dapat berpikir dan berkuat hati untuk menjadi writerpreneur? Mungkin ya, mungkin juga tidak.

Terjun di dunia bisnis penulisan memang sebuah pilihan dan proses yang kadang agak panjang. Tidak seperti aktivitas jualan lain, para penulis harus mengasah dulu kemampuan menulisnya dan harus melewati fase untuk bisa memajang tulisannya lewat penilaian orang lain–untuk kasus penerbitan di media massa dan penerbit buku. Fase lain adalah fase berterimanya karya oleh pembaca sehingga karyanya menjadi bahan perbincangan. Jadi, ada proses pengasahan keterampilan terlebih dahulu yang terkadang sangat menguji kesabaran dan ketenangan.

Setelah melewati fase itu pun, tak serta merta seorang penulis menjadi writerpreneur. Terkadang ia malah asyik sebagai penulis mandiri atau penulis konvensional yang menghasilkan karya tulis sendiri, lalu “menjualnya” ke berbagai media untuk dimuat. Model seperti inilah yang terkadang tak membuat penulis mampu menghasilkan rupiah yang bernilai signifikan untuk sekadar menempatkannya menjadi kelas menengah Indonesia, kecuali ia beruntung karyanya menjadi best seller.

Lalu, apa itu writerpreneur? Penulis sekaligus entrepreneur. Penulis yang melihat celah lain dari bidang penulisan sebagai bisnis jangka panjang. Nah, paling tidak para writerpreneur benar-benar mengelola sebuah bisnis penulisan dalam bentuk perusahaan utuh, mempekerjakan para pekerja kreatif seperti penulis lain, editor, dan desainer.

Apa yang mereka kerjakan? Bisa mendirikan penerbit sendiri untuk menghasilkan produk penerbitan mandiri (majalah, buku, dsb.) dan bisa pula mendirikan perusahaan jasa penerbitan sendiri untuk membantu orang lain menulis serta menerbitkan karyanya. Jadi, ini semacam lompatan dari hanya sebagai penulis menjadi pengusaha penulisan.

Hmm… pasti diperlukan modal untuk ini bukan? Ya, jelas dalam suatu usaha tidak mungkin kita memulainya sebatas dengkul. Ujian pengusaha itu memang modal yang hendak ia investasikan. Modal utama dalam bisnis penulisan tetaplah kreativitas dan produktivitas menulis. Modal kedua sebenarnya sangat murah karena hanya seperangkat PC, printer, scanner (masih diperlukan untuk hal-hal tertentu), dan jejaring internet. Jadi, kalau dirupiahkan sekitar Rp10-12 jutaan, plus biaya bulanan yang harus kita perhitungkan, seperti listrik, telepon, serta internet berlangganan. Jika merekrut satu orang dahulu sebagai desainer, kita sendiri sebagai penulis bisa bekerja dengan laptop yang tak perlu canggih-canggih amat.

Namun, semua modal bentuk rupiah dan barang tersebut akan segera balik modal jika Anda mulai mendapatkan order penulisan dengan hitungan per halaman. Hitungan per halaman sudah dapat menegaskan Anda sebagai penulis profesional. Jadi, berapa Anda layak dibayar per halaman tulisan dengan standar kertas berukuran A4 dan tulisan 1,5 spasi dengan panjang sekitar 300 kata?

Siapa target pasar penulisan jasa ini? Sederhananya kita bagi tiga. Pertama, perseorangan yang memang memerlukan bantuan seorang penulis, baik itu sebagai penulis bayangan (ghost writer) atau sebagai penulis pendamping (co-writer). Bentuknya bisa berupa biografi, autobiografi, memoar, dan buku nonfiksi. Kedua, adalah lembaga/instansi pemerintah yang kadang meminta bantuan untuk penyusunan diktat, modul pelatihan, buku laporan, dan lain-lain. Ketiga, perusahaan swasta yang terkadang meminta bantuan untuk penyusunan buku sejarah perusahaan, buku kisah sukses, laporan kegiatan, dan lain-lain.

Seorang writerpreneur profesional bisa mendapatkan pendapatan dari satu pekerjaan paling kecil Rp6 jutaan dan puncaknya di atas Rp100 jutaan. Rentang pekerjaan umumnya sepengalaman saya adalah 3-6 bulan pengerjaan. Tentu persoalan waktu ini menjadi perhatian kita karena semakin lama kita mengerjakan, semakin membengkak biaya operasional yang harus ditanggung. Karena itu, seorang writerpreneur memang harus bekerja dengan kecepatan full untuk menyelesaikan naskah agar tidak berlarut-larut–dalam beberapa kasus saya menuntaskan pengerjaan penulisan-penerbitan dalam rentang 1,5-2 bulan.

Menarik? Sangat menarik kalau kita menyelami lebih dalam karena bisnis ini kagak ada matinye alias para penulis tetap diperlukan pada setiap zaman, termasuk zaman menggilanya internet dan media sosial kini. Tinggal memetakan fokus usaha jasa penulisan-penerbitan ini mau diarahkan ke mana.

Sekali lagi, saya pun diminta untuk berbagi soal writerpreneurship ini nanti tanggal 1 Februari 2014 di acara Festival Kumpul Penulis Jakarta, bertempat di Jakarta Design Center. Tentulah sebuah kesempatan bagi saya untuk berbagi kepada sesama penulis dan mengompori mereka untuk menjadi writerpreneur.

large

Namun, sekali lagi soal ini memang pilihan dan tidak semua orang memang ditakdirkan bermental entrepreneur. Entrepreneur tidaklah sama dengan pedagang. Pembedanya yang jelas adalah kreativitas, inovasi, dan keberanian melakukan terobosan yang tak pernah dilakukan orang lain.[]

©2014 oleh Bambang Trim, Komporis Buku Indonesia

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here