Meng-install Jejak Sang Maestro Biografi

2
562

Tampaknya generasi penulis muda kini tidak terlalu akrab betul dengan sosok Ramadhan Kartahadimadja (Ramadhan KH) sebagai maestro biograf, kecuali tentu mereka yang telah bersentuhan dengan karya-karya populernya. Pilihan hidup sebagai biograf setelah sebelumnya melakoni diri menjadi jurnalis, melambungkan sosok Ramadhan KH sebagai penulis papan atas Indonesia. Beliau pun namanya harum sebagai sastrawan dengan buah karya hebatnya antologi puisi Priangan Si Djelita yang disebut-sebut Sapardi Djoko Damono sebagai salah satu buku kumpulan puisi terbaik yang pernah terbit di Indonesia. Pasalnya, Ramadhan menggunakan format tembang kinanti yang tidak banyak dilakukan penyair pada masa itu.

Gabungan kemampuan sebagai sastrawan dan jurnalis, kemudian membawa Ramadhan KH memperkenalkan genre roman biografi. Buku biografi yang menghanyutkan yaitu Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit Garnasih dengan Bung Karno (1981) adalah contoh roman biografi yang mungkin kini sama dengan  Habibie dan Ainun yang dalam kover ditulis sendiri oleh B.J. Habibie (autobiografi).

Sungguh menarik jika seorang biograf sebagai salah seorang “ahli waris” dari ilmu penulisan biografi sang maestro, kemudian membukukan caranya meng-install kemampuan menulis biografi ala Ramadhan KH ini. Dia adalah Zulfikar Fuad yang berangkat dari karier sebagai jurnalis, kemudian memilih jalur penulisan biografi.

Zulfikar menuliskan buku bertajuk The Secret of Biography: Rahasia Menulis Biografi ala Ramadhan KH yang diterbitkan Indeks. Buku berketebalan 172 halaman ini menyajikan panduan serta pengalaman tentang menulis biografi, khususnya teknik yang diperkenalkan Ramadhan KH. Zulfikar sendiri telah berkiprah sebagai biograf, di antaranya menghasilkan biografi B.J. Habibie (Jejak Bintang di Angkasa yang diterbitkan Puskurbuk) serta beberapa biografi kepala daerah di Indonesia.

Tantangan bagi Sang Maestro Biografi. Pengalaman penting bagi Ramadhan KH adalah ketika diminta oleh G. Dwipayana untuk menulis biografi Soeharto, penguasa Orde Baru masa itu. G. Dwipayana menjadi Kepala Mass Media di Sekretariat Negara dan terkesan dengan autobiografi Bu Inggit yang ditulis Ramadhan (Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Bu Inggit Garnasih dengan Bung Karno, terbit 1981). Meski sempat menolak, Ramadhan akhirnya menerima “pekerjaan berat” ini dan meminta G. Dwipayana agar ia dapat bertanya secara bebas kepada Soeharto dan tidak boleh dicurigai–meski akhirnya sulit dilakukan karena Ramadhan hanya bisa bertemu Soeharto 2 kali, selebihnya wawancara dilakukan secara tertulis via G. Dwipayana. Nama Ramadhan KH memang diletakkan kedua setelah G. Dwipayana, tetapi kalangan penulis tahu bahwa Ramadhan KH-lah yang sejatinya menulis biografi ini, sedangkan idenya dari G. Dwipayana.

Biografi Pak Harto karya Ramadhan KH yang menghebohkan
Biografi Pak Harto karya Ramadhan KH yang menghebohkan

Kekecewaan Sang Maestro Biografi. Biografi Soeharto dengan judul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989) itu yang diterbitkan Citra Lamtoro Gung Persada (penerbit milik Tutut, putri Pak Harto) memang menghebohkan. Namun, sang maestro tidaklah berpuas hati karena ia tidak mendapatkan gambaran perasaan Soeharto kala itu. Djadjat Sudradjat yang memberi kata pengantar pada buku Zulfikar Fuad menuliskan hasil wawancaranya dengan sang Maestro di Media Indonesia, 27 Desember 1992.

“Tetapi, toh masih ada saja kekurangannya. Ketika pertanyaan itu diajukan memang (jawabannya) tidak keluar dari Pak Harto. Minim sekali. Pikirannya, ucapannya, action-nya, memang ya, tetapi perasaannya tidak. Itu sebabnya, judulnya Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Karena saya tidak berhasil mengorek perasaannya, Pak Harto agaknya pandai menyimpan perasaannya.”

Memang dalam teknik biografi kerap dilakukan kalibrasi untuk mendapatkan “perasaan” narasumber sehingga dapat dilukiskan dengan lebih hidup. Sulit sekali menulis biografi secara baik tanpa sang biograf bertemu muka dengan narasumber dalam frekuensi yang sering, bahkan alangkah baik jika dapat melihat keseharian narasumber. Hal inilah yang tidak memuaskan Ramadhan.

Hal lain tentu terkait kompensasi. Meski menulis untuk orang nomor satu di negeri ini, tidak menjamin jerih payah Sang Maestro langsung dihargai. Ramadhan sempat dipingpong pihak Cendana (Penerbit Citra Lamtoro Gung Persada) ketika menagih honor penulisannya. Data dari Wikipedia menyebutkan Ramadhan disarankan menulis surat langsung kepada presiden oleh seorang pejabat militer dan saat itu G. Dwipayana sendiri sudah meninggal dunia. Kolonel Wiranto yang kala itu menjadi ajudan presiden pun meneleponnya dan memintanya datang ke Cendana. Di sana ia mendapatkan honor berupa mobil Honda Accord baru yang diserahterimakan Wiranto di depan garasi. Soeharto sendiri tidak pernah menemuinya.

Sebuah pembelajaran dan persiapan bagi para biograf adalah menyiapkan kontrak tertulis dengan narasumber. Kejadian yang dialami oleh Sang Maestro tak pelak dapat pula terjadi pada penulis biografi lainnya karena ada kecenderungan begitu buku terbit, para narasumber ini pun seolah lupa dengan tanggung jawabnya.

Karya Sang Maestro Biografi. Selepas  menulis biografi yang menggegerkan itu, Ramadhan KH pun mengerjakan biografi tokoh-tokoh nasional lainnya, seperti Ali Sadikin, A.E. Kawilarang, Soemitro, Hoegeng, Gobel, D.I. Panjaitan, hingga Adnan Buyung Nasution. Ada juga penulisan dan penerbitan biografi yang mengalami kendala karena konflik internal dengan narasumber, seperti biografi Ibnu Sutowo dan Wiweko (tokoh penerbangan nasional)–belakangan biografi Ibnu Sutowo diterbitkan juga oleh Komunitas Bambu pada 2008. Ramadhan sebagai sastrawan juga dikenal menghasilkan karya novel, seperti Royan Revolusi (1970), Kemelut Hidup (1971), Keluarga Permana (1978), dan novel kontekstual yang berlatar belakang korupsi di dunia perminyakan, Ladang Perminus (1990).

***

Jejak Ramadhan KH meninggalkan pencerahan betapa berharganya kisah hidup seseorang itu dibukukan. Setiap masa akan menghasilkan tokoh dan setiap tokoh memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Para penulis biografi juga akan dihadapkan pada tantangan objektivitas untuk membuka semua tabir kehidupan tokoh (baik dan buruknya) atau sekadar mencitrakannya secara bersih tanpa noda. Tentu yang terakhir akan sangat bergantung pada diri sang biograf sendiri. Sebenarnya dalam penulisan biografi bukan soal siapa tokoh yang akan dibukukan–apakah itu tokoh baik, tokoh buruk, atau tokoh kontroversial–, melainkan yang terpenting seberapa mau tokoh tersebut dikisahkan apa adanya yang boleh jadi mengejutkan publik.

Penulisan biografi memang bukan sekadar imbalan yang kadang menggiurkan dan sangat besar dibandingkan penulisan karya lainnya. Di balik itu, terdapat kompetensi, konsistensi, dan juga kreativitas untuk menyajikan kisah hidup seseorang layaknya sebuah roman yang memikat hati dan mengandung hikmah kehidupan. Karena itu, belajar dari seorang maestro memang salah satu jalan yang patut kita jejaki.[]

©2013 oleh Bambang Trim

Mau tahu banyak hal tentang penulisan biografi ala sang maestro?

Hadir yuk pada 26 Januari 2013, Gramedia Matraman, pukul 13.00, Bedah Buku The Secret of Biography karya Zulfikar Fuad. | Pembicara: Gilang Ramadhan, Djadjat Sudradjat, Bambang Trim, Zulfikar Fuad. Moderator: R. Masri Sareb Putra. | Gratis dan terbuka untuk umum.

SHARE

2 COMMENTS

  1. Wow…ada bedah buku nech. InsyaAllah saya datang, sekalian jumpa darat dg Bpk plus minta tekenan Pak Zulfikar Fuad di buku terbarunya tsb. Trims infonya Pak. Wassalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here