Mengerek Citra Perusahaan dengan Buku Korporasi*)

0
513

Di dunia bisnis, apalagi bagi korporasi besar, buku bukanlah sekadar penghias perpustakaan kantor yang dapat dijadikan sumber pembanding, sumber ide pengembangan, ataupun bahan pengambilan keputusan, melainkan lebih berdaya dari itu. Sebuah buku dapat menghantarkan citra sebuah korporasi menjadi tampak bergengsi ataupun penuh dedikasi. Karena itu, buku telah menjadi sarana komunikasi korporasi yang mencitrakan intelektualitas sebuah perusahaan. Jarang ada perusahaan kelas dunia yang tidak membukukan korporasinya. Indonesia pun telah dibanjiri buku-buku korporasi, seperti Toyota, Sony, Starbuck, Yahoo, Google, Apple, dan Microsoft.

Kabar terbaru dari sebuah buku yang mencitrakan korporasi adalah peluncuran buku pemilik CT Corp, Chairul Tanjung, yang berjudul Chairul Tanjung: Si Anak Singkong. Buku ini memotret biografi seorang CT yang merupakan pengusaha dengan jejak rekam memulai dari bawah. Rentetan perjuangan CT hingga akhirnya membesarkan grup perusahaan Para yang kemudian berganti nama menjadi CT Corp memang pantas dibukukan—paling tidak untuk mengomunikasikan pesan dan nilai-nilai yang dianut CT kepada para karyawannya yang terbesar di banyak perusahaan, termasuk Trans Media. Namun, belakangan setelah peluncuran ada kekisruhan soal ghost writer buku ini yang disebabkan mungkin salah satunya perjanjian kurang jelas atau detail antara pemberi order penulisan dan ghost writer yang namanya tidak disebutkan. Soal ini tidak kita bahas di sini.

Kecenderungan penulisan buku yang dilakukan korporasi akan terus meningkat seiring dengan kesadaran para penggiat perusahaan sendiri, terutama corporate secretary atau corporate communication untuk mencitrakan perusahaan kepada publik lebih luas. Buku tetap dianggap sebagai produk yang berkesan intelek, mudah diakses siapa pun, dan akan menjadi dokumentasi sejarah yang sangat baik.

Saya melihat beberapa kecenderungan penerbitan buku korporasi itu dapat berbuah menjadi buku dalam bentuk:

  1. biografi atau autobiografi pendiri perusahaan maupun CEO perusahaan;
  2. sejarah perusahaan ataupun kisah sukses perusahaan;
  3. metode, kiat, ataupun rumusan sukses CEO;
  4. metode, kiat, ataupun rumusan sukses perusahaan seperti The Toyota Way;
  5. refleksi, peristiwa revolusioner, momentum, ataupun perubahan radikal yang terjadi pada perusahaan seperti Mutasi DNA Power House.

Kelima topik ini memang paling sering menjadi dorongan untuk membuat buku korporasi. Walaupun demikian, di luar hal itu sebenarnya banyak yang dapat dibukukan dari sebuah korporasi, termasuk bagaimana korporasi mendorong para karyawannya dapat menulis buku. Korporasi juga dapat menghimpun tulisan yang berorientasi pada stakeholders-nya. Namun, tentu diperlukan persiapan dalam menyiapkan buku-buku korporasi yang layak baca.

Kelemahan utama kebanyakan korporasi adalah dokumentasi tertulis, termasuk juga foto-foto bernilai berita. Hal inilah yang kadang menjadikan penulisan buku korporasi mengandung tingkat kesulitan tinggi karena tidak ada dokumentasi sejarah yang apik, apalagi pada perusahaan-perusahaan besar yang sudah berdiri 20-30 tahun lebih. Diperlukan energi lebih untuk mengumpulkan mosaik-mosaik informasi, misalnya dari para pendiri atau pionir perusahaan yang masih hidup.

Karena itu, penting bagi sebuah korporasi, terutama yang masih berusia muda untuk menugaskan bagian humas ataupun corporate communication perusahaan memulai usaha pendokumentasian data dalam bentuk tertulis. Data-data dapat dibuat dalam format berita, feature, dan wawancara tokoh. Presentasi-presentasi penting perusahaan juga harus ditulis ulang sebagai rekam jejak kemajuan perusahaan. Peristiwa-peristiwa penting, baik itu peristiwa yang membahagiakan maupun peristiwa buruk juga harus terdokumentasi dengan baik.

Pertanyaannya sekarang, berapa banyak korporasi di Indonesia yang membukukan kisah sukses korporasinya? Tidak banyak dan masihlah minim, termasuk juga di kalangan BUMN. Rhenald Kasali pernah menuliskan untuk Pertamina buku berjudul Mutasi DNA Power House yang diterbitkan Gramedia. Selain itu, Rhenald Kasali juga pernah dengan cantik memaparkan kisah sukses perubahan revolusioner di PT XL Axiata yang dilakukan CEO-nya Hasnul Suhaimi dalam buku Cracking Zone yang juga diterbitkan Gramedia. Rhenald Kasali memang menggunakan hasil penelitiannya tentang perubahaan, DNA perusahaan, myelin, serta terakhir cracking zone untuk mencuatkan studi kasus pada korporasi Indonesia. Hasilnya memang sebuah buku korporasi yang menarik.

Buku korporasi yang terbanyak umumnya adalah buku biografi pendiri atau pionir perusahaan yang hendak digadang-gadangkan sebagai pencitraan ataupun juga sebagai upaya berbagi pengalaman. Tentulah sangat penting di Indonesia juga terbit buku-buku yang mengulas sepak terjang CEO korporasi besar di Indonesia. Namun, kadang ada kesulitan juga karena beberapa CEO memang enggan membukukan kisahnya—entah karena merasa belum layak, atau karena menanti momentum tertentu.

Berikut contoh beberapa buku korporasi yang pernah terbit.

No.

Judul Buku

Korporasi

Jenis

Penulis

1.

Bisnis Rental Menjadi Korporasi Nasional

Cipaganti

Success Story

Pitoyo

2.

Sang Burung Biru

Bluebird

Success Stroy

Alberthiene Endah

3.

Mutasi DNA Power House

Pertamina

Sejarah dan Kiat

Rhenald Kasali

4.

Solusi Berasuransi: Lebih Indah dengan Syariah

Takaful Indonesia

Kiat

Bambang Trim

5.

Dari Monopoli Menuju Kompetisi

Telkom

Refleksi 50 Tahun PT Telkom

Ramadhan KH, dkk.

6.

Asa pun Datang di Saat Bimbang

Jamsostek

Kumpulan Kisah (Momentum 30 Tahun Jamsostek)

Gantyo Koespradono, dkk.

7.

Wirausaha Mandiri

Bank Mandiri

Kumpulan Kisah Inspiratif

Rhenald Kasali

Pengembangan Ide Buku Korporasi

Tentulah buku korporasi tidak terbatas pada menyiapkan buku biografi sang pendiri atau sejarah dan kisah sukses perusahaan. Buku korporasi juga dapat dikembangkan dengan berorientasi pada stakeholders perusahaan, seperti kumpulan kisah-kisah para pengguna produk ataupun jasa, kumpulan kisah-kisah para karyawan, ataupun kisah sejarah meluncurnya sebuah produk. Bayangkan, mungkin kita tidak tahu bagaimana sejarah mie instan Indomie sehingga begitu berjaya di dunia sampai kini. Mungkin jejaknya ada dalam biografi Liem Sio Long yang juga pernah terbit sebagai pendiri Indofood.

Korporasi yang ingin menerbitkan buku tentu juga dapat menggunakan tenaga-tenaga profesional yang menguasai teknik penulisan buku korporasi, termasuk menguasai drafting, editing, dan publishing-nya. Drafting adalah upaya awal membuat outline dan mempertimbangkan seberapa banyak bahan/data yang diperlukan untuk penyusunan buku, termasuk membuat jadwal wawancara tokoh. Dalam hal publishing, seorang penulis yang merangkap menjadi konsultan dapat menawarkan kepada korporasi beberapa pilihan:

  • self-publishing yaitu menerbitkan buku sendiri atas nama perusahaan, termasuk mencetaknya sendiri;
  • co-publishing yaitu bekerja sama dengan lembaga penerbitan yang ada dengan beberapa sistem kerja sama.

Sebuah perencanaan buku korporasi hendaknya dijadwalkan jauh-jauh hari karena paling tidak seorang penulis merampungkan pekerjaannya dalam rentang 2-3 bulan apabila bahan sudah siap. Sebuah korporasi dapat menentukan momentum-momentum yang tepat untuk peluncuran sebuah buku, apakah itu HUT korporasi, HUT pendiri atau CEO perusahaan, hari besar keagamaan, hari besar nasional, peringatan sebuah momentum penting, ataupun peluncuran produk/layanan baru.

Tujuan penerbitan buku korporasi pun nanti sangat bergantung pada kepentingan korporasi. Apakah disebarkan kepada publik dengan cara dijual melalui jejaring toko buku yang biasa ada? Apakah dijual dengan harga yang murah sehingga semua orang dapat membaca meskipun tampilannya wah? Apakah hendak dibagi-bagikan sebagai souvenir perusahaan kepada para mitra dan pelanggan perusahaan? Intinya, buku korporasi harus tepat sasaran dibaca orang dan mampu mengerek citra perusahaan karena orang pun akan paham bagaimana sepak terjang perusahaan sebenarnya. []

*) Bahan mentah Alinea Writer Incubator | Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia

©2012 oleh Bambang Trim (Book Specialist/Writerpreneur)

Owner of Dixigraf and TrimKom

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here