Menikmati Sup Alfabet

4
663

Beberapa hari lalu terdengar kabar ibu saya masuk rumah sakit. Segera saya mengganti status profil di BB saya dengan kata-kata: “GWS Ma….” Istri saya pun bertanya apa itu GWS–rupa-rupanya tidak terlalu aktif dalam kancah media sosial membuat ia tidak mengerti soal singkat-menyingkat ini. Saya pun mengatakan itu singkatan gaul yang berarti ‘get well soon’.

Hari ini, 30 September, istri saya merayakan ultahnya yang ke-40 dan terbetik juga keinginan mengganti status profil BB saya menjadi HBD my dear. Duh, mengapa bersentuhan dengan perangkat teknologi komunikasi ini saya atau mungkin kita jadi keinggris-inggrisan? Alasan utama karena bahasa singkatan gaul ini sudah menjadi kelaziman. Alasan kedua digunakan karena memang terbatasnya karakter untuk memuat status ataupun profil di linimasa. Alasan ketiga karena ketergesaan mengetik. Untuk itu,  saya mau berkisah sedikit.

Tahun 2010, seperti kegemaran sebelumnya, saya nongkrong di toko buku emperan yang terdapat di luar arena Frankfurt Book Fair. Ada dua buku bekas yang kemudian saya beli dan salah satunya berjudul Alphabet Soup terbitan Bloomsburry, 2004. Penulisnya Rosalind Fergusson. Dalam halaman introduction, sang editor bernama Betty Kirkpatrick menyebutkan bahwa kita sekarang memasuki era ketergesaan ketika segala sesuatu dituntut untuk diselesaikan hari ini juga dengan kecepatan tinggi.

Kondisi serba cepat dan merebaknya penggunaan telepon selular, SMS, hingga kemudian berkembang pada smartphone seperti Blackberry dan juga social media mengubah perilaku penggunaan kata-kata. Segera sebuah singkatan menjadi populer sehingga kita pun mengenal bentuk tidak lazim dalam singkatan (bahasa Inggris): YNK (‘you never know’), LOL (‘laugh over loud’), MYOB (‘mind your own business’), OTW (‘on the way’), atau BTW (‘by the way’). Pola penyingkatan kata-kata ini memang melabrak sistem tradisional dalam menyingkat kata seperti yang kita kenal dahulu.

Pergaulan hingga memasuki masa tingginya penggunaan telepon selular, tidak lepasnya jari kita memencet keypad, ledakan social media yang menggeser fungsi SMS (entah sengaja atau tidak, ada seorang teman istri saya yang menggunakan facebook layaknya SMS untuk berkomunikasi dengan suaminya :D), membuat penyingkatan kata tidak terbendung menjadi bahasa gaul yang harus dikuasai orang-orang kini jika tidak ingin bingung dalam jagat informasi yang berseliweran.

Bagaimana dengan Indonesia? Penyingkatan kata sebagai bahasa gaul sebenarnya juga ada dan populer, tetapi tidak seheboh yang terjadi dalam bahasa Inggris kini. Kita mengenal EGP (’emang gue pikirin’), SKSD (‘sok kenal sok dekat’), atau TST (‘tahu sama tahu’). Selanjutnya, tidak ada adaptasi atau pemadanan HBD (‘happy birthday’) menjadi SUT (‘selamat ulang tahun’) atau OMG (‘oh my God’) menjadi OTK (‘oh Tuhanku’)–kadang-kadang saya suka iseng menggunakan singkatan SBY (‘selamat berulang tahun ya’).

Penyingkatan kata-kata di Indonesia masih banyak berlaku secara tradisional untuk penyingkatan nama lembaga/institusi, nama event, dan hal-hal lain yang bersifat formal. Adapun model nonformal seperti yang terjadi dalam bahasa gaul (komunikasi) di dunia maya ataupun selular tidak terjadi seheboh bahasa Inggris.

Mendapatkan buku Rosalind tadi secara tidak sengaja, justru menolong saya untuk segera dapat mengartikan singkatan-singkatan tak lazim ini. Tiba-tiba di status profil BB teman saya tertulis TGIF. Apa lagi nih? Orang gaul dengan social media pasti mengerti itu singkatan dari ‘thanks God it’s Friday’. Lalu, yang satunya lagi pada bilik chat menulis HAND, ternyata maksudnya ‘have a nice day’.

Duh, memang kalau kita tidak mencicipi sup alfabet ini, mungkin bakal dianggap tidak gaul–sekadar asumsi saja. Komunikasi bisa terhambat karena memang tidak mengerti, kemudian mau bertanya jadi malu hati. Sampailah kemudian ada yang mengirim BBM (‘blackberry messenger’)… KDL (‘kasihan deh loe’)!

Ba(ha)sa Basi Bambang Trim

©2012 oleh Bambang Trim

SHARE

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here