Menyambut 80 Tahun Pak Raden; Mengenang Tahun 80-an

3
511

Angka 80 istimewa sekali hari ini, 28 November 2012. Drs. Suyadi alias Pak Raden telah menginjak usia 80 tahun dan karya besarnya Si Unyil berjaya pada tahun 80-an mengisi hari-hari anak Indonesia. Saya ingin menuliskan catatan kecil tentang hal ini sebagai penikmat karya literasi anak dan juga pegiat literasi anak itu sendiri.”

Pak Raden berulang tahun ke-80 pada 2012 kini dan barulah pada tahun ini juga bulan Mei lalu saya pribadi berkesempatan bertemu dengan beliau dalam acara workshop menulis buku anak. Pertemuan istimewa yang mengaitkan kenangan pada masa lampau. Kenangan ketika Si Unyil dan kawan-kawannya mampu menghidupkan hari anak-anak Indonesia.

Saya waktu itu hanya seorang anak kecil yang tinggal di kota kecil, Tebingtinggi Deli–kota berjarak 80 km dari Medan yang juga tempat kelahiran tokoh Pak Tino Sidin–si Unyil dengan alam cerita di Jawa Barat memang melambungkan imajinasi tentang daerah perdesaan yang asri. Namun, cerita si Unyil mengetengahkan berbagai topik hangat dan konflik khas anak-anak–romantisme desa ideal yang dibangun khas Orde Baru. Lalu, satu hal yang menjadi istimewa karena si Unyil tampil sebagai boneka–mirip serial Muppet Show yang juga trendy pada masa itu. 

(Sumber: hot.detik.com)

Pak Raden adalah tokoh penting yang mengharu biru. Pertama, kesan antagonis terlihat dengan kekikirannya, kegalakannya, dan juga kesombongan sebagai bangsawan Jawa. Namun, lambat laun simpati juga tersampai padanya manakala Pak Raden juga sebenarnya sayang pada anak-anak. Tokoh Pak Raden pun menjadi begitu akrab ketika beliau sering tampil dalam acara offair-nya (terkadang bersama Pak Ogah dan Bu Bariah) lengkap dengan atribut pakaian kebesarannya. Saat itulah saya merasa ingin bertemu dengan Pak Raden dan si Unyil–apalagi pengisi suara Unyil waktu itu nama depannya sama dengan saya. Masih ingat ketika Si Unyil dilayarlebarkan dengan judul Unyil Jadi Manusia, betapa antusiasnya saya untuk menonton penampakan Unyil dalam wujud manusia.

Unyil, Ucrit, Usro, Endut, Cuplis, Melani, Bunbun, Pak Lurah, Bu Bariah, Pak Ogah, Si Ableh, Penjahat Unyil, dan deretan tokoh-tokoh lainnya serasa menempel di kepala. Saya betul-betul kagum dengan kreativitas Pak Raden sebagai kreator yang mencipta begitu banyak karakter, sekaligus menggambarkannya dengan ilustrasi khas anak-anak. Film Si Unyil produk PPFN itu pun serasa wajib tonton dan tidak boleh dilewatkan setiap hari Minggu. Karena itu, janji temu setiap hari Minggu selalu menggunakan frasa “habis Unyil” yang artinya pertemuan diadakan setelah menonton film si Unyil pukul 9.30-10.00 pagi.

Tahun 80-an saat stasiun televisi belum sebanyak ini dan karakter-karakter dunia anak belum dibanjiri karakter impor, Unyil memang menjadi primadona dan produk turunannya pun laku keras. Versi baru memang ada yaitu Laptop Si Unyil yang sudah dibuat dengan sentuhan modern. Apa yang tersisa adalah persoalan hak cipta ketika kreator si Unyil, Pak Raden, masih berjuang untuk mendapatkan royalti. Walaupun ini persoalan pengalihan hak cipta yang masa itu mungkin belum terlalu mengemuka, tetaplah kita tahu dan beri hormat bahwa Pak Radenlah tokoh kreator di balik si Unyil dkk. Seandainya Pak Raden seperti halnya kreator Angry Bird yang kini menikmati royalti dari karya ciptanya berupa games hingga kemudian berkembang menjadi produk apa pun, tentulah beliau bisa hidup berkecukupan atau malah dapat mendirikan Museum Si Unyil dan Si Unyil bisa diabadikan ke dalam bentuk lain: games, buku multimedia, film animasi, dan sebagainya.

Delapan puluh tahun Pak Raden adalah salah satu simbol kreativitas untuk anak Indonesia yang tidak pernah padam. Pak Raden tetap mau dan mampu berbagi dengan pakaian kebesarannya pada dua generasi (generasi saya generasi X dan generasi Y yang lahir tahun 80-an). Di sekeliling beliau ada para sukarelawan yang menjaga dan merawatnya. Kucing-kucing yang setia menemani hari-harinya. Dan tentu saja aneka karakter dan adegan Si Unyil yang tetap hidup dalam ingatan beliau. 

Cis kacang buncis nyengcle….

Merdeka!

©2012 oleh Bambang Trim

Komporis Buku Indonesia

Si Unyil Dalam Fakta:

  • Tayang kali pertama 5 April 1981 di TVRI, setiap Minggu, pukul 9.30
  • Film boneka Si Unyil diproduksi oleh Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN)
  • Bertahan dalam kurun waktu 12 tahun (1981-1993)
  • Total episode tayang 603 episode
SHARE

3 COMMENTS

  1. Sepatutnya dijadikan momentum untuk kesadaran menghargai dan menghormati setiap karya atau hasil penciptaan seni baik dalam royalti atau pun kesadaran untuk meniadakan pembajakan dan penjiplakan.
    Sent from BlackBerry® on 3

  2. Sepatutnya dijadikan momentum untuk memperbaiki dan meningkatkan kesadaran menghargai dan menghormati setiap karya atau hasil penciptaan seni baik dalam royalti atau pun kesadaran untuk meniadakan pembajakan dan penjiplakan.
    Sent from BlackBerry® on 3

  3. Hari-hari kecil saya lebih diisi oleh tokoh-tokoh animasi Jepang, terutama dalam bentuk literasi bergambar: komik. Sempat nonton Unyil juga, pastinya, tapi entah kenapa hanya “Pak Ogah” yang menempel kuat di otak ini, dengan frasa istimewanya: “Cepe dulu, dong!”
    Pernah lihat juga, baru-baru ini, acara bincang-bincang bersama Pak Raden. Ada putrinya yang bercerita betapa mirisnya kehidupan “pencipta” ikon anak-anak era 80-an ini, dari mulai menghadapi berbagai penyakit kronis hingga masalah royalti–seperti yang Pak Bambang sebutkan. Dari sini, setidaknya kita bisa berkaca dan belajar sebelum menelurkan karya berkonten luar biasa seperti karya beliau tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here